Learn from prophet Ibrahim as

SETIAP tahun, seusai shalat Idul Adha kaum Muslimin di seluruh dunia melakukan penyembelihan hewan kurban. Mereka yang secara ekonomi memungkinkan, menyisihkan sebagian hartanya untuk berbagi dengan sesama. Ritual ini bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji.

Rangkaian ibadah haji beserta penyembelihan hewan kurban, adalah kisah keteladanan yang diwariskan Nabi Ibrahim AS. Nabi yang satu ini mendapat kedudukan yang istimewa di tengah kaum Muslimin selain Nabi Muhammad SAW. Nama Ibrahim bergandengan dengan nama Muhammad dalam shalawat di setiap shalat lima waktu. Dialah yang mendapat julukan Bapak para Nabi (Abul Anbiya).

Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah kisah kepahlawanan. Epos yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Terutama pada episode kesanggupan Ibrahim mempersembahkan anaknya, Ismail, semata-mata untuk Allah SWT. Sebuah kisah agung yang tidak akan tertandingi dalam sejarah manusia. Meskipun kemudian, Allah menggantikan Ismail yang sudah siap disembelih, dengan seekor domba.

Episode inilah yang menjadi ruh dari ritual penyembelihan hewan kurban. Ibrahim memberi pelajaran berharga bagi umat manusia, tentang kemampuannya untuk melepaskan diri dari dominasi selain Allah. Cinta kepada-Nya menjadi energi yang mampu merobohkan egonya sebagai seorang bapak. Ismail bukanlah miliknya, melainkan milik Sang Khalik. Inilah hubungan cinta dengan derajat tertinggi.

Semangat yang diambil dari Ibrahim, bukanlah seberapa banyak hewan yang disembelih atau seberapa banyak orang yang menerima daging sembelihan. Melainkan, seberapa ikhlas kita memberikan persembahkan itu di hadapan Allah. Seberapa mampu kita meniadakan berhala-berhala yang dapat membelokkan niat persembahan. Terutama berhala yang bernama riya, ingin terpuji di depan manusia.

Akan halnya Ismail yang siap sepenuhnya menjadi martir agung, adalah bukti keberhasilan Ibrahim membangun karakter generasi penerusnya. Tidak mungkin Ismail bersikap semulia itu, tanpa adanya transformasi karakter, pendidikan yang memadai, dari Ibrahim. Seperti juga ayahnya, Ismail mampu mengalahkan egonya sebagai seorang anak yang seharusnya menikmati hidup dalam perlindungan sang ayah.

Pada zaman ini, ketika kehidupan sangat diwarnai hedonisme, kepura-puraan, penyembahan pada berhala modern, godaan untuk memiliki barang milik orang lain begitu besar, maka kisah keteladanan Ibrahim dan Ismail menjadi sangat relevan. Marilah kita belajar dari Ibrahim. Mengambil semangatnya, meskipun tidak mampu meneladani seluruhnya.***

entons.multiply.com/journal/item/73

pelajari lebih dalam di QS As-Shaffat: 101-dst

Advertisements

Diskusi Yuuk? ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s