Memoar Inspirasi Sunyi

Jarum jam menunjukkan 03.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Selepas merenung, kini pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya.

Dalam bingkai jendela kamar, kulihat sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati yang sedang kalut dengan cita-cita yang masih kabur. Kuperhatikan  lagi lebih dalam ke langit kelam yang luas itu, kini kutemukan sesuatu kabar di dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nak, ketika ananda merasa kehilangan arah dalam menetapkan tujuan. Peganglah dengan erat buhul pedoman sekuat tenagamu! Dekati lingkungan dimana orang-orang di dalamnya disibukkan dengan kebaikan, cepat atau lambat engkau akan menemukan kembali buah citamu yang sesungguhnya!”

Bisikan dari hawar-hawar ucapan guru saya kembali hadir mendecis di telinga saya. Terhenyak sejenak, selanjutnya saya larut dalam temuan “ajaib” yang saya temukan pada malam ini. Semua ucapan, pepatah, figur yang sempat keluar dari sosok sahabatku ini sekarang berbicara kembali. Kini saya benar-benar hanyut dalam aliran kenangan yang pernah saya lalui di kelas mata pelajaran fisika bersama beliau. Pesan itu saya peroleh dari beliau ketika saya merasa kabur dengan tujuan hidupku. Saksikanlah kawan, kini ku perkenalkan seorang guru yang bersahaja, sesosok sederhana dalam hidupnya namun kaya akan ilmunya. Melalui pelajaran fisika beliau pandai berbagi hikmah kepada murid-muridnya. Bapak Ahmad itulah untaian huruf yang menyusun namanya, sebuah panggilan yang menjadi memoar dalam ingatan saya selama beberapa tahun terakhir ini. Sangat bahagia hati ini sempat dijumpakan dengan orang seperti beliau, tiada inspirasi yang terlewat kala saya berhasil membersamainya, tiada pula kesiaan merundung datang kala interaksi aku jalin dengannya. Beliau hadir dalam kehidupan saya sebagai seorang guru yang hebat, sahabat yang amanah, tak tetinggal beliau telah mewakili kehadiran kembali Ayah saya yang telah meninggalkan saya sejak 12 tahun silam.

Selain itu, hal yang masih tersimpan dalam memori ingatan adalah ketika saya sempat terlambat memasuki kelas fisika pagi karena harus memfotokopi bahan materi pelajaran terlebih dahulu, terlebih saya juga tidak sempat mengerjakan tugas yang beliau berikan pada pertemuan sebelumnya. Reaksi beliau pada waktu itu biasa saja, tidak memarahi saya. Hanya saja di sela mengajarnya beliau menyisipkan pesan akan perlunya tanggung jawab atas setiap kesalahan yang telah dilakukan sekecil apapun itu. Setelah mengakhiri kelas beliau memanggil saya untuk menangih pertanggungjawaban saya atas kesalahan yang telah dilakukan tadi pagi. Beliau memberikan keleluasaan bagi saya untuk menentukan hukumannya. Beliau hanya minta jenis hukuman yang harus saya lakukan berupa tindakan yang dapat membuat jera namun tidak memberatkan saya. Sangat demokratis, jarang saya temui guru yang memberikan keleluasaan bagi siswanya untuk berfikir. Tidak asal menyalahkan siswa yang melanggar aturan ataupun membiarkan siswa melakukan kesalahan tanpa ada rambu-rambu hukuman. Dari peristiwa ini saya belajar untuk hidup bertanggung jawab, berfikir menyelesaikan masalah sendiri sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Mungkin inilah yang dinamakan Pendidikan. Menurut kacamata saya beliau berhasil mendidik kami disamping beliau mengajar mata pelajaran fisika.

Bukan hanya saya seorang diri yang menyukai gaya beliau dalam mendidik kami, namun rekan-rekan saya sekelas atau bahkan sesekolah menyenangi cara beliau mengajar. Banyak teman-teman saya yang tidak minat pelajaran fisika, mendadak menyukainya. Core dari beliau hanya sederhana, beliau tidak sekedar mengajar pelajaran semata, namun beliau juga mendidik kami dengan karakter-karakter positif (akhlak yang baik) melalui aktivitas belajar kami.

Namun keberadaan guru yang bisa mendidik seperti Pak Ahmad di negeri ini masih bisa dihitung dengan sederhana. Mayoritas para guru masih berkutat dengan pengajaran akademik saja. Silabus pengajaran yang disusun masih bersifat kaku. Materi tentang akhlak/ karakter pun masih dikemas terpisah dan sering dianggap remeh. Padahal penanaman nilai-nilai karakter haruslah diintegrasikan dalam kegiatan pengajaran sehari-hari.

