Trilogi Kisah Hatim bin Asham (3)

Kisah Hatim bin Asham (3): Menegur Penguasa yang Bermewah-Mewahan

 

Hatim lalu melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Setibanya di sana ia dikerumuni warga Madinah. Hatimpun bertanya pada salah seorang dari mereka “Kota apakah ini?”

“Kota Madinah, kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam”

“(kalau begitu) di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”

“Lalu di mana istana para sahabatnya?”, lanjut Hatim

“Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah (meneladani Nabinya)

“Kalau begitu, ini adalah kota Fir’aun!” (Karena Hatim melihat kemewahan para pembesarnya)

Lalu Hatim dibawa oleh penduduk Madinah kepada penguasa di kota itu, dan warga Madinahpun berkata: “Orang asing ini berkata bahwa ini kota Fir’aun!”

“Mengapa begitu?” tanya sang penguasa

“Anda jangan marah kepadaku, aku ini orang asing dan bodoh, ketika aku tiba di sini aku bertanya pada penduduk “Kota apakah ini?” mereka menjawab “kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam” Lalu saya bertanya: “di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”, jawab mereka. Lalu aku bertanya “ di mana istana para sahabatnya?”, Mereka katakan: “Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah.”

Kemudian Hatim membacakan ayat di depan sang penguasa:

“Sesungguhnya telah ada pada  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  bagi orang yang mengharap  Allah dan  hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (33:21)

“Karenanya tuan-tuan, siapakah sesungguhnya yang tuan-tuan teladani, Rasulullah kah? atau Fir’aun?”, ucap Hatim. Penguasa itupun lalu membiarkan Hatim pergi.

Kisah ini saya nukil dari ihya’ ulumiddin. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk berhias diri dengan hal yang diperbolehkan. Namun, bila ia terus menerus berkecimpung dengan hal yang diperbolehkan itu, maka akan bangkit rasa cinta kepadanya dan sukar meninggalkannya. Sementara agar diri terjaga untuk tidak larut dalam kemewahan, ia harus menjauhkan diri darinya. Karena jika keselamatan bisa diperoleh dengan berkecimpung di dalam hal yang dibolehkan itu tentu Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak akan ‘membelakangi dunia’ dengan membuka baju sutera dan menanggalkan cincin emas.

Sumber tulisan darisini

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (2)

Kisah Hatim bin Asham (2): Menegur ‘Ulama yang Bermewah-Mewahan

 

Suatu saat Hatim mengunjungi wilayah Rey, dan sahabatnya di Rey mengajaknya mengunjungi ahli fiqh yang sangat terkenal di wilayah tersebut, karena ia sedang dalam keadaan sakit. Ia adalah Muhammad bin Muqatil. Saat Hatim sampai di rumah sang faqih, yang ia lihat adalah istana yang megah dan indah. Hatimpun tercenung, dan berkata “beginikan rumah seorang ‘ulama?”

 

Setelah mendapat izin masuk, ia melihat bahwa rumah sang ahli fikih itu besar, cantik dan indah, serta luas, dan ketika ia masuk ke kamarnya ia melihat sang ahli fikih sedang tidur di atas kasur empuk, ditemani pembantunya sedang memegang penepuk lalat.

 

Teman Hatim yang mengajaknyapun duduk di samping sang sakit, menanyakan keadaan sakitnya. Sementara Hatim tetap berdiri. Si sakitpun mempersilakan Hatim duduk. Tapi Hatim menolaknya dan berkata “tidak usah tuan”. Maka sang tuan rumahpun berkata karena heran “Barangkali ada perlu?”. “Ada”, jawab Hatim. “Apa itu?”. “Ada suatu perkara yang ingin saya tanyakan kepada tuan, ilmu yang tuan miliki itu diperoleh dari mana?”, sang ahli fikih menjawab “dari orang-orang yang dapat dipercaya, mereka menguraikan ilmu tersebut kepada saya”. Lalu Hatim kembali bertanya: “Orang-orang tersebut menerimanya dari siapa?” “Dari para sahabat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam”, jawabnya. “Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam menerimanya dari siapa?”. “Dari Jibril ‘alayhissalam, dan Jibril menerimanya dari Allah”.

