Cinta Oh Cinta #Part 3

CINTA HAKIKI

Adalah berhak merasa sedih
jika kenyataan ternyata tak sesuai harapan
Adakalanya hidup memang tak adil

Adalah wajar jika merasa ringkih
Saat badai kehidupan menghebat meratakan cita dan angan
Kadang harapan memang sebatas mimpi

Tentu bukan kesalahan jika merasa letih
Sebab kadang kenyataan tak menyapa keinginan
Memang hidup tak selalu pasti

Adalah manusiawi untuk merasa jengah dan interupsi
Sebab seringkali kita menganggap ketidaksesuaian sebagai kesalahan
Memang hidup adalah permainan yang mungkin dan boleh-jadi

Adalah bisa merintih perih dan mengadu nyeri
Sebab langit tak selalu cerah
Kadang ia berwarna gelap dan bercorak ngeri

Demikianlah episode kehidupan
Kadang Cinta Tuhan tak datang dalam rupa yang indah
Dan bentuk yang sesuai harap

Begitulah kadang Cinta Tuhan Usah dipertanyakan, mengapa?
Sebab Cinta sejati dan hakiki, apakah perlu dipertanyakan?

Ada saat Kau tampakan Cinta dengan rupa berjuta semerbak bunga
menelisik hati menghibur duka, menentramkan dan membuat bahagia
Ia Cinta, hanya dalam rupa yang biasa

Kadang Cinta Tuhan bagai sembilu, mengiris hati pahit laksana empedu
Namun sungguh Kau sedang ajari aku sesuatu
Ia tetaplah Cinta, dalam wajah asing dan baharu

Kita namakan yang pertama Cinta, dan yang kedua sebagai Derita
Bagi Tuhan keduanya sama saja
Supaya kita tak terlalu tak-setia

Oh Allah ya Rabbi, ajarkan aku a-ba-ta-tsa Cinbta
Sebab Cinta adalah lentera, dalam gelap dan resah jiwa
Dengannya Kau tunjukan rahasia dan makna-makna

Ya Rahman, ajarkan aku mengeja Cinta

Sebab dengannya, kemanapun kuhadapkan wajah,
yang ada indah wajahMu saja

Bapak |M. Ishaq|

Galau, Mari Terapi ^^

Salaamun’alaikum. .

Saat ini mahasiswa prodi IF-STI sedang ada pada masa-masa hektik!!

dihadang dengan jutaan Tugas Besar (hyperbol)

dan bawaannya pada galau, waaaah itu mah biasa! Pelampiasan??. . ya pelampiasan pada hal yang manfaatnya defisit!

Obati dengan Benar

Sayang sekali kan, kalau waktu terbuang secara percuma??

ayo jangan terlena dengan galau-galauan. . Segera obati dan tangani dengan benar! supaya penggunaan waktu lebih berarti

Mencari kedamaian dengan langkah yang benar!!

MUSLIF 2012

Cinta Oh Cinta #Part 2

Bismillah. .^^
Mengutip posting dari sahabat saya memaknai kata CINTA, begini:

Kalau kita suka pada seseorang karena dia MAHIR melakukan sesuatu,

    itu bukan cinta namanya tetapi KAGUM.

Kalau kita suka pada seseorang karena dia CANTIK atau TAMPAN,

    itu bukan cinta namanya tetapi NAFSU.

Kalau kita suka pada seseorang karena KAYA,

    itu bukan cinta namanya tetapi MATRE.

Kalau kita suka pada seseorang karena dia PERNAH bantu kita,

    itu bukan cinta namanya tetapi TERIMA KASIH.

Kalau kita suka MENERIMA bukanlah cinta namanya tetapi cinta haruslah MEMBERI

*
**
***

Akan tetapi, Kalau kita suka pada seseorang karena TIDAK tau mengapa,

    itu baru namanya CINTA.

***
**
*

Kalau kita suka pada seseorang karena ALLAH,

    itu baru cinta SESUNGGUHNYA.

Cinta Karena Allah


Ya, begitulah tentang memaknai sebuah Cinta.