Dalam perspektif neuroscience, terlalu berorientasi akademik bisa membahayakan perkembangan otak, terutama pada anak-anak dibawah usia 14 tahun, yang 90 persen pembentukan otaknya terjadi pada masa ini. Proses pembelajaran yang membosankan dan penuh beban akan membuat siswa membuat siswa mudah stres. Hasil studi Bremner menunjukkan, stres dapat membunuh sel-sel otak sehingga memperkecil volume otak bagian hippocampus. Suasana stres juga mengaktifkan bagian batang otak. Stres berkepanjangan akan memunculkan sifat reptil yang reaktif dan impulsif tanpa berpikir. Perilaku tawuran, sikap brutal, minimnya empati merupakan salah satu bentuk peran dari otak reptil ini. (sumber: Bincang Edukasi Kompas 15/10/12)

Melihat kondisi seperti ini perlu adanya perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi akademik akan menghambat tumbuhnya Soft Skill, sehingga perlu dirombak. Misalnya dengan tidak memberikan ranking pada siswa tingkat rendah, memicu tanggung jawab siswa, melatih kreatifitas siswa dalam mengerjakan tugas, mengajarkan siswa untuk cakap mengolah emosi, berkarakter baik, mampu membangun motivasi, berpikir analitis, kritis dan kreatif. Terlebih terkait kurikulum pendidikan, pemerataan kualitas guru dan ketersediaan fasilitas untuk belajar sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Sehingga perbaikan sistem pendidikan ini melibatkan semua pihak, baik itu siswa, guru, pemerintah dan orang tua. Semuanya memiliki peran untuk memperbaiki pendidikan.

Pesan dan amanat guru favorit saya masih saja terngiang dalam ingatanku, walau pesan itu telah singgah bertahun-tahun dalam memori. Sebagai seorang muda yang masih menuai ilmu di kampus gajah (read itb), harus kumantapkan lagi prinsipku. Kelak jika saya terjun di dunia pendidikan minimal saya harus seperti guru saya bahkan harus lebih baik lagi. Bahkan bisa bisa mencetak ribuan Pak Ahmad pada generasi selanjutnya. Karena pendidikan tanpa karakter/ akhlak, ia hanya pisau yang tajam saja. Belum diketahui pengunaannya akankah digunakan untuk aktivitas baik atau digunakan untuk merusak?

“Uraian mode Justify”

Bismillahirrohmaanirrahiim

Jarum jam menunjukkan 02.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Lepas bermunajah kepada Illahi, pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya. Di sepanjang malam ini Nizam terjaga di saat rekan-rekan kostnya masih terlelap dalam hangatnya balutan selimut. Ia sedang mereflesikan diri, meneguhkan hati untuk menentukan langkah yang menjadi cita-citanya kelak.

Dalam bingkai jendela kamar, dilihatnya ke langit. Sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati nizam yang saat itu sedang kalut dengan cita-cita masa depannya. Di luar hawar-hawar terdengar suara orang-orang yang sedang membangunkan warga untuk sahur. Diperhatikannya lagi lebih dalam ke langit yang luas itu, kini Nizam menemukan sesuatu dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nizaaaaam, Nizaaaam ayo kita ke mesjid?” Ajak Ali dengan nada ajakan khas anak-anak. “Iya, li bentar saya masih persiapan dulu” jawab Nizam di balik pintu. “Maaah, buku Ramadhan Nizam dimana ya mah? Lupa nyimpennya”

“Coba lihat diatas pago di kumpulan kitab-kitab punya bapak”

“Sudah dicari mah, tapi tidak ada!”

“Di tas juga tidak ada?”

“Iya, mah sudah Nizam periksa semua, tapi tidak juga ditemukan”

“Ya sudah, Sebaiknya nizam berangkat sekarang, nanti ketinggalan shalat berjamaahnya”

“Tapi kan mah nizam harus mencatat kuliah subuh Pak Kiai?”

“Nizam pakai buku catatan mamah dulu ya! Nanti bisa disalinkan kan? Kasihan Ali sudah menunggu lama di luar. Akan coba mamah bantu cari nanti selepas shalat”

“Baik mah, kalau begitu Nizam pamit ya mah, Assalamu’alaikum!!”

“Iya nak, Wa’alaikumussalam Warahmatullah”

Kepergian Nizam ke mesjid seperti biasa diiringi dengan sun tangan kepada ibunya. “Ali, maaf harus menunggu lama, tadi saya mencari buku ramadhan dulu, tapi tidak ditemukan juga” seru Nizam “nggak apa-apa Zam, ayo kita segera berangkat! Agar tidak ketinggalan shalat shubuh berjamaah” jawab Ali. Berangkatlah kedua insan kecil ini menyusuri kegelapan langit untuk mengais cahaya ilmu yang akhir-akhir ini menghiasi aktivitas mereka berdua. Untuk menuju tajug (masjid), mereka harus melewati perkampungan dan galeng sawah. Perjalanan yang cukup panjang ini mereka tempuh dengan berjalan kaki. “Zam, tadi sahurnya makan lauk apa?” ucap Ali memecah kesunyian. “Makannya dengan semur jengkol li,” jawab Nizam. “waah, bau dong. Hehe emang enak makan jengkol pada saat sahur zam?”

