Pacaran Islami?? (What Is It??)

sebenarnya saya tidak terlalu minat, menuliskan hal ini di blog. Namun, saya tergeletik dengan tulisan sahabat saya yang bercerita bahwa masih banyak orang yang menganggap bahwa pacaran islami itu ada.Ditambah melihat teman2 ana yang awam masih saja melakukannya. Maka tertulislah tulisan ini. Moga bisa sedikit menjelaskan bahwa memang pacaran islami itu ada ! tentu setelah perjanjian yang kuat itu diucapkan.

***

sebagai pembuka, izinkan saya mengutip beberapa paragraf dari buku “serial cinta” karangan ustadz anis mata.

Lupakan ! lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai ke pelaminan, tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis ini yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. (paragraf 1)

bagitulah cinta tersurat di langit kebenaran. bahwa karena cinta jiwa harus berujung pada sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu : jiwa dan raga. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara. (paragraf 2)

2 paragraf dari ustad anis mata, saya rasa sudah cukup menjelaskan, kalimat yang saya katakan sebagai pembuka di awal. Pacaran islami, hanya ada setelah akad yang kuat itu diucapkan. Karena sungguh, sebelum akad itu terucap maka sentuhan fisik adalah haram hukumnya.

janganlah tertipu dengan kalimat kalimat ” pacarku islami lho, ia sama sekali tidak mau pegang tangan aku”. ” kerjaannya ingetin aku buat ngaji, dan qiyamul lail terus”. ” kalau dia ngasih hadiah, pasti buku-buku tentang islam”. dan seribu “model” pacaran islami lainnya.

hufff.. astagfirullah.. betapa kalimat-kalimat itu bathil dari awal. Cinta jiwa tanpa sentuhan fisik hanya akan membawa kesengsaraan bagi jiwa. Karena Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara. Dan ini adalah fitrah. Sunnatullah yang berlaku sepanjang masa dan zaman. Kebenaran ilmiahnya sejajar dengan kepastian buah yang jatuh dari pohonnya pasti akan jatuh ke bawah.

Dan sungguh, pesona fisik itu hanya akan halal dinikmati, setelah akad yang kuat diucapkan! tidak ada cara lain. Maha suci Allah yang melarang perbuatan zina dengan kata-kata “janganlah kamu mendekati zina”. Ya pilihan katanya adalah mendekati, bukan melakukan. Karena tidak mungkin seseorang akan benar-benar berzina dalam arti harfiahnya, bila tidak ada pendekatan terhadap aktivitas terlaknak itu terlebih dahulu.

Dan benarlah rasulullah, ketika bersabda ““Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan, zinanya memukul. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti atau tidak mengikuti.” [Sahih Muslim, hadis ke 2282]. Jika hati yang ingin dan rindu terhadap pesona fisik dan jiwa lawan jenis yang belum halal termasuk zina. Maka apalah lagi yang bisa dijadikan justifikasi untuk membenarkan “pacaran islami” sebelum akad !?

Semoga Allah, selalu menjaga tiap anggota tubuh kita dari zina. Dan semoga Allah menjadikannya indah tepat pada waktunya.

Referens,,,

Kalaeut Kanyaah pun “aki”

Bismillah,,

Dekapan itu mulai menjauh
Mungkin raga tak akan sempat lagi
Untuk bersua di dunia ini
Tapi kasih sayangMu yang telah Engkau titipkan pada beliau
Sangat terasa indah
Akan senantiasa melekat
Pada setiap hela nafasku

Teringat kembali pada akhir ramadhan tahun ini
Suara itu, , ,
Mungking terakhir kalinya aku mendengarnya
Posisi shalat itu, , ,
Mungkin yang terakhir pula aku lihat
Dari sela jendela yang aku lap
Idul fitri kemarin

Aku sempat merasakan kedamaiannya
Meskipun sejenak
Dari lantunan ajakan amar ma’ruf
Yang terucap dari beliau, meski waktunya yang tak menentu
Karena sakit ingatan yang dialaminya