 

Hatim melanjutkan pertanyaannya:

“Menurut apa yang dibawa Jibril ‘alayhissalam dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada RasuluLlah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan disampaikan kepada para sahabatnya dan dari sahabat kepada orang-orang yang terpercaya, adakah dikemukakan kepada tuan suatu ilmu bahwa jika di dalam rumah tuan ada kemewahan dan kemegahan serta besar dan luas rumahnya akan memperoleh derajat di sisi Allah?

 

“Tidak!”, jawab sang ahli fikih

 

“Kalau begitu apa yang tuan dengar dari mereka?”

 

“Yang saya dengar ialah orang yang hidup sederhana di dunia ini, dan gemar pada sesuatu yg mengantarkannya pada kehidupan akhirat, mencintai orang miskin, dan mendahulukan akhiratnya bakal memperoleh kedudukan di sisi Allah.”

“Kalau begitu, kini siapa yang tuan ikuti: Nabi, para sahabat dan orang-orang shalih, atau Fir’aun dan Namrud? orang yang suka bermewahan dengan istana pualamnya?” “Wahai ‘ulama yang menyimpang, bila perilaku tuan dilihat oleh orang awam, maka mereka akan mengira ulama saja hidupnya seperti anda, bukankan wajar jika orang awam lebih dari itu?!. Ucap Hatim. Ia lalu keluar dari rumah megah itu. Dan penyakit Ibn Muqatil pun semakin berat.

 

Saat keluar dari rumah Ibn Muqattil, Hatim berjumpa dengan orang-orang di Rey dan mengatakan kepada Hatim “Hatim, ada seorang ahli fikih bernama Ath-Thanafisi di Qazwin lebih mewah dari Ibn Muqattil”

Lalu Hatim pun menuju ke sana dan langsung masuk ke dalam rumahnya serta menemui Ath-Thanafisi. Hatim berkata: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada tuan. Saya ini orang bodoh. Saya ingin sekali tuan mengajari saya dasar-dasar pelajaran agama dan shalat. Juga bagaimana caranya saya melakukan shalat.

“Baiklah, dengan senang hati! Ambillah air wudhu di tempat air.” ucap Ath-Thanafisi. Tapi Hatim ingin agar ia melakukannya di depan Ath-Thanafisi: “Bagaimanakan kalau di sini saja, agar saya dapat berwudhu di depan tuan?”

Ath-Thanafisi pun beranjak dan Hatim mulai berwudhu. (Dengan sengaja) Hatim membasuh anggota badannya empat kali-empat kali (Melebihi yang seharusnya).  Ath-Thanafisi pun menegurnya: “Hei, mengapa kamu memboros-boroskan air?”

“Apa yang saya boroskan tuan?”

“Kamu basuh tanganmu empat kali!”

Hatimpun berkata “SubhanaLlah, hanya sepercik air tuan katakan saya boros, bagaimanakah dengan harta benda dan kemewahan tuan?”

Sadarlah Ath-Thanafisi bahwa Hatim tidak bermaksud belajar padanya. Setelah kejadian itu Ath-Thanafisi tidak muncul di muka umum selama 40 hari.

 

Menurut saya, kisah ini mengandung banyak pelajaran. Bukan hanya pendirian dan sikap al-Hatim, tetapi juga Ibn Muqattil dan Ath-Thanafisi, sebab keduanya menyadari kekeliruannya. Betapa banyak saat ini para da’i yang hidup megah, dan ketika ia menerima nasihat, ia banyak berkilah dan behujjah, “ngaakalan dalil, sanes akal nurut kana dalil”, orang sunda bilang. Semoga kita bisa meneladani kisah ini.

“Dan barang siapa berhij…

“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (REZEKI) yang BANYAK. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian mati menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya tetap telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”

Inspiring
——> (4:100)

Pilu!!

Sering saya berpikir apakah yang saya alami ini normal? Yang pada umumnya orang-orang alami? . . beberapa saat aku tatap langit, ku terawang ke atas sana lebih dalam, seraya kutemukan kembali bahwa faktanya mayoritas tidak merasakan apa yang saya rasakan. Seperti biasa sahabat kost saya, Eka Nur pamit untuk izin berangkat halaqah bersama kawannya. Rupanya kali ini ia dijemput kawannya dengan menaiki sepeda motor. “Salim, ieu abdi nitip konci bade angkat halaqah”.. sejenak diri ini diam seperti ada hal yang teriris  hati ini. Ini bukan kali pertama saya merasakannya, sudah berkali-kali. Namun kali ini ingin saya tuliskan pilu hati ini.