“Enak atuh li, makanya saya makan, sebenarnya itu sisa makan pada saat buka. Berhubung jumlahnya banyak jadinya nyisa, sayang kan kalau tidak dimakan lagi bisa mubadzir li”

“kenapa, masaknya banyak-banyak zam?. Kan bisa sedikit-sedikit masaknya”

“yang masak bukan mamah li, itu kiriman bibi. Ali mau? Masih ada tuh mentahnya” tawar Nizam. “waah, terima kasih banyak zam sebelumnya, boleh deh buat buka nanti”

“Nanti, bukanya di rumah saya aja ya Li?. Insya Allah akan Nizam buatkan semur jengkol khusus untuk Ali” ajak Nizam “boleh, emang kamu bisa masak zam?” tanya Ali ragu. “Bisa dong, kan kelak saya mau jadi suami idaman, hehehe” canda Nizam “hehe, dasar nizam kecil-kecil sudah mikir begituan, ayo percepat langkahnya” sahut Ali.

Perjalanan kedua panglima kecil selalu dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan. Seringkali hal-hal kecil yang telah mereka alami di sekolah, di rumah atau di madrasah mereka ceritakan satu sama lain. Wajah rembulan di penghujung cakrawala senantiasa menjadi saksi bisu akan perjalanan anak-anak ini kala ia memantulkan sinar sahabatnya (matahari).

***

Di Surau rekan-rekan Nizam lainnya telah berkumpul. Masing-masing dari mereka telah menggenggam buku saktinya yaitu buku ramadhan yang sudah menjadi “ritual” harian yang harus mereka isi selama bulan Ramadhan. Hari ini sepertinya Nizam sendirian yang tidak membawa buku sakti itu. Tapi pembawaan Nizam tetap damai, karena ia tetap berbekal buku catatan milik ibunya untuk mencatat ceramah Pak Kiai Hasan.”Ssssttt, adik-adik diam! Sebentar lagi Pak Kiai segera tiba di surau” seru Kang Shohib menenangkan anak-anak yang masih gaduh. Kang Shohib ini merupakan murid Pak kiai yang paling besar di surau, wajar beliau sering menjadi penanggung jawab anak-anak selama di surau. Kadang beliau suka membantu Pak Kiai mengajar adik-adik kecil yang masih belajar Iqro.

Petakan yang bernama surau itu tidaklah luas, ia dibangun dan dikokohkan dengan untaian kayu dan bambu yang bersatu padu membentuk sebuah bangunan mini. Walau kecil, ia tidak pernah kesepian. Karena setiap harinya ia senantiasa diramaikan anak-anak yang siap berjihad, berjuang meraih Ilmu. Bangunan ini terletak tepat di samping tajug/ masjid, agar anak-anak mudah menjangkaunya selepas shalat bersama. Kini di depan surau telah duduk Pak Kiai Hasan, sesosok sederhana namun bersahaja. Beliau seringkali menjadi icon pemicu semangat anak-anak dalam belajar meraih ilmu. Seringkali surau dijejali anak-anak yang hendak belajar. Sehingga jumlah mereka tidak tertampung lagi untuk bisa duduk di dalam surau. Ajaib memang, walau tanpa adanya absensi jumlah murid-murid yang hadir tidak pernah surut berkurang. Bahkan Nizam dan Ali pada saat sakit pun sering memaksakan hadir di majelis ilmu ini.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kabarnya baik anak-anak?” Buka Kiai Hasan

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb, alhamdulillah baik Pak Kiai” jawab anak-anak serentak. Secara umum jawaban anak-anak begitu. Walau tidak menutup kemungkinan ada anak yang sedang sakit ringan. “Alhamdulillahirobbil’alamiin, segala puji bagi Allah penggenggam jiwa-jiwa yang hidup. Sholawat dan Salam senantiasa tercurah kepada sang Teladan utama Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam. Anak-anak Insya Allah pada kesempatan ini Bapak akan membahas pentingnya Ilmu, dan menceritakan bagaimana kisah para Ulama yang menjelaskan bahwa betapa Islam sangat mencintai dan memperhatikan adab-adab mencari ilmu” papar Pak Kiai. “bla bla bla, dst” sementara itu anak-anak khidmat mendengarkan dan mencatat perkataan pak Kiai di buku sakti mereka. Perjalanan majelis ini berlangsung hangat, anak-anak seringkali bertanya kepada Pak Kiai terkait hal-hal yang baru mereka dengar.

            Sekali-sekali Nizam memperhatikan kelakuan rekan-rekannya, yang terkadang ada saja hal aneh yang ia temui. “Yah, pak Kiai kok tidak membahas lanjutan sifat-sifat Allah lagi” keluh Wildan yang berada di samping Nizam, “kenapa emangnya Dan? Kan materinya juga bagus” tanya Nizam. “Saya sudah terlanjur mengisi buku ramadhan saya dengan materi sifat Allah Al-Bashar” jawab Wildan “haaah? Kok bisa Dan!” Nizam merasa kaget sambil menahan tawa “Iya ini saya tulis berdasarkan tulisan dari buku kakak saya, kemarin Pak Kiai membahas As-Sama. Biasanya kan pembahasannya sistematis, kali ini beda” papar Wildan “waduh, tenang aja Dan, Pak Kiai baik kok. Jelaskan saja nanti ke Pak Kiai saat minta tanda tangan beliau” ucap Nizam menenangkan kegalauan Wildan. “Baik Zam, mudah-mudahan beliau tidak marah”

“Iya Dan, nyantai aja!”

