Trilogi Kisah Hatim bin Asham (3)

Kisah Hatim bin Asham (3): Menegur Penguasa yang Bermewah-Mewahan

 

Hatim lalu melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Setibanya di sana ia dikerumuni warga Madinah. Hatimpun bertanya pada salah seorang dari mereka “Kota apakah ini?”

“Kota Madinah, kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam”

“(kalau begitu) di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”

“Lalu di mana istana para sahabatnya?”, lanjut Hatim

“Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah (meneladani Nabinya)

“Kalau begitu, ini adalah kota Fir’aun!” (Karena Hatim melihat kemewahan para pembesarnya)

Lalu Hatim dibawa oleh penduduk Madinah kepada penguasa di kota itu, dan warga Madinahpun berkata: “Orang asing ini berkata bahwa ini kota Fir’aun!”

“Mengapa begitu?” tanya sang penguasa

“Anda jangan marah kepadaku, aku ini orang asing dan bodoh, ketika aku tiba di sini aku bertanya pada penduduk “Kota apakah ini?” mereka menjawab “kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam” Lalu saya bertanya: “di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”, jawab mereka. Lalu aku bertanya “ di mana istana para sahabatnya?”, Mereka katakan: “Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah.”

Kemudian Hatim membacakan ayat di depan sang penguasa:

“Sesungguhnya telah ada pada  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  bagi orang yang mengharap  Allah dan  hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (33:21)

“Karenanya tuan-tuan, siapakah sesungguhnya yang tuan-tuan teladani, Rasulullah kah? atau Fir’aun?”, ucap Hatim. Penguasa itupun lalu membiarkan Hatim pergi.

Kisah ini saya nukil dari ihya’ ulumiddin. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk berhias diri dengan hal yang diperbolehkan. Namun, bila ia terus menerus berkecimpung dengan hal yang diperbolehkan itu, maka akan bangkit rasa cinta kepadanya dan sukar meninggalkannya. Sementara agar diri terjaga untuk tidak larut dalam kemewahan, ia harus menjauhkan diri darinya. Karena jika keselamatan bisa diperoleh dengan berkecimpung di dalam hal yang dibolehkan itu tentu Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak akan ‘membelakangi dunia’ dengan membuka baju sutera dan menanggalkan cincin emas.

Sumber tulisan darisini

Advertisements

Diskusi Yuuk? ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s