Kami shalat isya berjamaah di masjid Al-Hasanah. Mesjid kesayangan kami, selama kami tinggal di kerajaan taman indah. Walau untuk menjangkaunya perlu perjuangan yang cukup berat, harus menaiki dan menuruni 3 level tangga, namun hal ini menjadi aktivitas sehari-hari kami. Selepas shalat saya duduk sementara di serambi kost. Bertahan untuk merasakan denyut pilu hati yang sejak beberapa menit yang lalu telah menjalar. Tahukah kawan? Kenapa hal ini terjadi?..  Baiklah akan sedikit saya jelaskan. Sungguh saya merasa iri dengan aktifitasnya itu. Ia masih terjaga dalam bimbingan pembinaan bersama kawan-kawannya dalam bimbingan gurunya. Sementara Aku? . . Semester 5 kuliah di itb ini, saya telah kehilangan aktifitas tercinta saya. Aktifitas yang senantiasa membuat hati ini hidup secara serentak bersama rekan-rekan saya untuk sementara fakum dulu. Entah sampai kapan, walau baru kemarin. Serasa sudah sangat lama….. Jika dianalisis, memnag tidak ada salahnya untuk vacum, karena kevakuman aktifitas belajar kami bukan tanpa alasan, karena guru kami harus berangkat Ibadah haji ke tanah haram. Selepasnya beliau berencana akan mengambil kuliah S3 di luar negeri. Ah, bukannya ini akan menjadi tambah lama. Entahlah kondisi ini membuat hati ini pilu.

Astagfirullahal’adzim!!!

Proses pembinaan yang dijalani secara individual sebagai bentuk penjagaan hati saya rasakan memang tidaklah cukup. Kadang sangat diperlukan kebersamaan itu. Seringnya lagi bimbingan seorang guru itu sangat kami butuhkan. Namun kini aktifitas mulia ini harus vacum.

Hampa.. kosong!

6 hari lalu, saya mengikuti seleksi wawancara calon tutor asrama itb. Salah satu pertanyaannya adalah apakah anda ikut pembinaan mentoring. Saya jawab iya memang, namun pembinaan ini pula masih belum jalan kembali. Lalu dilanjutkan lagi oleh sang pewawancara. Apakah Anda membina adik mentor? Saya jawab tidak. Belum saya terima tawaran rekan-rekan saya untuk memegang adik tutor. Bukannya itb kekurangan mentor ya? Kenapa tida kamu ambil. Kemudian saya jawab pertanyaan ini dengan alasan klasik terkait jadwal. Sungguh yang menjadi kendala utama saya belum bisa menerima adik-adik mentor adalah karena saya sendiri kali sedang vakum dibina. Mana bisa saya memberikan bimbingan orang lain tanpa ada bimbingan yang memelihara saya?

Analoginya jika saya sebuah teko, dan adik mentor adalah gelasnya. Tentu tidaklah mungkin bisa saya menuangkan air dari teko selama teko ini tidak diberikan amunisinya.

Ah, tidak mau aku seperti ini! Tak ingin saya dibuat pilu terus oleh kawan saya ini. Harus cari jalan keluar. . adakah yang mau jadi Mentor saya?

 

 

 

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (1)

Tulisan ini sudah saya donlod, sekitar 3 bulan lalu. . tapi baru saya resapi malam 13 September 2012. .

mudah-mudahan bisa mengambil hikmah pelajaran dari kisah ini. .!!

 Kisah Hatim bin Asham (1): Belajar 8 Hal dalam 30 Tahun

Entah mengapa kisah Hatim ini sering membuat saya haru, dan ternyata banyak orang yg mengalami hal yang sama ketika membaca kisah ini, di majelis ihya’ yg saya ikuti kadang kami terbata-bata membaca kisah ini. Semoga bermanfaat…

Suatu saat Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya Hatim al-Asham, “Sejak sejak kapan engkau belajar bersamaku?”, “Sejak tugapuluh tahun, guruku!”, jawab Hatim. “Apakah yang engkau pelajari selama itu, wahai Hatim?”, “Delapan hal, guruku”, jawab Hatim. “Innalillah wa inna ilaihi raji’un, terbuang percuma sajalah umurku bersamamu”, ujar Syaqiq dengan kecewa. “Guruku, aku tidak pelajari yang lain dan aku tidak ingin berdusta”. “Uraikanlah kedelapan hal itu Hatim”. Lalu Hatim menjelaskannya:

Pertama, “Ketika aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, Ketika kekasihnya telah ke kubur, ia merasa kecewa karena ia tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan perbuatan baik yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka ia akan ikut bersamaku”

“Benar sekali Hatim!”, ujar Syaqiq, “Apa yang kedua?”