Dilihatnya pula anak-anak yang lain cukup menuliskan “uraian” dengan mode justify di bukunya. Hal ini biasa dilakukan anak-anak junior yang masih menginjak kelas 1 dan 2 Madrasah Ibtidaiyah. Anak kecil itu nampak kasak-kusuk kebingungan saat mengisi buku aktivitas ramadhan miliknya. Barangkali, apa yang ada di benaknya persis seperti apa yang ada di benak Nizam beberapa tahun Silam. Ajaibnya mereka menuliskan kata yang sama seperti yang Nizam lakukan saat pertama kali menulis yaitu “uraian” dengan mode justify. Nizam hanya tersenyum dalam hati melihat kelakuan mereka sambil menerawang ramadhan masa lalu yang telah Nizam lalui. “Ya Rabb, beberapa tahun terus bergulir, kata ajaib itu masih saja digunakan, tak berubah: ‘uraian’”. Lirih Nizam. Disadarinya kata “uraian” tidaklah tepat menggambarkan aktivitas mencatat kami, sebab menguraikan berarti menjabarkan panjang lebar, sedangkan yang kami lakukan hanyalah menyingkat kalimat-kalimat penting dari Pak Kiai saja selebihnya ditulis “uraian” di lahan sisa kertas yang masih kosong.

            Sudahlah dalam hati Nizam menggertak dirinya untuk fokus kembali memperhatikan ucapan Pak Kiai, kini Nizam telah lebih baik dalam menyimak, setiap kali belajar ia catat dengan lengkap, walau tetap tidak bisa mencatat kembali seluruhnya perkataan pak Kiai. Singkatnya inti dari ceramah hari ini Pak Kiai Hasan menjelaskan kisah seorang Al-Jahiz sosok pejuang ilmu, beliau adalah seorang Ilmuwan Muslim yang kaya akan ilmu. Tahukah ternyata arti dari Al-Jahiz adalah “melotot”, karena beliau adalah seorang yang hidupnya miskin di zamannya. Siang hari ia gunakan untuk berjualan ikan di pasar, sementara malam hari ia gunakan waktunya untuk menginap di perpustakaan untuk belajar. Karena beliau tidak memiliki uang untuk membeli buku, juga tidak memiliki waktu untuk belajar selain malam hari. Karena kekurangan tidur Al Jahiz memiliki mata merah dan melotot. Masya Allah begitu gigihnya para peraih Ilmu masa silam. Buku karya-karya Al-Jahiz ini sangat banyak salah satunya adalah Khatib Al-Bukhala. Beberapa riwayat mengatakan bahwa beliau meninggal karena tertimbun buku di perpustakaannya. Allohu Akbar!! Pak Kiai juga membacakan quote milik al Jahiz, yang isinya:

 Dalam setiap generasi dan setiap bangsa,

terdapat beberapa golongan yang memiliki keinginan untuk mempelajari cara alam bekerja.

Seandainya mereka tidak ada,

maka bangsa-bangsa pun akan binasa (Al-Jahiz).

Berkali-kali anak-anak dibuat kagum atas apa yang Kiai Hasan sampaikan kepada anak-anak. “Anak-anak begitulah ulama terdahulu menghormati dan adab akan ilmu. Seorang Al-jahiz yang miskin saja seperti itu, apalagi dengan orang kaya masa silam. Lebih-lebih lagi. Mereka memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing”. Jelas Pak Kiai. “Bagaimana dengan para penguasanya Pak?” tanya Ali yang dari tadi khusyuk menyimak ceramah. “Begitupun penguasanya, mereka pemilik kebijakan. Mereka tidak ingin kalah dengan rakyat-rakyatnya. Para pemimpin para ulama melahirkan banyak karya dan tulisan hingga saat ini kita lah penikmat karya-karya mereka”. Jawab kiai Hasan. “Allohu Akbar, saya terinspirasi sekali Pak” teriak Wildan yang kini tampak lebih ceria dan semangat.

            Selepas ceramah Kiai Hasan berpesan kepada murid-muridnya untuk senantiasa bersemangat dalam meraih ilmu, dan giat mengikatnya dengan mencatat. Anak-anak tampak semakin bergairah setelah dicharge oleh ceramahnya pak Kiai. Anak-anak memang lebih suka dibawa bercerita.

“Mudah-mudahan ilmu yang telah Bapak sampaikan membawa berkah dan manfaat, amiin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb” tutup Pak Kiai.

”Amiin, wa’alaikumussalam Wr. Wb” seru anak-anak berjamaah. Beberapa detik kemudian barisan ular terbentuk, anak-anak antri untuk menunggu giliran tanda tangan Pak Kiai di buku saktinya.

