Mebangun Kembali Nilai Kearifan Lokal Indonesia melalui Peran Komunikasi

Pada umumnya, setiap negara mempunyai nilai kearifan lokal masing-masing. Dimana kearifan lokal ini menjadi cermin bagi suatu bangsa untuk bertindak. Nilai kearifan lokal yang diterapkan dalam kehidupan berbangsa, akan menjadikan bangsa tersebut istimewa. Adapun yang menjadi parameter sejauh mana bangsa itu dikenal dengan kearifan lokalnya dapat dilihat dari kemajuan bangsa itu sendiri.
Pada saat ini keberadaan negara maju yang tetap berpegang teguh pada nilai kearifan lokal masih dapat kita hitung dengan jari, sebutlah negara Jepang. Meskipun negara ini sering dihadapkan dengan berbagai masalah baik berupa bencana alam maupun pertikaian politik, tetapi dengan nilai kearifan lokal yang dimilikinya, Jepang mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Bentuk kearifan lokal yang dimiliki jepang adalah disiplin dan tertib. Dengannya Jepang mampu tampil sebagai negara yang maju.
Negara kita juga memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang apabila kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari berpotensi membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Nilai kearifan lokal yang menjadi warisan leluhur bangsa Indonesia adalah Gotong Royong. Dengan gotong royong akan membuat masyarakat semakin peka terhadap berbagai permasalahan bersama, munculnya rasa tanggung jawab bersama, dan timbulnya rasa empati baik antara masyarakat dengan pemerintah maupun antar-masyarakat itu sendiri.
Budaya gotong royong ini telah menunjukkan eksistensinya sebagai pemersatu bangsa. Hal ini dapat kita lihat pada sejarah bangsa Indonesia, yaitu ketika para terdahulu kita bahu-membahu melawan diktatornya penjajah demi terproklamasikannya kemerdekaan. Pada saat itu gotong royong dilakukan sacara serempak oleh seluruh elemen masyarakat seperti kalangan akademisi, militer, jurnalis dan masyarakat biasa. Tanpa gotong royong, tentunya Kemerdekaan ini tak akan pernah bisa diraih.
Pada masa reformasi ini, perkembangan teknologi informasi di Indonesia berkembang pesat. Kendati hal ini telah membawa manfaat yang besar dalam mempermudah penyelesaian pekerjaan manusia, tetapi juga mengundang dampak negatif yaitu timbulnya degradasi moral yang meluas secara cepat. Hal ini terjadi karena adanya penggunaan fasilitas-fasilitas teknologi informasi yang terlalu bebas dan tidak bertanggung jawab. Mengingat kerusakan moral ini akan berdampak pada lunturnya prinsip budaya gotong royong, maka perlu adanya kesadaran bersama untuk memperbaiki hal itu. Dalam penyelesaian masalah ini semua komponen masyarakat dan pemerintah dituntut mempunyai peran. Terutama sekelompok orang yang terjun dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi, seperti PT. Pos Indonesia, Stasiun TV, Radio, Koran, dll.
PT. Pos Indonesia sebagai salah satu pelaku yang bergerak dalam bidang jasa penyalur informasi dan komunikasi antar-masyarakat memiliki peranan penting dalam menjaga warisan kearifan lokal gotong royong. Sejak PT. Pos Indonesia didirikan pada tanggal 26 Agustus 1746 di Batavia (sekarang Jakarta), sejarah telah mencatat bahwa PT. Pos Indonesia telah turut serta membantu mempersatukan nusantara dan membangun entitas bangsa Indonesia. Hal ini dapat kita lihat bahwa pada zaman perjuangan dulu, keberadaan pos mempunyai posisi yang strategis sebagai penyalur informasi ke seluruh pelosok nusantara, mengingat dulu belum ada sarana komunikasi lain yang lebih canggih seperti yang dapat kita lihat saat ini. Bahkan eksistensinya juga terlihat sampai saat ini dimana PT. Pos Indonesia menjadi agen penyalur berbagai kiriman ke seluruh nusantara bahkan mancanegara.