Ya Alloh, Ya Gofur…
Hamba mohon jadikan masa sakit beliau sebagai kifarat bagi beliau
Untuk menghapus dosanya
Wujudkan keinginannya untuk pulang ke rumahnya terlaksana
Rumah yang penuh kedamaian (Barzah yang penuh cahyaMu)
Ya Rabb,,
Hamba mohon padaMu
Ampuni segala dosanya
Jadikan beliau sebagai salah satu penghuni jannahMu
Sebagai harapan terakhir,
Kumpulkan kembali kami di SyurgaMU nanti
Amiin
Allohummagfirlahum wa’afihi wafu anhum

‘‘Kanggo apa (pun aki) anu ku sim kuring dipikareueus
Hatur nuhun pa perkawis sumadaya kanyaah anu parantos digolontorkeun ka sim kuring, doa anjeun nu ngalaket dina sanubari sinareng wasta nu estuning saena, saestuna sadaya doa sakedahna mulih deui ka jalmi anu nyanggakeun doana, pamugi apa langkung dipikanyaah ku Alloh.. Hapunten abdi teu tiasa ngabales budi,, mung doa nu tiasa ku simkuring di sanggakeun, pamugi kadeudeuh sinareng Rahmat Alloh salanggengna ngocor kanggo apa’’

Dengan setitik ikhlas dipeninggalan kenangan indah
Ditemani lantunan Al-Mulk dan Yaasin
22092011-19.00 3hari sblm 20th berlalu
Aceng Salim

Nilai Kehidupan ^^

Inilah dia nilai kehidupan,,!!
Nilai kehidupan seseorang bergantung pada presepsi nilai waktu dalam pikirannya. tidak kurang tidak lebih. Jika waktu yang Allah berikan ia presepsikan untuk diisi hanya untuk dirinya, keluarga atau kelompoknya maka itulah nilai kehidupannya : Kehidupannya sendiri.

Sebaliknya jika nilai waktu hidupnya ia presepsikan bukan hanya untuk kehidupannya, keluarga, atau kelompok, maka nilai kehidupannya bergantung seberapa luas ia mempresepsikan waktu hidupnya.

Maka Rasulullah mendunia, karena beliau mempresepsikan waktu hidupnya untuk berdakwah kepada seluruh manusia, menembus ruang dan waktu.

Maka Thomas Alfa Edison mendunia, karena beliau mempresepsikan waktu hidupnya untuk bermanfaat. “Menerangi” sebanyak mungkin orang di dunia

Maka Habibie, mengIndonesia, dikenal sebagai bapak teknologi Indonesia, karena beliau mempresepsikan hidupnya berbakti untuk Indonesia.

mari belajar, untuk bermanfaat bagi sebanyak-banyan orang

|orang yang terbaik diantara kamu, adalah orang yang paling banyak manfaatnya

Sumber : taufiqsuryo.wordpress.com

Satu Langkah dari “Kepala Dua”

Bismillah Ya Rohman Ya Rohiim,,
Masya Alloh, tak terasa nafas seperlima abad itu telah berlalu
Kini genap sudah tiba angka 21 itu
Masa-masa remaja terus kutinggalkan perlahan
Masa-masa emas anak-anak telah jauh kusimpan sebagai experience yang tak tergantikan

Ya Allah, sudah selayaknya hamba bisa berlaku dewasa
Mulai untuk lebih mandiri
Mulai untuk berbenah diri untuk mengemban berbagai amanah yang kian hari semakin berat
Mulai menghilangkan sifat egois
Karena saya bukan sosok yang ada di lembaran masa lalu lagi

Entah harus bagaimana diri ini menanggapinya,
Bahagia atau bersedih??
Bahagia karena Allah masih memberi kesempatan untuk tetap hidup di bumi-Nya,
Atau justru bersedih
Karena waktu yang telah dihabiskan kemarin tak banyak memberikan manfaat untuk kebaikan dien-Mu
Tak tau harus menyesal atau bersyukur?
Menyesal karena tak mampu menjalankan amanah waktu dengan baik
Atau bersyukur
Karena Allah masih mengizinkanku untuk berusaha melakukan apa yang bisa kulakukan
Tak mengerti harus bagaimana
Gabungan rasa itu membuatku kalut

“berharap Allah selalu menyayangiku, senantiasa memberikan hidayah padaku untuk terus berada di jalan lurus itu (jalan yang dijanjikan Allah dalam Al Quran), mengumpulkanku dengan orang-orang yang shaleh selama di dunia ini berlanjut ke negeri akhirat nanti”.
Semoga Allah mengampuni semua waktu yang tersia-siakan
Semoga Allah merahmati semua waktu yang berguna

Ucap syukurku Ya Allah,
terima kasih atas nikmat dan hidayah yang Engkau berikan beberapa minggu lalu,
hati terasa lebih tenang, dan semangat untuk berbagi (dakwah) pun muncul kembali
setelah sekian lama tertidur..