“Mohon maaf Pak Kiai, kali ini saya pakai buku catatan dulu. Buku Ramadhannya hilang” ucap Nizam, saat gilirannya menghadap Pak Kiai.

“Oh, buku Ramadhan punya Nizam ada di rumah Bapak, kemarin ketinggalan. Nanti selepas bubaran ambil ya ke rumah!”

“Begitu ya Pak! Mohon maaf Pak telah merepotkan”

“Tidak apa-apa Zam, setelah saya perhatikan isi tulisanmu lengkap! Sepertinya kamu suka menulis ya Zam?” Tanya Pak Kiai

“Insya Allah Pak Kiai, saya sangat terinspirasi oleh sosok-sosok ulama dahulu yang gemar menulis. Mohon do’anya ya Pak!”

“Insya Allah Zam, semoga Allah memberkahi Nizam”

“Amiin, syukran Pak Kiai”

Tempat mulia yang bernama surau itu harus sepi untuk sementara, anak-anak kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

tok tok tok!!”suara ketukan pintu membangunkan Nizam dari lamunannya

“Nizam, Nizam!! sahur” disusulnya dengan ajakan untuk sahur. “Iya, Zak sebentar”.

Sudah tak asing lagi Zaki rekan kostnya seperti biasa membangunkan Nizam.

Jarum jam tidak lagi menunjukkan 02.25 karena ia telah mengiringi lamunan Nizam selama beberapa waktu. Tidak terasa memang, namun hasil penemuannya itu berhasil membuat ia tersenyum beberapa saat. Ia teringat kembali kepada kawan-kawan seperjuangan Suraunya terlebih kepada gurunya di kampung yang jauh disana, tak lupa kepada orang tuanya yang mash menaruh harapan di pundak Nizam. Rindu semakin menjalar dalam dadanya, hela nafas ia hirup panjang untuk sekedar menenangkan kembali.

“Zam, ayo nasi sudah masak, lauk juga sudah sedia tadi belanjanya sekalian! Nanti keburu imsak” Ajak Zaki kembali

“Iya Zak, waaah terima kasih banyak! Nanti uang lauknya saya ganti ya!”

“siip brader!  Eh ya, bagaimana dengan projek tulisanmu, Sudah selesai?”

“Sedikit lagi, entah mengapa menyelesaikan itu lebih sulit dari pada memulainya”

“Sepertinya perlu muhasabah lagi, upgrade kembali niatnya Zam”

“Iya akhi betul, Insya Allah kali ini semangat hadir kembali, malam tadi saya tidak bisa istirahat, namun saya menemukan berhasil menemukan sesuatu”

“apa itu Zam?”

“Do’a Guru saya, semangat dukungan kawan-kawan kecil saya, motivasi kisah ulama-ulama terdahulu yang sangat hobby menuliskan ilmu yang diperolehnya”

“Bagaimana ceritanya Zam?”

“Kompleks, sedikit misteri,, hehe mungkin begitulah cara Allah membukakan Inspirasi”

“Iya Zam, mungkin sebagai amunisi tambahan. Sahabat rasul, seorang Ilmuwan yaitu Ali Radhiallohu Anhum pernah berpesan: ‘Ikatlah Ilmu itu dengan tulisan, Ilmu itu tersebar di alam’. Pepatah beliau menunjukkan bahwa mengikat ilmu yang kita miliki itu sangat penting untuk dilakukan”

“Waah iya ya Zaki terima kasih banyak pengingatnya!, baiklah kini saya semakin yakin! Insya Allah saya akan tampil sebagai pejuang di jalan sunyi”

“Amiin, semangatlah Zam. Insya Allah saya juga!”

Nizam dan Zaki hanya kuliah di kampus Gajah yang pada prinsipnya mencetak sarjana-sarjana teknik dan sains. Tapi hal itu tidak menghalangi harapan pemuda-pemuda ini menjadi pejuang di jalan sunyi. Selayaknya hobby para ulama masa silam.

Barakallah Nizam!!

Penggalan kenangan  ramadhan kecil

@Sayembara Al Qolam tingkat JABAR

Hidup itu Cerpen

✔Hidup itu CERPEN,,

✔Dari Tanah, Di Atas Tanah, Kembali Ke Tanah.

✔Maka Hiduplah Karena ALLAH, Engkau Akan Menjadi Makhluk ALLAH yang Paling Bahagia

Akhir-akhir ini saya sangat menikmati membuat CERPEN, perjalanannya pendek dan singkat dalam bingkai waktu yang terbatas. Perjalanan hidup setelah kematian jauh lebih panjang, sangat dan unlimited process tidak cocok jua kalau dianalogikan sebagai Novel :D. kemarin saya sedikit terusik dengan ucapan seorang Ulama, ilmuwan dan sastrawan Muslim Ibnu Qoyyim Al jauziyyah, berikut perkataannya: “”Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih…”

mudah-mudahan pesan ini mengundang Ibrah bagi saya pribadi khusunya!

Allah-Allah-Allah, tunjukkan dan arahkan langkah ini agar berada pada jalan lurusMu .. amiin

@Sabuga ITB

PMW areas

Jangan bingung !