Nah yang menjadi permasalahan, apakah kita telah mengamalkan cinta yang sesungguhnya ini?..
kalau belum, harus bagaimana?

Ada yang mau berbagi cerita kawan?. . silakan
Sungguh berbahaginya bagi orang –orang yang diliputi rasa cinta Karena Alloh (mengapa demikian?!!), karena dengan ia berlandaskan Cinta karena Alloh, segala bentuk pengorbanan Cinta yang Ia lakukan baik untuk urusan dunianya ataupun untuk urusan yang langsung kontak dengan Sang Rahman tidak akan pernah sedikitpun sia-sia.

#Menjadi catatan kisah tersendiri bagi saya pribadi, karena saya mengalami rasa Cinta yang satu ini. Cinta yang dibangun dalam ukhuwah keimanan. Ingin rasanya menyampaikan sebuah kalimat:
(“Ana uhibbikum Fillah”) secara langsung kepada mereka,

seperti yang dicontohkan para sahabat Rasul terdahulu. Tapi apalah daya, rasa malu senantiasa meliputiku. Tapi tak masalah yang terpenting dari cinta adalah action kita bukan?, buktikan bahwa kita mencintai saudara-saudara dan teman-teman kita karena ikatan Aqidah.
Teruntukmu saudara-saudaraku tecinta semoga Alloh senantiasa merahmatimu!!

Amiin…

:)

#Berharap Cinta ini abadi sampai kita semua dijumpakan di Syurga itu.

Lampu dengan Kabel

Tanya seorang anak (belum baligh), “Bu, kenapa

sih kita harus shalat, harus puasa, harus baca Al-Quran, dan harus belajar?”

Si Ibu sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia pun terdiam beberapa

saat. Ada sedikit kemarahan yang muncul dalam hatinya. Tapi ia segera sadar

bahwa yang bertanya adalah anak kecil, yang belum tahu apa-apa selain main

dan bersenang-senang.

Sang Ibu beranjak mengambil sebuah lampu yang menempel di dinding kamar

anaknya. Sesaat kemudian ia berkata, “Anakku sayang, kamu lihat lampu ini.

Ia begitu indah. Bentuknya lonjong dengan dindingnya terbuat dari kaca yang

bening. Tiap malam engkau bisa belajar, mengerjakan PR, dan nonton

televisi, salah satu sebabnya karena diterangi lampu ini.”

“Sayang, tahukah kamu mengapa lampu ini bisa menyala?” lanjut si Ibu. “Ya,

karena ada energi listrik yang berubah jadi cahaya,” jawab sang

anak. “Benar sekali jawabanmu. Lalu apa yang menyambungkan lampu ini dengan

sumber listrik tadi?” tanya si ibu lebih lanjut. Sang anak pun menjawab

dengan pasti, “Yang menyambungkan lampu dan sumber listrik adalah

kabel.” “Pintar sekali kamu,” timpal si Ibu memuji.

“Nah, sekarang kamu pasti tahu, bila tidak ada kabel pasti lampu ini tidak

akan nyala dan kamar ini pasti gelap. Bila demikian, ia tidak akan ada

manfaatnya lagi, dan kamu tidak bisa belajar dan nonton tivi.”

Sang Anak belum paham mengapa ibunya menceritakan lampu itu kepadanya. “Apa

maksud Ibu?” tanyanya kemudian.

Ibu itu kembali berkata, “Anakku sayang, Allah itu sumber cahaya dalam

hidup. Kita adalah lampunya. Ibadah yang kita lakukan menjadi kabel atau

tali penghubungnya. Ibadah dapat menghubungkan antara Allah dengan manusia,

tepatnya antara Allah dengan kita. Bila tidak mau beribadah, hidup kita

akan gelap. Kita akan tersesat dan takkan berguna sedikit pun, seperti tak

bergunanya lampu yang tak bercahaya.” Ibu itu melanjutkan, “Jadi, shalat,

bersedekah, membaca Al-Quran, ataupun belajar adalah kabel yang akan

menghubungkan kita dengan Allah.”

(Cuplikan dari SMS Romi Hardiansyah)

Perkara yang disukai Pria dari Wanita

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya.

Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar.

Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria shalih tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini.

1. Karena akidahnya yang Shahih

Keluarga adalah salah satu benteng akidah. Sebagai benteng akidah, keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah segala-galanya dan seluruh anggota keluarga tidak mungkin selamat dunia-akhirat. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri shalihah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang.

Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqarah: 221)

2. Karena paham agama dan mengamalkannya

Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki shalih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung. (Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga menegaskan, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang shalihah. (Muslim, Ibnu Majah, dan Nasai).

Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita shalihah.

3. Dari keturunan yang baik

Rasulullah saw. mewanti-wanti kaum lelaki yang shalih untuk tidak asal menikahi wanita. “Jauhilah rumput hijau sampah! Mereka bertanya, Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah?†Nabi menjawab, “Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk. (Daruquthni, Askari, dan Ibnu Adi)

Karena itu Rasulullah saw. memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita-wanita) dan nikahilah (wanita-wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan), kata Rasulullah. (Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi).

Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena seorang lelaki itu mungkin menyerupai paman-pamannya, begitu perintah Rasulullah saw. lagi. Nikahilah di dalam “kamar†yang shalih, karena perangai orang tua (keturunan) itu menurun kepada anak. (Ibnu Adi)

Karena itu, Utsman bin Abi Al-Ash Ats-Tsaqafi menasihati anak-anaknya agar memilih benih yang baik dan menghindari keturunan yang jelek. “Wahai anakku, orang menikah itu laksana orang menanam. Karena itu hendaklah seseorang melihat dulu tempat penanamannya. Keturunan yang jelek itu jarang sekali melahirkan (anak), maka pilihlah yang baik meskipun agak lama.

4. Masih gadis

Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya.

Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit, begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi.

Tentang hal ini Aisyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan menggembalakan untamu?†Nabi menjawab, Pada yang belum pernah digembalai. Lalu Aisyah berkata, Itulah aku.

Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada kasus seorang sahabat bernama Jabir.

Rasulullah saw. sepulang dari Perang Dzat al-Riqa bertanya Jabir, “Ya Jabir, apakah engkau sudah menikah? Jabir menjawab, Sudah, ya Rasulullah. Beliau bertanya, “Janda atau perawan? Jabir menjawab, Janda. Beliau bersabda, Kenapa tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya? Jabir menjawab, Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang dapat mengurus mereka.†Nabi bersabda, Engkau benar, insya Allah.

5. Sehat jasmani dan penyayang

Sahabat Maqal bin Yasar berkata, Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya? Beliau menjawab, Jangan. Selanjutnya ia pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw. tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain. (Abu Dawud dan Nasai).

Karena itu, Rasulullah menegaskan, Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain. (Abu Daud dan An-Nasai)

6. Berakhlak mulia

Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Muluk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.

7. Lemah-lembut

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Aisyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini. Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.

8. Menyejukkan pandangan

Rasulullah saw. bersabda, Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya. (Abu daud dan An-Nasai)

Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya, begitu kata Rasulullah saw. lagi.

Maka tak heran jika Asma binti Kharijah mewasiatkan beberapa hal kepada putrinya yang hendak menikah. Engkau akan keluar dari kehidupan yang di dalamnya tidak terdapat keturunan. Engkau akan pergi ke tempat tidur, di mana kami tidak mengenalinya dan teman yang belum tentu menyayangimu. Jadilah kamu seperti bumi bagi suamimu, maka ia laksana langit. Jadilah kamu seperti tanah yang datar baginya, maka ia akan menjadi penyangga bagimu. Jadilah kamu di hadapannya seperti budah perempuan, maka ia akan menjadi seorang hamba bagimu. Janganlah kamu menutupi diri darinya, akibatnya ia bisa melemparmu. Jangan pula kamu menjauhinya yang bisa mengakibatkan ia melupakanmu. Jika ia mendekat kepadamu, maka kamu harus lebih mengakrabinya. Jika ia menjauh, maka hendaklah kamu menjauh darinya. Janganlah kami menilainya kecuali dalam hal-hal yang baik saja. Dan janganlah kamu mendengarkannya kecuali kamu menyimak dengan baik dan jangan kamu melihatnya kecuali dengan pandangan yang menyejukan.

9. Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban

Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki shalih adalah qanaah. Bukan saja qanaah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al-Quran, tetapi juga qanaah dalam menerima pemberian suami. Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia taat bila engkau menyuruhnya. Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, “Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.

Kata Rasulullah, Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya. (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari Aisyah r.a.)

Tapi, Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran, begitu firman Allah swt. di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, “Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan. (At-Thalaq: 6)

10. Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa

Istri yang shalihah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, Ketika turun ayat walladzina yaknizuna¦ (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambilâ€. Rasulullah saw. kemudian bersabda, Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.â€

11. Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya

Nailah binti Al-Fafishah Al-Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini?†Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya, jawab Nailah. Tapi ketuaanku ini terlalu renta. Nailah menjawab, Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah saw. dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.

12. Pandai bersyukur kepada suami

Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya.†(An-Nasa’i).

13. Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat

Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.

Rasulullah saw. menemui Ummu Salamah dan berkata, Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.

Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, “Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.

Subhanallah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang shalih.

Sumber dari Kang Yusuf

|| Istimewanya Sahabat Ali ||

Pemuda itu hanya termangu diam disamping pohon kurma ditepi padang pasir di kota madinah sana. Betapa ia tergoncangkan hatinya ketika dia tahu bahwa wanita itu akan dipersunting oleh sahabat seniornya sendiri yang bernama Abu Bakar. Seorang sahabat yang tidak diragukan lagi kesetiaannya pada rasul. Dialah sahabat senior yang menemani rasul saat berhijrah dan pria soleh itu pula yang menyumbangkan seluruh hartanya untuk Islam ini tanpa sisa sedikitpun. Seharusnya pemuda itu bahagia saat itu. Karena wanita yang dikaguminya bisa mendapatkan lelaki se-sholeh seperti Abu Bakar.

Ia mencoba untuk tetap tersenyum. Namun tetap saja, dia tidak tahu mengapa hatinya tetap mencoba menolak dan tidak mau selaras. Sekali lagi, ia coba yakinkan pada dirinya kembali, “Inilah sebuah perlombaan kebaikan, siapa yang duluan, maka ia harus mempersilakannya”. Sejak dari dulu seharusnya ia sadar harus menepis apa yang dirasakannya itu, cukuplah hanya sebatas kagum kepada wanita yang bernama Fatimah Binti Rasulullah itu. Namun semua belum terlambat, perasaan kagum itu akhirnya ia simpan jauh didalam hatinya. Agar orang lain tidak akan pernah tahu apa yang ia rasakan. Sampai-sampai setan pun tidak dapat mengetahui hal itu. Namun ia tidak tahu mengapa perasaan itu semakin kuat dan terus menderu, seakan-akan mendorong dia untuk mengungkapkan kepada wanita sholehah itu jika Allah memberikannya kesempatan yang kedua.

Tapi untunglah Allah masih menjaga hatinya. Ia sadar benar, dengan mengungkapkan isi hatinya artinya dia harus siap untuk meminangnya. Tidak hanya sekedar rayuan kata-kata manis dan indah semata, tetapi sebenarnya disana harus ada keberanian dan ada tanggung jawab. Namun ia tahu bahwa ia hanyalah lelaki yang miskin papa, bukan berasal dari keluarga yang kaya. Bagaimana mungkin ada orang tua yang mau menerima menantu seperti dia. Adakah orang tua yang rela memberikan anaknya kepada seorang pemuda seperti dirinya? Dan yang lebih meyakinkannya lagi, apakah ia pantas mendampingi seorang wanita ahli surga yang juga putri dari orang yang sangat dikasihinya. Ali terlalu rendah hati. Akhirnya ia putuskan untuk menyimpan didalam hatinya saja. Cukup dia dan Allah yang tahu. Apalagi sekarang sudah ada Abu Bakar, sekarangpun ia bisa tenang karena ada lelaki yang lebih siap dan lebih baik darinya yang meminang bidadari dunia itu.