Jazakalloh Akhi, ukhtinya juga
Semoga Alloh merahmati kita semua,,
Semangat terus untuk menularkan semangat dakwahnya!!

Hayu salim,, mulai rapikan lagi benahan diri untuk masa depan yang lebih bermanfaat…

Minggu,250911
Penghujung tahun ke dua puluh
A. Salim

Ta’aruf Yu…..?

Bismillaahirrohmaanirrohiim,,
Alhamdulillah, segala rahmat dan hidayah hanya milik Allah Azza Wajala..
Hamba senantiasa berlindung atas segala kelalaian dan kedzoliman diri ini dengan Lindungan dan naungan Rahmat Nya, amiin

“Tak kenal maka Ta’aruf”
Begitulah pepatah yang PAS untuk mengawali perkenalan kali ini,,

Pada kesempatan kali ini ana mau share mengenai makna atau filosofi nama yang telah menjadi gelar ana sejak lahir sampai sekarang, nama yang menjadi identitas diri, pembeda diri ini dengan orang lain. Pentingkah hal ini?.. menurut ana lumayan penting, karena nama bukan hanya sebuah gelar formalitas saja, tapi nama juga merupakan sebuah doa dan kasih sayang Orang Tua (Bapak dan Mamah) kepada kita khususnya ana.

Nah, pasti ada yang belum tahu kan nama ana yang sesungguhnya?,, (Maklum rada sering pakai nama samaran). Hehe, , Tapi jangan dulu suudzhan, bukan ana bermaksud teu narimakeun kanyaah kolot kalau istilah sundanya mah, tapi sebagai pemoles pamantes saja. Mengenai maknanya tentu tak kalah lebih indah dari yang aslinya. Saya sangat bangga dengan nama asli yang orang tua berikan, saya sangat merasa dekat ketika saudara memanggil namaku…

Namaku:
Aceng adalah panggilan akrab ana di keluarga, ini adalah nama kecilku, mengapa dikatakan sebagai nama kecil?. . karena asalnya dari kata Ceng yang artinya panggilan kasih sayang untuk anak kecil (Alhamdulillah ya, ana juga pernah menikmati masa-masa kecil yang indah dulu,hehe). Kata ini setara dengan kata-kata sapaan lain yang benar-benar nyunda banget, diantaranya ujang, asep, acep, cecep,dll. Hanya saja kata ini sudah jarang digunakan saat ini, makanya orang yang namanya sama dengan ana rata-rata usianya udah bapak-bapak,hmm. . tapi tak apalah menjadi seorang Aceng yang termuda diantara sejuta Aceng yang ada di dunia ini.
Salim adalah panggilan akrab ana di kalangan aktivis, kenalan baru dan kenalan jauh (termasuk saudara-saudaraku yang sama-sama berjuang dan saling mengingatkan di jalan Allah), Salim ini diambil dari bahasa arab yang artinya keselamatan (berharap Alloh memberkan keselamatan pada seorang Manusia Kecil ini beserta orang-orang bersamanya yang sama mencintai Engkau, amiin). Panggilan ini bisa dibilang panggilan besarnya, karena bertolak dari kata pertama di atas,hehe