Kala Mereka Merundung Berhimpitan

Dilema rasanya pada saat diberi opsi untuk memegang amanat yang baru. Disaat semua amanat yang saya pegang aktif kembali, mereka yang baru berboyongan datang menghampiri lagi, mudahnya mereka mendeteksi keberadaan diri ini. Ahhh, apa memang pantas saya memegang amanah sebesar ini? Sebuah bisikan yang seringkali datang disaat mereka hadir dalam kehidupan saya. Hawar-hawar seperti ini harus dianalisis lebih mendalam, diteliti dengan cerdas, agar ia datang bukan hanya untuk mematikan kesempatan yang telah Allah berikan, namun juga menjadi sebuah sarana intropeksi diri atas kondisi yang saya hadapi saat ini. Dalam bulan ini ada beberapa tawaran job yang berdatangan pada saya. Tutor asrama itb? Sudah saya accept kini sedang berlangsung keberjalanannya sekarang, admin @amalsalman baru negosiasi jika memang sama-sama setuju di accept jua, kepala madrasah di muslif? Saya kembalikan lagi dan menyarankan untuk mencari yang lain, karena saya lebih nyaman sbg supporting di muslif. Dan kini BPH Gamais masih menunggu konfirmasi saya sejak kemarin. Ku kabarkan pada sender messanger  yang meminta konfirmasi bahwa saya belum bisa memutuskannya. Secara kasat mata amanah jenis ini memnag terlihat berat. Rasanya saya masih jauh dari kata “mampu” untuk menghadangnya. Namun disana pula ada peluang bagi saya untuk berkecipung dalam kebaikan, berkumpul bersama orang-orang terpilih, sebuah madrasah untuk berkaca diri agar diri ini bisa terjaga dalam kebaikan.

Namun?

Ahh, saya bingung! Perlu proses yang baik utk hal ini. Berharap bisikan, kecenderungan di dalam hati jernih segera bersuara lagi, karena hakikatnya ia itu suci. Mewakili suara pilihan takdir baik dari Allah. Harus segera bergerak cepat, semoga tidak dilema lebih lama utk menentukan pilihan ini. Saya tidak ingin termasuk dalam kategori yang disebutkan dalam hadits ini: “Ada dua kenikmatan yang sering manusia tertipu dan merugi didalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan “ (HR. Bukhari)

SISMUL AJIB :D

Seperti biasanya pagi-pagi jam 7 hari senin, aktivitas saya adalh kuliah Sistem Multimedia. namun kali ini ada sedikit yang berbeda. Bapak Yusep menyuruh semua mahasiswa membawa laptopnya masing-masing. Untung di bawa, padahal tidak ingat dengan intruksi beliau. hehehe

Pas tiba dikelas tiba-tiba saja intruksinya buatlah animasi dengan waktu sekian menit, pakai alat apapun!! waduuuh, tidak punya softwarenya juga. lihat kiri kanan pakai adobe flash.

Eh, ternyata bisa juga pakai Photo Shop. Berikut hasilnya 😀

Mumpung lagi momen-momentnya Idul Adha, saya hanya kepikiran membuat animasi sederhana tentang Qurban 😀 ..

Alhamdulillah

@Sekre1

 

 

 

Belum Pertamax :D

Assalamu’alaikum wr wb.

Setelah melalui proses penilaian yang panjang, cukup melelahkan, dan melatih kesabaran, akhirnya pada hari ini Sabtu, 6 Oktober 2012, kami atas nama Panitia GKCTN 2 UKKI Unsoed mengumumkan Pemenang GKCTN 2 sekaligus 20 Besar Karya Terbaik yang berhak mendapat hadiah yang telah disediakan. Berikut daftar Ketiga Juara dan 20 Besar tersebut:

1. Juara I –> Surya Pratama Putra “Aku Mencari Tuhan” (Score 965)

2. Juara II –> Dwi Annisa Fajria “Biarkan Aku Tetap Buta” (Score 963)
3. Juara III –> A’la Dzunnuroin “Muhasabah Cinta” (Score 962)
4. Marisa Dwi Kusuma Wardani “Nabiel” (Score 946)
5. Aceng Salim “Perjalanan Hikmah di “Ibu Kota” Ramadhan” (Score 943)
6. Noviana Putri “Seindah Pelangi” (Scor 933)
7. Muhammad Taufik Hidayat “A Dream” (Score 932)
8. Risha Amalia “Jodoh Itu Rizki” (Score 919)
9. Bayu Rhamadani W. “Badan Pusat Statistik” (Score 910)
10. Bayu Tri Murti “Mentoringmorfosa” (Score 903)
11. Eka Restianingsih “Bismillah, Ya Allah Kali Ini Saya Berjilbab Karena-Mu” (Score 901)
12. Mawar Rovita Sari “Elektron yang Hilang” (Score 898)
13. Fitriana Hidayah “Polusi Cinta” (Score 897)
14. Hayin Naila N. “Ratapan Anak Meong” (Score 895)
15. Iswatul Hasanah “Bisikan dari Surga” (Score 892)
16. Shelyna Fauziah “Lukisan Langit Malam” (Score 888)
17. Rida Farhani “Mutiara Tampanku” (Score 887)
18. Ayu Ginarsih “Tuhan, Aku Siap untuk Menghadap-Mu” (Score 886)
19. Athika Darumas Putri “Dakwah: Jangan Memilih, Lakukan yang Terbaik untuk Semua!” (Score 878)
20. Irsyad/Salimun Abenanza “Bunga Ngilu” (Score 878)

Selamat kepada para pemenang, dan jangan berkecil hati bagi peserta yang belum beruntung. Menulislah dengan penuh komitmen, karena tulisan adalah bentuk pengabadian pemikiran yang abstrak.

