Trilogi Kisah Hatim bin Asham (2)

Kisah Hatim bin Asham (2): Menegur ‘Ulama yang Bermewah-Mewahan

 

Suatu saat Hatim mengunjungi wilayah Rey, dan sahabatnya di Rey mengajaknya mengunjungi ahli fiqh yang sangat terkenal di wilayah tersebut, karena ia sedang dalam keadaan sakit. Ia adalah Muhammad bin Muqatil. Saat Hatim sampai di rumah sang faqih, yang ia lihat adalah istana yang megah dan indah. Hatimpun tercenung, dan berkata “beginikan rumah seorang ‘ulama?”

 

Setelah mendapat izin masuk, ia melihat bahwa rumah sang ahli fikih itu besar, cantik dan indah, serta luas, dan ketika ia masuk ke kamarnya ia melihat sang ahli fikih sedang tidur di atas kasur empuk, ditemani pembantunya sedang memegang penepuk lalat.

 

Teman Hatim yang mengajaknyapun duduk di samping sang sakit, menanyakan keadaan sakitnya. Sementara Hatim tetap berdiri. Si sakitpun mempersilakan Hatim duduk. Tapi Hatim menolaknya dan berkata “tidak usah tuan”. Maka sang tuan rumahpun berkata karena heran “Barangkali ada perlu?”. “Ada”, jawab Hatim. “Apa itu?”. “Ada suatu perkara yang ingin saya tanyakan kepada tuan, ilmu yang tuan miliki itu diperoleh dari mana?”, sang ahli fikih menjawab “dari orang-orang yang dapat dipercaya, mereka menguraikan ilmu tersebut kepada saya”. Lalu Hatim kembali bertanya: “Orang-orang tersebut menerimanya dari siapa?” “Dari para sahabat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam”, jawabnya. “Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam menerimanya dari siapa?”. “Dari Jibril ‘alayhissalam, dan Jibril menerimanya dari Allah”.

 

Hatim melanjutkan pertanyaannya:

“Menurut apa yang dibawa Jibril ‘alayhissalam dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada RasuluLlah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan disampaikan kepada para sahabatnya dan dari sahabat kepada orang-orang yang terpercaya, adakah dikemukakan kepada tuan suatu ilmu bahwa jika di dalam rumah tuan ada kemewahan dan kemegahan serta besar dan luas rumahnya akan memperoleh derajat di sisi Allah?

 

“Tidak!”, jawab sang ahli fikih

 

“Kalau begitu apa yang tuan dengar dari mereka?”

 

“Yang saya dengar ialah orang yang hidup sederhana di dunia ini, dan gemar pada sesuatu yg mengantarkannya pada kehidupan akhirat, mencintai orang miskin, dan mendahulukan akhiratnya bakal memperoleh kedudukan di sisi Allah.”

“Kalau begitu, kini siapa yang tuan ikuti: Nabi, para sahabat dan orang-orang shalih, atau Fir’aun dan Namrud? orang yang suka bermewahan dengan istana pualamnya?” “Wahai ‘ulama yang menyimpang, bila perilaku tuan dilihat oleh orang awam, maka mereka akan mengira ulama saja hidupnya seperti anda, bukankan wajar jika orang awam lebih dari itu?!. Ucap Hatim. Ia lalu keluar dari rumah megah itu. Dan penyakit Ibn Muqatil pun semakin berat.

 

Saat keluar dari rumah Ibn Muqattil, Hatim berjumpa dengan orang-orang di Rey dan mengatakan kepada Hatim “Hatim, ada seorang ahli fikih bernama Ath-Thanafisi di Qazwin lebih mewah dari Ibn Muqattil”

Lalu Hatim pun menuju ke sana dan langsung masuk ke dalam rumahnya serta menemui Ath-Thanafisi. Hatim berkata: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada tuan. Saya ini orang bodoh. Saya ingin sekali tuan mengajari saya dasar-dasar pelajaran agama dan shalat. Juga bagaimana caranya saya melakukan shalat.

“Baiklah, dengan senang hati! Ambillah air wudhu di tempat air.” ucap Ath-Thanafisi. Tapi Hatim ingin agar ia melakukannya di depan Ath-Thanafisi: “Bagaimanakan kalau di sini saja, agar saya dapat berwudhu di depan tuan?”

Ath-Thanafisi pun beranjak dan Hatim mulai berwudhu. (Dengan sengaja) Hatim membasuh anggota badannya empat kali-empat kali (Melebihi yang seharusnya).  Ath-Thanafisi pun menegurnya: “Hei, mengapa kamu memboros-boroskan air?”

“Apa yang saya boroskan tuan?”

“Kamu basuh tanganmu empat kali!”

Hatimpun berkata “SubhanaLlah, hanya sepercik air tuan katakan saya boros, bagaimanakah dengan harta benda dan kemewahan tuan?”

Sadarlah Ath-Thanafisi bahwa Hatim tidak bermaksud belajar padanya. Setelah kejadian itu Ath-Thanafisi tidak muncul di muka umum selama 40 hari.

 

Menurut saya, kisah ini mengandung banyak pelajaran. Bukan hanya pendirian dan sikap al-Hatim, tetapi juga Ibn Muqattil dan Ath-Thanafisi, sebab keduanya menyadari kekeliruannya. Betapa banyak saat ini para da’i yang hidup megah, dan ketika ia menerima nasihat, ia banyak berkilah dan behujjah, “ngaakalan dalil, sanes akal nurut kana dalil”, orang sunda bilang. Semoga kita bisa meneladani kisah ini.

Advertisements

Diskusi Yuuk? ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s