Nama samaran pertama yang pernah ana gelar adalah ASYAL (panggilan akrab kawan-kawan semasa sekolah dulu), rasanya dekat banget kalau mereka panggil nama ana dgn kata tersebut, ASYAL itu masih nama asli kok,, hanya lebih disingkat yaitu dari Aceng Salim, sedikit lebay ya,, mohon dimaklum ya, lagi masa-masa galaunya tuh,hehe
Nama samara kedua adalah SAKATA, awalnya terinspirasi dari Akhi Ginan yang punya nama samaran tersebut, beliau adalah salah satu teman yang sudah berkali-kali membuat diri ini merasa malu di hadapan Alloh,, kawan seusia tapi sudah jauh lebih matang dan kokoh prinsip hidupnya,, hmm tak mau kalah, ana jadi kembarannya dulu, supaya bisa mengejar ketertinggalan. Syukron akhi sudah menjadi inspirator selama tinggal di asrama SALMAN. Eit-eit,, hati-hati SAKATA ini saya gelarkan pada nama gaulku bukan sembarang nama, tapi kata ini punya makna yang COCOk banget dengan itikad kehidupan ana,, dimana arti SAKATA = DIAM (berharap bisa terdiam dalam menahan hawa nafsu, amarah dan semua perilaku Mazmumah) dan tetap GAUL di lingkungan yang indah, baik dan penuh lantunan Asma-Nya.

Di ruangan belajar,21092011
2 minggu terakhir bulan kelahiran
Tersenyum syukur atas anugrah nama indah yang kusandang

Power of Tahajud

Shalat tahajud , shalat pada tengah malam, dikala orang-orang lain sedang tertidur lelap, sungguh terasa nikmat. Berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudlu ditengah rasa terkantuk-kantuk sembari diiringi bisikan syaitan untuk tidur lagi sungguh perjuangan yang berat. Namun, keinginan kuat dan dan kerinduan untuk berbicara dengan Tuhan pada malam hari mengalahkan semua godaan tersebut.

Mohonlah permintaanmu setelah shalat tahajud, insya Allah Tuhan mendengar dan mengabulkan. Semoga dengan membaca pengalaman orang-orang yang selalu iklhas menjalani hidup dan selalu rutin shalat tahajud dapat memperkuat tekad kita untuk selalu menegakkan shalatul lail ini. Insya Allah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bantuan Itu Datang Setelah Shalat Tahajud

Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/16694/29/04/2011/bantuan-itu-datang-setelah-shalat-tahajud.html

Hidayatullah.com–Sore menjelang maghrib beberapa hari lalu, istriku terlihat resah. Beberapa kali mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. Raut wajahnya tampak kalut. Karena penasaran, saya pun bertanya kepadanya. “Ada apa toh umi. Dari tadi ko terlihat bingung?”.

“Anu, Abi. Beras di dapur sudah habis. Bingung besok enggak ada yang dimasak,” jawabnya sambil menunjukkan karung beras yang sudah kosong melompong.

Kekhawatiran istriku bisa dimaklumi. Pasalnya, jika besok tidak ada beras yang dimasak, maka tiga belas anak yayasan yang kami asuh terancam bakal tidak makan. Itu berarti, mereka akan berangkat sekolah dengan perut kosong.

“Umi tenang saja, ya. Meski beras sudah tidak ada, tapi kita masih punya satu malam untuk shalat tahajud dan meminta kepada Allah,” kataku menenangkan dengan penuh kenyakinan.

“Iya abi, umi yakin. Semoga saja Allah yang Maha Pemberi rezeki berkenan membantu kita,” harapnya meski kekalutan masih tergambar di wajahnya.

Malam harinya, pukul 2.30 dini hari saya dan istri bangun. Sekitar sepuluh menit berwudhu dan memakai pakaian shalat. Setelah itu membangunkan anak-anak yang sedang tidur pulas. Cukup sulit juga membuat mata mereka melek. Meski sudah dipukul pelan dengan sajadah dan kata-kata “Shalatul lail” berulang kali, tetap saja mereka tidak bangun-bangun.

Parahnya lagi, bila ada yang sudah bangun, tak jarang yang tidur lagi. Cukup lama memang agar mau membuka mata mereka melek dan langsung mengambil air wudhu. Mungkin karena masih kecil-kecil jadi sulit dibangunkan. Tapi, setelah sekitar 15 menit dan beberapa kali dibangunkan, akhirnya mereka pun semua bangun.

Sembari menunggu mereka siap-siap, saya dan istri shalat lebih dulu. Biasanya, mereka akan menyusul shalat. Dalam suasana syahdu di sepertiga malam itu saya pun berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Kedua tangan kutengadahkan ke langit. Istri dan anak-anak mengamini meski dengan mata merem-melek menahan kantuk.