20 Besar Terbaik akan kami kirimi 1 Bukti Cetak Antologi setelah buku selesai dicetak. Dan bagi ketiga juara, juga akan mendapatkan uang tunai dan sertifikat.

Khusus untuk KETIGA JUARA, harap segera mengirimkan nomor rekening masing-masing ke nomor HP 085747221027 (Yudi Dirgantara–Ketua Panitia GKCTN 2).

Berkaitan dengan acara Bedah Buku Nasional pada tanggal 21 Oktober 2012, kami mengundang 20 Besar Karya Terbaik untuk hadir dalam acara tersebut, terutama untuk KETIGA JUARA.

Sekian pengumuman ini kami sampaikan.
Let’s write and inspire!

Wassalamu’alaikum wr wb.

_Pan GKCTN 2 UKKI Unsoed 2012

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menitipkan kemampuan-kemampouan brilian bagi hambaNya yang memahami. Ini lomba yang pertama kali saya ikuti tingkat nasional, dgn mendapat skor ke lima lumayan lah! Mudah-mudahan impian seorang Nizam yang ada dalam penggalan kisah cerpen yang saya tulis bisa terwujud atas kehendak dan kemurahan Illahi, amiin Ya Mujiib ^^
Pasca pindahan Asrama KP
membersamai kelelahan sepanjang malam ^^
Allohu Akbar!!

Nasihat Imam Ghazali #1

Nasihat Imam Ghazali untuk Kepala Negara

Indahnya Nasihat

Nafsu Ingin Kuasa

Gejala-gejala yang sangat membahayakan negara, ialah penguasa negara kemasukan ingin nafsu kuasa. Terutama kalau kepala negara mulai memandang dirinya maha kuasa, tidak ada lagi kekuasaan lain yang diakui dan dipatuhinya, maka bukan saja dia menjadi ancaman bagi keamanan masyarakat, dan negara, bahkan mengancam pula akan perdamaian dunia, karena sifat-sifat agresinya yang mungkin timbul.

Al Gazali dalam bukunya “Ihya” juz III mengutip beberapa ucapan beberapa ahli sufi:

“Di dalam batinnya tiap-tiap manusia hidup nafsu yang pernah diterangkan oleh Firaun secara terus terang: Akulah Tuhan Yang Maha Tinggi, tetapi mereka tidak mendapat jalan untuk mewujudkannya.”

Dengan pendapat inilah al Gazali melahirkan kekuatirannya bahwa setiap penguasa negara dihinggapi oleh penyakit Firaun itu ialah nafsu kuasa yang hendak menandingi Tuhan. Penyakit ini bukan saja memakan dirinya sendiri dan membinasakan Kepala Negara, tapi meningkat kepada penyakit-penyakit nafsu yang lebih berbahaya lagi, yaitu menjerumuskan rakyat kepada nafsu imperialisme, militerisme, chauvinisme, dan sebagainya.

Pandangan al Gazali mengenai hal ini dipujikan oleh Donaldson sebagai pandangan yang sangat mengagumkan:

 “From the ethical point of view a more surprising supplementary section in Al Ghazzali’s classification of evil qualities is that in which he ascribes those evil qualities that come from unrestrained ambition to the divine element in the soul, when it transcends its bounds.

“The love of overlordship (hubb al isti’la’), the love of supremacy (hub al ista’la’), the apropriation of special privileges (takhsis), and the usurpation of absolute authority (istibdad) are these qualities really due to the divine element in the human soul, feeling itself to be godlike in contrast to the other man?…Or this section may be due in part to an artificial balance in the classification of the influence of lordship (rabubbiya) againts devilry (shaitaniya).”

 Adapun tingkat-tingkat nafsu itu sebagai tersebut di atas ialah:

  1. Hubbul Istila’ (nafsu ingin kebesaran penaklukan), yaitu keinginan hendak besar dan menaklukkan, baik dengan ilmu pengetahuan maupun dengan kekuatan.
  2. Hubbul Isti’la’ (nafsu kekuasaan), yaitu keinginan hendak menguasai dan menundukkan orang lain di bawah kekuasannya. Setelah nafsu kuasanya meluap-luap maka timbullah:
  3. Takhshish (nafsu hak pengistimewaan), yaitu keinginan supaya dianggap dan mempunyai hak-hak istimewa di dalam segala hal, sehingga hanya dialah satu-satunya yang berhak mendapatkan fasilitas dan prioritas. Jika nafsu memonopli segala hak ini sudah mencapai puncaknya, maka datanglah nafsu yang terakhir:
  4. Hubbul istibdad (nafsu maha kuasa), yaitu nafsu berkuasa sendiri yang ingin memegang segala kekuasaan di dalam tangannya. Dengan demikian, segala nafsu Firaun yang menamakan dirinya “Akulah Tuhanmu yang Maha Kuasa Maha Tinggi” terjadilah di dalam dirinya Kepala Negara yang absolut, otoriter dan diktatorial itu.