Dialah Ali Bin Abi Thalib. Seorang pemuda yang cerdas dan bahkan Nabi pun memuji karena kecerdasannya itu sendiri. Butiran pasir terus beterbangan dengan indahnya dipadang pasir tempat pemuda itu merenung. Tak berapa lama kemudian, tersiarlah kabar bahwa lamaran Abu Bakar ditolak oleh rasul. Entah seperti ada setetes embun yang menyejukan hatinya. Ternyata harapan itu masih ada. Maka dia mencoba merekatkan kembali puing-puing harapannya kembali untuk membangun nyali keberanian dan semangatnya lagi untuk bertemu sang rasul. Ia pikir setiap manusia memang layak mendapatkan kesempatan kedua.

Tapi ternyata ia terlambat. Ada seorang sahabat senior kembali yang mendahului geraknya untuk meminang wanita solehah itu. Dia bernama Umar Bin Khatab. Ali menelan kepahitan sekali lagi. “Apa yang kurang dari Umar?” Ia adalah lelaki yang sangat kuat imannya bahkan sampai setan yang bertugas menggodanya pun sangat takut dengannya. “Mungkin dialah orang yang dicari rasul”, kata hatinya. Sebagai seorang manusia, ia mencoba merasionalisasikan pikirannya kembali. Ya, sebenarnya itu dia lakukan agar ia bisa tenang didalam hatinya untuk tetap dapat berdzikir ikhlas kepada Allah. Tidak ada alasan untuk menolak lelaki kuat seperti diri Umar Bin Khatab.

Tapi lagi-lagi Allah berkehendak lain. Lamaran Umar pun ditolak oleh rasul. Entah si cerdas itu setengah percaya atau setengah tidak, tapi yang pasti itulah yang terjadi. Siapakah sebenarnya yang rasul cari. Apakah keimanan sang Abu Bakar dan Umar Bin Khatab beserta kekayaannya masih belum cukup bagi rasul?

Didalam kamarnya, wanita itu masih bisa tenang dan berpikir. Fatimah belum mengerti maksud ayahnya. Sudah dua lelaki soleh yang ditolak. Fatimah tidak tahu apakah ayahnya dapat membaca isi hatinya atau tidak. Ya, sebenarnya Fatimah saat ini pun memendam decak-decak kagumnya kepada seorang pemuda soleh diluar sana. Seorang pemuda yang sangat luar biasa keimanannya, yang lidahnya terus dibasahi oleh dzikir-dzikir cinta kepada Allah. Saat ini, seandainya dia mau, mungkin ia dapat dengan mudah mengisahkan perasaannya pada ayahnya yang sangat menyayanginya. Namun karena kesucian dirinya, sepenuh jiwa ia berjihad menahan perasaannya kepada pemuda yang bernama Ali Bin Abi Thalib itu.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

Disekitar padang pasir sana masih sering terlihat Ali yang sedang merenung, namun Ali tampaknya kini sudah lebih kokoh. Walaupun ia sudah tahu bahwa Umar kini mencoba meminang diri Fatimah. Baginya, kecintaan kepada seorang insan tidak akan bisa mengalahkan rasa cinta murninya kepada Allah. Karena Allah mudah sekali membolak-balikan hati seorang hambanya. Maka tak perlulah ia terlalu gusar, karena satu yang ia fahami. Bahwa kematian, rezeki dan pasangan hidup telah diputuskan sebelum ia lahir ke bumi ini oleh pencipta dirinya.

Tampak sekawanan pemuda Anshar itu tergopoh-gopoh menuju ketempat Ali berada. Raut wajah mereka tampak senang sekali seakan-akan ingin menyampaikan kabar gembira kepada Ali. Ali mengira bahwa mereka akan menyampaikan kabar gembira bahwa rasul telah menyambut seruan Umar Bin Khatab untuk mendampingi wanita itu. Kalaupun benar kabar itu, kini ia telah siap menerima kabar itu.