Kedua, “Ketika ada firman Allah SWT”:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal.” (79:40-41)

Aku perhatikan ayat ini, dan yakinlah aku bahwa firman Allah SWT tersebut benar, maka aku berusaha menolak hawa nafsu sehingga aku tetap taat kepada Allah SWT”

“Yang ketiga?”

“Ketiga aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat setiap makhluk memiliki benda, menghargainya, memandangnya bernilai, dan menjaganya. Kemudian ku perhatikan firman Allah SWT:

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:96)

karena itu setiap kali ke atas tanganku jatuh sesuatu yang berharga dan bernilai, iapun kuhadapkan kepada Allah, agar kekal di sisi-Nya”

“Yang keempat?”

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang selalu menaruh perhatian terhadap harta, kebangsawanan, kemuliaan, dan keturunan. Lalu ketika kupandangi semua itu, tiba-tiba tampak tidak ada apa-apanya. Kemudian kuperhatikan firman Allah SWT:

“… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (49:13)

Akupun bertaqwa kepada Allah, semoga aku menjadi mulia di sisi-Nya.”

Yang kelima, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka saling menohok dan mengutuk satu sama lain. Penyebabnya adalah kedengkian, kemudian kuperhatikan firman Allah:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?  Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.  Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (43:32)

karenanya perasaan dengki pun kutinggalkan dan diriku pun “kujauhkan” dari orang banyak. Aku tahu pembagian rizki dari Allah, karena itu permusuhan orang banyak kepadaku kutinggalkan”

Yang keenam, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di duna ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:

“Sesungguhnya  syaitan  itu  adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (35:6)

karena itu syetan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan syetan adalah musuhku”

Syaqiq melajutkan pertanyaannya : “yang ketujuh?”

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini aku melihat masing-masing orang mencari sepotong dari dunia ini. Lalu ia menghinakan diri padanya dan memasuki bagiannya yang dilarang kemudian kuperhatikan firman Allah:

“Dan tidak ada suatu binatang melata  pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata .” (11:6)

aku termasuk binatang melata yang rizkinya ada pada Allah, karenannya kukerjakan apa yang menjadi hak Allah pada diriku, dan kutinggalkan apa yang menjadi hak Allah pada diriku”

Yang terakhir, “kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang menggantungkan diri pada makhluk lain. Yang satu pada benda yang dicintainya, yang lain pada perniagaannya, dan perusahaannya, atau pada kesehatan tubuhnya. Masing-masing bergantung pada benda. Lalu aku kembali pada firman Allah:

“..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (65:33)

Karena itu akupun bertawakkal kepada Allah, ternyata Allah mencukupi keperluanku”

“Hatim, semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya kepadamu”, ujar Syaqiq

(dinukil dari kitab Ihya’ Ulumiddin jilid 1 bab ilmu)

Sumber tulisan disini 

Mr. Deadliners @@

 

 

 

Salaamun’alaikum Baraya!!

Pada hari sabtu kemarin, tepatnya 15/09/2012 .. untuk yang ke sekian kalinya dikejar monster “Deadline”,  bukan tanpa sengaja memang, sebelumnya sudah terbayang untuk menunda projek sampai deadline tiba, karena bila dikerjakan di awal maka prosesnya lebih lama. Entah mengapa saya ini lebih nyaman dan produktif kala deadline mengejar-mengejar. Sering menJudge bahwa kebiasaan ini buruk, tapi serasa tak ada bosannya saya menyambut dia kembali, aneh memang.

Berikut alasan yang menjadi landasan mengapa saya harus deadliner:

  1. Lebih produktif, karena ditekan briliant, kerja ekstra di waktu yang sempit
  2. Di sela waktu luang susah untuk fokus ke tugas, lebih sering menggunakannya untuk hal-hal yang menjadi hobby .. alhamdulillah sejauh ini hibbinya positif, dan akan seperti itu selamanya, amiin
  3. Hasil kerjanya sering membuat wajah senyum 😀
  4. Sisanya karena udah kebiasaan mati.. hehe

Disamping manfaat sering pula saya mendapat efek buruk dari kebiasaan ini, seperti jika sedikit terlambat menyelesaikan tugas saja + tanpa ada kemurahan hati yg berwenang. hasilnya bisa ditolak mentah-mentah. Bisa sakit hati kalau bagi sang pemula deadliners. Kalau saya sendiri kayaknya udah lumayan kebal deh, hehea

duh kok jadi membahas ini! kembali ke tema!

