Pilu!!

Sering saya berpikir apakah yang saya alami ini normal? Yang pada umumnya orang-orang alami? . . beberapa saat aku tatap langit, ku terawang ke atas sana lebih dalam, seraya kutemukan kembali bahwa faktanya mayoritas tidak merasakan apa yang saya rasakan. Seperti biasa sahabat kost saya, Eka Nur pamit untuk izin berangkat halaqah bersama kawannya. Rupanya kali ini ia dijemput kawannya dengan menaiki sepeda motor. “Salim, ieu abdi nitip konci bade angkat halaqah”.. sejenak diri ini diam seperti ada hal yang teriris  hati ini. Ini bukan kali pertama saya merasakannya, sudah berkali-kali. Namun kali ini ingin saya tuliskan pilu hati ini.

Kami shalat isya berjamaah di masjid Al-Hasanah. Mesjid kesayangan kami, selama kami tinggal di kerajaan taman indah. Walau untuk menjangkaunya perlu perjuangan yang cukup berat, harus menaiki dan menuruni 3 level tangga, namun hal ini menjadi aktivitas sehari-hari kami. Selepas shalat saya duduk sementara di serambi kost. Bertahan untuk merasakan denyut pilu hati yang sejak beberapa menit yang lalu telah menjalar. Tahukah kawan? Kenapa hal ini terjadi?..  Baiklah akan sedikit saya jelaskan. Sungguh saya merasa iri dengan aktifitasnya itu. Ia masih terjaga dalam bimbingan pembinaan bersama kawan-kawannya dalam bimbingan gurunya. Sementara Aku? . . Semester 5 kuliah di itb ini, saya telah kehilangan aktifitas tercinta saya. Aktifitas yang senantiasa membuat hati ini hidup secara serentak bersama rekan-rekan saya untuk sementara fakum dulu. Entah sampai kapan, walau baru kemarin. Serasa sudah sangat lama….. Jika dianalisis, memnag tidak ada salahnya untuk vacum, karena kevakuman aktifitas belajar kami bukan tanpa alasan, karena guru kami harus berangkat Ibadah haji ke tanah haram. Selepasnya beliau berencana akan mengambil kuliah S3 di luar negeri. Ah, bukannya ini akan menjadi tambah lama. Entahlah kondisi ini membuat hati ini pilu.

Astagfirullahal’adzim!!!

Proses pembinaan yang dijalani secara individual sebagai bentuk penjagaan hati saya rasakan memang tidaklah cukup. Kadang sangat diperlukan kebersamaan itu. Seringnya lagi bimbingan seorang guru itu sangat kami butuhkan. Namun kini aktifitas mulia ini harus vacum.

Hampa.. kosong!

6 hari lalu, saya mengikuti seleksi wawancara calon tutor asrama itb. Salah satu pertanyaannya adalah apakah anda ikut pembinaan mentoring. Saya jawab iya memang, namun pembinaan ini pula masih belum jalan kembali. Lalu dilanjutkan lagi oleh sang pewawancara. Apakah Anda membina adik mentor? Saya jawab tidak. Belum saya terima tawaran rekan-rekan saya untuk memegang adik tutor. Bukannya itb kekurangan mentor ya? Kenapa tida kamu ambil. Kemudian saya jawab pertanyaan ini dengan alasan klasik terkait jadwal. Sungguh yang menjadi kendala utama saya belum bisa menerima adik-adik mentor adalah karena saya sendiri kali sedang vakum dibina. Mana bisa saya memberikan bimbingan orang lain tanpa ada bimbingan yang memelihara saya?

Analoginya jika saya sebuah teko, dan adik mentor adalah gelasnya. Tentu tidaklah mungkin bisa saya menuangkan air dari teko selama teko ini tidak diberikan amunisinya.

Ah, tidak mau aku seperti ini! Tak ingin saya dibuat pilu terus oleh kawan saya ini. Harus cari jalan keluar. . adakah yang mau jadi Mentor saya?

 

 

 

Advertisements

Diskusi Yuuk? ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s