“Ya Allah, Engkau Maha Kaya. Berilah rezeki yang halal dan berkah untuk kami ya Allah. Kami tidak memiliki apa-apa kecuali dari-Mu. Jika ia ada di langit, turunkanlah, jika di bumi keluarkanlah, jika kotor sucikanlah. Terdengar suara amin para santri. Air mataku meleleh.

Subhanallah. Pagi sekitar pukul 10.00 tiba-tiba datang seseorang perempuan membawa empat karung beras. Entah tahu dari mana, tapi kata perempuan itu ia sengaja mencari yayasan di daerah itu, Sidoarjo, Jawa Timur. Yayasan kecil kami terletak jauh di dalam gang. Tak banyak orang tahu. Selain itu, di sekitar juga banyak yayasan lain jauh lebih besar dan terkenal.

Saya yakin, ia dikirim oleh Allah. Dan saya yakin, itu jawaban atas doa anak-anak yayasan semalam.

“Subhanallah, ternyata betul ya Abi. Allah pagi ini buktikan janji-Nya,” kata istri setelah mengantar dermawan itu pulang.

Sejak itu, saya dan istri makin yakin kekuatan shalat malam. Shalat malam bisa menjadi senjata untuk mengundang pertolongan Allah setiap saat dan dalam kondisi apapun.

Sejak saat itu pula, saya, istri dan seluruh penghuni yayasan melakukan shalat tahahud tiap malam. Dan ternyata, hingga kini Allah selalu mencukupi kebutuhan kami. Kami tidak pernah kelaparan. Pertolongan seperti itu juga sering kami alami.

Pernah suatu saat, tiba-tiba seseorang datang jauh-jauh dari Malang. Kata lelaki yang memiliki salon itu, ia bermimpi disuruh untuk memberikan sedekah ke sebuah yayasan di daerah tersebut.

Ciri-ciri yayasan itu, katanya kecil dan ustadz pemangkunya berbadan kurus. Maka, dicarilah yayasan yang dimaksud dalam mimpinya itu. Tapi, sudah dicari-cari tak jua ketemu. Ketika menemui yayasan kami, yakinlah orang tersebut jika yayasan itu yang ada dalam mimpinya.

“Iya, ini pesantrennya yang ada dalam mimpi saya,” katanya. Meski berkali-kali saya pertanyakan jangan-jangan bukan yayasan ini yang dimaksud, tapi ia tetap bergeming. Ia pun memberi uang Rp 2 juta rupiah.

Tidak hanya itu. Pernah juga ada kejadian serupa. Ceritanya, ada seseorang nyasar yang ingin memberi bantuan. Ia sebenarnya ingin memberi sedekah ke yayasan lain. Tapi, entah kenapa, ia justru datang ke yayasan kami. Saya pun menjelaskan jika yayasan ini bukan yang ia maksud dan memintanya agar menyalurkan sedekahnya ke yayasan semula.

Tapi, meski sudah berkali-kali dibujuk, ia tetap saja bersikukuh. “Sudah, sedekah ini saya berikan untuk yayasan ini saja,” paparnya. Karena tak bisa menolak, sedekahnya pun kami terima. Dalam hati saya berucap dengan sedikit bergurau: “Ternyata, malaikat pinter juga ya mengalihkan orang berbuat baik.”

Saya sendiri sudah beberapa tahun menjadi pengasuh di yayasan Islam di Sidoarjo milik salah satu ormas Islam. Yayasan itu belum terlalu besar. Gedungnya saja masih milik orang lain, hanya disuruh menempati saja. Ada tiga belas anak yang masih sekolah, dari bangku SD hingga SMA. Mereka dari berbagai daerah, ada dari Sidoarjo sendiri, Balikpapan, Madura, Semarang, Surabaya, dan deerah lainnya.

Seperti yayasan pada umumnya, pembiayaan gratis dan berasal dari umat Islam. Tapi, kendati demikian, saya tak pernah khawatir Allah telantarkan kami. Karena itu, agar Allah tak pernah sepi menolong, maka tiap malam kami harus sering meminta dan menagih janji-Nya. Seperti diceritakan Maryadi kepada Hidayatullah.com