Ya sore kemarin saya memang dikejar deadline project sebuah lomba!, yang ingin saya ceriakan sebenarnya terkait peristiwa yang saya dapat pelajari kemarin. Pada saat keberangkatan menuju tempat penyepian (kali ini target tempat menyepi saya adalah Masjid Al Ukhuwah, Balai kota Bandung), saya mendapati peristiwa kecelakaan di jalan Purnawarman, ringan sih. Hanya jatuh aja 2 sepeda motor yang ditumpangi teteh-teteh. Yang punya kesalahan dalam peristiwa ini ngacir duluan pergi. . sebentar saya kaget, mau bantu bangunin motor, eh ga jadi karena susah melintas jalan! tapi alhamdulillah tidak terjadi hal-hal yang pragmatis, semuanya baik-baik saja. Hanya saja sayangnya saya perhatikan orang yang menjadi korban kecelaan ini mengutuk-ngutuk pelaku yg sudah jelas tidak ada di sana! atau memang setiap orang yang mengalami kecelakaan seperti itu ya? hmm, , Sayang kan, alangkah lebih bijaknya sang korban lebih fokus pada apa yg telah menimpanya dan mengingat akan qada dan qadar Allah yang tidak selamanya mengikuti keinginan manusia. 

Sudahlah, peristiwa itu saya lalui segera.  Ini pelajaran dari Allah bagi saya!

Setibanya di masjid, ada hal yang berbeda dengan suasana biasanya. Biasanya sih sepi, makanya saya memilih masjid ini untuk menyepi. Eh nyatanya kali ini ramai. ada apa gerangan?.. waah ternyata ada yang mau akad nikah! Awal kiranya saya anggap akadnya sudah selesai, pada umumnya akad dilaksanakan di pagi hari, namun kali ini lain! Selepas shalat ashar. dari Information center mengumumkan bahwa saat ini selepas bada ashar akan diselenggarakan akad nikah. Nama orang yang akan diakad lupa, hehe. ya pokoknya akan diselenggarakan akad di dalam masjid Al Ukhuwah. Alhasil prosesi menyepi saya berubah menjadi meramai, karena selama pengerjaan tugas diwarnai dgn warna bahagia sang pengantin yang sedang diwalimahan.

 

Mudah-mudahan hasil tugasna nyugemakeun hate, amiin! Kenging berkah tinu walimahan, hihihi

atosan ah nya. Bilih ngawur teu jelas ngabahas walimahan :D.

 

 

Pagi hari diwarnai lintasan inspirasi dan obsesi

@Kost Kerajaan Taman Indah 37

Bandung

 

 

 

Surat Terbuka Untuk Metro TV ….
Reminder, Rohis isn’t Teroris

Refleksi Panggilan Jiwa

SURAT TERBUKA UNTUK METRO TV

TENTANG PEMBERITAAN POLA REKRUTMEN TERORIS MUDA

“KAMI ANAK ROHIS BUKAN TERORIS”

Kepada Redaksi Terhomat,

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk berpikir. Salam dan Do’a terbaik kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pelajaran penting bagaimana bersikap, dan bermanfaat bagi umat manusia.

Surat terbuka ini saya sampaikan kepada Redaksi Metro TV atas tayangannya tentang “pola rekrutmen teroris muda”. Dalam tayangan tersebut, Metro TV menyampaikan lima poin tentang pola perekrutan tersebut, yakni :

  1. Sasarannya siswa SMP Akhir – SMA dari sekolah-sekolah umum
  2. Masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah
  3. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudia diajak diskusi di luar sekolah
  4. Dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa yang korup, keadilan tidak seimbang
  5. Dijejali dengan doktrin bahwa penguasa adalah toghut/kafir/musuh

Dan ditambahkan footer note “awas, generasi baru teroris!”

Redaksi terhomat,

Pertama-pertama, meski melalui akun resmi twitter anda pada 14 September…

View original post 1,202 more words