Pada Tanggal 9 Oktober 2011 yang lalu merupakan peringatan Hari Pos Dunia (tahun 1874 di ibukota Swiss, Bern). Lebih dari 150 negara ikut serta merayakannya. Bentuk kegiatan yang dilakukan tiap negara berbeda-beda, namun secara prinsip memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan kesadaran akan peran sektor layanan pos dalam kehidupan manusia. Sementara itu, keberadaan PT. Pos Indonesia yang telah menginjak usia lebih dari 2,5 abad ini, sekarang sedang melakukan berbagai upaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Dengan Motto barunya “Tepat Waktu Setiap Waktu” pada tahun 2011, pos Indonesia sudah siap untuk menjadi fasilitator masyarakat dalam layanan surat pos, paket dan logistik, serta jasa keuangan yang terpercaya.
Untuk mengoptimalkan kinerja PT. Pos Indonesia sebagai salah satu komponen penjaga prinsip gotong royong, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
1. Optimalisasi elemen perusahaan
Sebagai komponen penjaga nilai kearifan lokal, PT. Pos Indonesia harus mampu menerapkan prinsip gotong royong kedalam setiap elemen perusahaannya. Adapun bentuknya dapat berupa:
a. Mempererat hubungan sosial antara karyawan dengan pimpinan maupun antar-karyawan agar terbentuk lingkungan kerja yang kondusif.
b. Diadakannya pelatihan secara bertahap dan berkala bagi para karyawan. Pelatihan dapat berupa pelatihan teknis seperti cara menyortir surat/ pesanan yang baik ataupun pelatihan softskill yang berisi pelatihan cara melayani masyarakat dengan ramah, serta memberikan pemahaman kepada karyawan mengenai pentingnya posisi dan peran Pos Indonesia dalam membangun negeri ini.
c. Perusahaan harus menjamin tercukupinya kebutuhan dan kesehatan para karyawan secara proporsional. Di samping tugas karyawan di lapangan cukup berat, hal ini akan membuat karyawan lebih bersemangat dalam menjalankan amanahnya.
2. Hubungan kerja sama dengan pemerintah
Peran pemerintah juga sama, yaitu sebagai pemeran dalam penggerak terlaksananya gotong royong di masyarakat. Maka dari itu hubungan kerja sama antara PT. Pos Indonesia dengan pemerintah harus berjalan dengan baik. Sebagai parameter hubungan baik ini dapat diwujudkan dengan adanya dukungan moril dari pemerintah mengenai pentingnya peran pos sebagi pelayan masyarakat. Juga dukungan finansial berupa kompensasi Public Service Obligation (PSO) yang wajar jumlahnya disesuaikan dengan biaya opersional yang PT. Pos Indonesia perlukan.
3. Hubungan kerja sama dengan pihak luar
Sebanyak 3700 kantor pos online disediakan PT. Pos yang lokasinya menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia. Jaringan luas ini menjadi potensi besar. Potensi ini tidak hanya dapat dimanfaatkan secara sepihak untuk kepentingan PT. Pos Indonesia saja, akan tetapi potensi ini dapat dikembangkan bersama untuk membentuk bangsa Indonesia yang kaya akan informasi berlandaskan kearifan lokal bangsa. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, pihak Pos dapat bekerja sama dengan pihak-pihak lain seperti komunitas ahli informatika, bank, dan lembaga-lembaga lainnya.
4. Hubungan dengan masyarakat
Untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat, PT. Pos Indonesia dapat memberikan pelayanan yang ramah. Hal ini ditujukan agar masyarakat semakin dekat dengan layanan jasa pos. Selain itu Pos juga harus memberikan informasi yang luas dan terbuka mengenai program penyediaan produk-produk baru, karena sejauh ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui berbagai layanan yang PT. Pos Indonesia sediakan.

Hemat penulis bahwa nilai kearifan lokal yang Indonesia miliki harus diterapkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. PT. Pos Indonesia sebagai fasilitator yang berpotensi mampu menjaga nilai kearifan lokal harus didukung oleh masyarakat dan pemerintah karena menjunjung tinggi kearifan lokal bangsa merupakan tanggung jawab bersama.