Demikianlah Al Gazali menggambarkan ancman moral dan nafsu ingin kuasa yang tumbuh di dalam jiwa setiap penguasa. Dengan sadar atau tidak sadar, nafsu itu menyeretnya dan juga seluruh negara ke dalam bencana totaliter dan otoriter yang sangat berbahaya…

Tugas-Tugas Kepala Negara

Sesudah memperingatkan nafsu-nafsu yang mempengaruhi Kepala Negara dan segenap penguasa yang di bawahnya, maka Al Gazali menyebutkan lagi tugas-tugas moral yang harus dilakukan oleh seorang Kepala Negara. Siapa yang mempelajari akan teori-teori pemerintahan Islam, tentu diperolehnya seorang sarjana besar yang mengemukakan tugas-tugas politik Kepala Negara, yang tugasnya 10 macam tugas, ialah sarjana politik Imam Mawardi (meninggal 450H=1058M), dengan bukunya “Al Ahkam us Sulthaniyah”.

Al Gazali di dalam bukunya “At tibr ul masbuk fi nashihat il muluk” menyebutkan bahwa di samping tugas-tugas politik yang dikemukakan oleh Imam Mawardi itu, maka ada lagi 10 macam pula tugas moral yang harus ditunaikan oleh Kepala Negara:

  1. Mengetahui dan menyadari akan pentingnya dan beratnya tugas pemerintahan, yang baik buruknya tergantung kepada kebijaksanaannya memegang pimpinan.

Dalam hal ini al Gazali tidaklah memperbedakan: apakah pemerintahan itu langsung di bawah pimpinannya ataukah dipercayakannya kepada suatu kabinet parlementer yang bertanggungjawab. Di dalam keduanya, kepala Negara tetap memegang tanggungjawab moral yang sangat besar.

  1. Jangan puas bahwa dirinya sendiri tidak berlaku zalim, tetapi haruslah meratakan pendirian anti kezaliman itu kepada segenap pembesar yang bertanggungjawab dengan seluruh pegawai pemerintahan, kepada segenap Ajudan, Pengawal dan para pelayannya dan kepada segenap para sahabat dan handai tolan yang senantiasa berhubungan dengan dia.

Dengan ini al Gazali hendak menegaskan bahwa tidaklah cukup baiknya seorang kepala Negara yang tidak zalim, tetapi harus segala hubungannya, baik resmi pemerintah ataupun tidak resmi diharuskan pula tidak zalim.

  1. Janganlah berhati takabur dan bersikap sambong, sebab kesombongan itu menimbulkan kemarahan dan pendendaman.
  2. Kepala Negara haruslah merasakan dirinya sama dengan rakyat biasa di dalam segala hal. Segala barang yang tidak dia senangi terhadap dirinya, janganlah dia lakukan kepada seorang rakyat Muslim manapun juga.
  3. Janganlah menghabiskan waktu mengerjakan ibadat kepada Tuhan yang sifatnya sunnat (tidak wajib), sedang di hadapan pintunya masih ada rakyat yang memerlukan bantuannya.
  4. Janganlah memperturutkan nafsu keinginan, misalnya pakaian yang mewah atau makanan yang lezat, tetapi biasakanlah bersikap sederhana di dalam segala sesuatu. Sesungguhnya keadilan tidak ada tanpa sifat sederhana (qanaah).
  5. Jauhilah sifat kasar dank eras, selama sifat lunak lembut dan bijaksana masih dapat dijalankan.
  6. Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menimbulkan kesenangan keridhaaan seluruh rakyat, dengan mengikuti ajaran Islam.

Dengan ini al Gazali mempertemukan dua unsur yang penting, yaitu kecintaan rakyat dan mentaati agama.

  1. Janganlah mencari keridhaan seseorang atau sekelompok rakyat dengan jalan menentang Islam.

Di sinipun unsur rakyat tidak boleh dipertentangkan dengan unsur agama.

  1. Membantu rakyat pada setiap kali terjadi kesulitan, membelanjakan uang Negara untuk menghindarkan kelaparan atau kemahalan harga, karena dengan ini barulah dapat tetap kesetiaan dan ketaatan rakyat, serta membasmi nafsu lobanya kaum penimbun yang mengutamakan keuntungan sendiri.

*(dikutip dari buku Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al Gazali karya Zainal Abidin Ahmad, Bulan Bintang, 1975:310-314). n

oleh: Zainal Abidin Ahmad (Ulama Masyumi)