“Rasul menolak pinangan dari Umar, Ali”, teman Ansharnya berkata kepada dirinya. “Ali, mungkin engkaulah yang dinanti sang Rasul”, temannya kembali menegaskan. Ali terdiam sejenak. Mungkin ia bisa senang saat ini, tapi ia masih bertanya-tanya, siapakah sebenarnya yang dicari lelaki agung itu, apakah benar dirinya. ”Ah tak mungkin”, keras hatinya. “Engkau adalah pemuda yang soleh dan selalu menjaga dzikirmu kepada Allah, mungkin rasul sangat menginginkanmu datang kepadanya”, temannya mencoba terus mendorong.

Ada celah-celah langit hatinya yang bersinar kembali, setelah awan ketidakyakinan menutupi relung jiwanya. “Inikah kesempatan keduaku?” Ali mencoba memantapkan keyakinannya kembali. Saat itu pula Ali belum yakin apakah ia akan memenuhi celah langit didalam hatinya. Namun berkat dorongan teman-teman dan kemantapan hatinya akhirnya ia temui lelaki agung itu, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam.

Suasana rumah rasul hening untuk sesaat. Mungkin saat itulah yang paling mendebarkan didalam hidup Ali Bin Abi Thalib, seorang pemuda yang kini mencoba meminang diri Fatimah Az Zahra. Fatimah pun dengan segenap ketegangannya berada dibalik tabir kamarnya mendengar secara sayup-sayup percakapan mereka berdua. Tiba-tiba mulut rasul mulai mengeluarkan kata-kata “Ahlan wa Sahlan wahai Ali”. Kata-katanya cukup sampai disana. Tidak kurang dan tidak lebih. Apakah itu pertanda Iya atau Tidak itu masih belum jelas. Makna kalimat yang begitu luas seperti lautan tadi membuat Ali disana dan Fatimah didalam kamarnya tenggelam pada kebingungan.

Lambat-laun akhirnya Ali faham maksud dari sang rasul. Namun kini ia sampai pada pertanyaaan yang sangat menohok tenggorokannya. “Apakah mahar yang kau bisa berikan Ali kepada anakku Fatimah?”. Suasana menjadi hening kembali. ia coba merangkai-rangkai alasan untuk tidak menjawabnya secara langsung.

Meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Akhirnya dia hanya bisa berkata bahwa hanya baju perang tua dialah yang dapat ia jadikan mahar untuk meminang wanita yang dikaguminya itu. Dan dengan ekspresi senangnya, rasul pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ali.

Dan akhirnya dua tali kekaguman yang tak tersampaikan itupun mampu terlilitkan dengan kuat dan rapi. Siapa yang mengikatnya?bukan orang tuamu, bukan sahabatmu dan memang bukan manusia yang melilitkannya. Tetapi Allah lah yang melilitkan ikatan cinta suci itu. Inilah kisah kesabaran dan ketegaran Ali, kawan. Kisah ini terus menjadi inspirasi untuk setiap insan beriman yang ingin menjaga hatinya. Betapapun kamu kagum kepada seseorang, Allah pasti tahu itu. Maka izinkanlah hatimu itu untuk menjaganya kawan.

note di ambil dari sahabatku

Oleh pengagum Ali Bin Abi Thalib.

# Urgensi Interaksi Pembina #


Bismiilaahirrohmaanirrohiim!!!

Urgensi Interaksi diantara Para Pembina Generasi Baru!! (Kakak Pembina PAS)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’ ”. (Q.S An-Nur: 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan ….’” (Q.S An-Nur: 31).

Mari kakak, sejenak mentadaburi hikmah dibalik perintah yang tetapkan untuk kita semua. Dari kandungan firman Allah diatas sudahlah nampak jelas bahwa aturan Islam ini benar-benar luar biasa memperhatikan keinginan kita (Muslim). Keinginan kita yang senantiasa ingin terjaga dari musibah, malapetaka di akhirat kelak, keinginan kita untuk menjaga hati-hati kita dari kemusyrikan hati, sehingga hati kita hanya terpaut pada sang Pemberi Cinta.

Sudah banyak kisah, sejarah ataupun pengalaman yang telah terekam bahwa rasa Cinta itu dimulai dari pandangan, bersyukur kalau pandangan yang digunakan adalah pandangan hati. Bagaimana kalau pandangannya adalah pandangan syahwat? Bisa brabe kan jadinya?? Apalagi jika ditambah dengan kondisi Iman kita yang senantiasa naik-mudun,. Bersyukur kalau kondisi imannya sedang Up, kondisi yang masih bisa berfikir secara rasional membolak-balik hati agar senantiasa kembali pada Jalan yang benar. Bagaimana jikalau ujiannya itu menghadang dikala Iman kita sedang Down? Bisa-bisa kita menjadi budak Syahwat yang kita buat sendiri.

Huff, benar-benar berat ya kaka pengamalan dari perintah Allah yang satu ini. Tapi mau tidak mau kita harus mengamalkannya dalam kehidupan kita karena kita telah berniaga (bertransaksi dengan Syahadat kita) untuk senantiasa taat pada Allah SWT.

Mari kita lihat kondisi Riil yang ada di lingkungan kita sekarang ka, minimal lingkungan PAS tempat kita melakukan kegiatan. Kalau diperhatikan sedikit teliti masih banyak ditemukan interaksi diantara kaka-kaka Pembina yang melampaui. Apapun bentuknya, baik bercanda yang berlebihan, pembicaraan yang berlebihan sampai ngalor-ngidul tak karuan, dan yang lainnya yang telah kaka lihat secara nyata.

Pandangan ini pada umumnya berlaku untuk semua Nisaa ataupun Ikhwan, termasuk orang-orang yang gaul-gaul (Cowok Cewek gitu). Kecuali beberapa kondisi, diantaranya:
1. Tidak sengaja saling memandang
2. Membicarakan ilmu atau mengajar/ belajar
3. Melakukan jual beli atau perniagaan
4. Melakukan pengobatan
5. Melamar

Sedikit melirik ke dalam KOTIK (Kode Etik) PAS dijelaskan mengenai batasan hijab, sebagai berikut:
1. Pembina putra dan putri dilarang berkhalwat
2. Semua pembina wajib menutup aurat di muka umum dan memakai pakaian yang sopan
3. Pembina putra dan putri diharuskan menjaga hijab
4. Pembina putra wajib mnejaga hijab terhadap adik putri yang menjelang baligh (kelas 5-6 SD) demikian juga sebaliknya (pembina putri)
5. Semua pembina diharuskan saling mengingatkan dan menjaga pembina lain untuk tidak berprasangka buruk
6. Kakak putra dan putri non muhrim tidak bersentuhan secara sengaja
7. Setiap kakak wajib menjaga hati dan pandangan
8. Kakak putra dan kakak putri harus menjaga jarak secara fisik dalam berinteraksi.

Kalau dikaji ulang lagi, rasanya lumayan udah lengkap gambaran yang dipaparkan pada kotik. Tinggal sedikit paksaan diri untuk kita dalam merealisasikan aturan-aturan diatas. Bagaimana kaka? Ada yang keberatan?

Lalu bagaimana dengan pelaksanaan rapat/ Syuro? Baik rapat yang dilakukan secara besar-besaran seperti embun pagi, rapat akbar, ataupun rapat kecil seperti rapat LT, rapat Divisi. Berikut akan dipaparkan etikanya:
• Kaka Putra dan Putri tidak bolah duduk saling berhadapan (usahakan saling menyamping)
• Tidak memanjangkan urusan
• Diupayakan ada hijab
• Khusus untuk Kaka Putri, agar tidak melembut-lembutkan sura maupun bersuara manja.

Maka dari itu, mari kaka, kita sama-sama mengamalkan Perintah Allah diatas dengan hati yang ikhlas, mulai dari diri kita, mulai dari lingkungan kecil kita (PAS, Rumah/ Kost, Kampus), dan mulai dari sekarang juga. Jangan lupa untuk saling member peringatan (Mengingatkan diantara sesama kaka Pembina) karena sesama muslim adalah Saudara yang harus dicintai.

Ka Salim’54
www.akhisalim.wordpress.com
BALITBANG PAS