“Uraian mode Justify”

Bismillahirrohmaanirrahiim

Jarum jam menunjukkan 02.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Lepas bermunajah kepada Illahi, pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya. Di sepanjang malam ini Nizam terjaga di saat rekan-rekan kostnya masih terlelap dalam hangatnya balutan selimut. Ia sedang mereflesikan diri, meneguhkan hati untuk menentukan langkah yang menjadi cita-citanya kelak.

Dalam bingkai jendela kamar, dilihatnya ke langit. Sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati nizam yang saat itu sedang kalut dengan cita-cita masa depannya. Di luar hawar-hawar terdengar suara orang-orang yang sedang membangunkan warga untuk sahur. Diperhatikannya lagi lebih dalam ke langit yang luas itu, kini Nizam menemukan sesuatu dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nizaaaaam, Nizaaaam ayo kita ke mesjid?” Ajak Ali dengan nada ajakan khas anak-anak. “Iya, li bentar saya masih persiapan dulu” jawab Nizam di balik pintu. “Maaah, buku Ramadhan Nizam dimana ya mah? Lupa nyimpennya”

“Coba lihat diatas pago di kumpulan kitab-kitab punya bapak”

“Sudah dicari mah, tapi tidak ada!”

“Di tas juga tidak ada?”

“Iya, mah sudah Nizam periksa semua, tapi tidak juga ditemukan”

“Ya sudah, Sebaiknya nizam berangkat sekarang, nanti ketinggalan shalat berjamaahnya”

“Tapi kan mah nizam harus mencatat kuliah subuh Pak Kiai?”

“Nizam pakai buku catatan mamah dulu ya! Nanti bisa disalinkan kan? Kasihan Ali sudah menunggu lama di luar. Akan coba mamah bantu cari nanti selepas shalat”

“Baik mah, kalau begitu Nizam pamit ya mah, Assalamu’alaikum!!”

“Iya nak, Wa’alaikumussalam Warahmatullah”

Kepergian Nizam ke mesjid seperti biasa diiringi dengan sun tangan kepada ibunya. “Ali, maaf harus menunggu lama, tadi saya mencari buku ramadhan dulu, tapi tidak ditemukan juga” seru Nizam “nggak apa-apa Zam, ayo kita segera berangkat! Agar tidak ketinggalan shalat shubuh berjamaah” jawab Ali. Berangkatlah kedua insan kecil ini menyusuri kegelapan langit untuk mengais cahaya ilmu yang akhir-akhir ini menghiasi aktivitas mereka berdua. Untuk menuju tajug (masjid), mereka harus melewati perkampungan dan galeng sawah. Perjalanan yang cukup panjang ini mereka tempuh dengan berjalan kaki. “Zam, tadi sahurnya makan lauk apa?” ucap Ali memecah kesunyian. “Makannya dengan semur jengkol li,” jawab Nizam. “waah, bau dong. Hehe emang enak makan jengkol pada saat sahur zam?”

“Enak atuh li, makanya saya makan, sebenarnya itu sisa makan pada saat buka. Berhubung jumlahnya banyak jadinya nyisa, sayang kan kalau tidak dimakan lagi bisa mubadzir li”

“kenapa, masaknya banyak-banyak zam?. Kan bisa sedikit-sedikit masaknya”

“yang masak bukan mamah li, itu kiriman bibi. Ali mau? Masih ada tuh mentahnya” tawar Nizam. “waah, terima kasih banyak zam sebelumnya, boleh deh buat buka nanti”

“Nanti, bukanya di rumah saya aja ya Li?. Insya Allah akan Nizam buatkan semur jengkol khusus untuk Ali” ajak Nizam “boleh, emang kamu bisa masak zam?” tanya Ali ragu. “Bisa dong, kan kelak saya mau jadi suami idaman, hehehe” canda Nizam “hehe, dasar nizam kecil-kecil sudah mikir begituan, ayo percepat langkahnya” sahut Ali.

Perjalanan kedua panglima kecil selalu dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan. Seringkali hal-hal kecil yang telah mereka alami di sekolah, di rumah atau di madrasah mereka ceritakan satu sama lain. Wajah rembulan di penghujung cakrawala senantiasa menjadi saksi bisu akan perjalanan anak-anak ini kala ia memantulkan sinar sahabatnya (matahari).

***

Di Surau rekan-rekan Nizam lainnya telah berkumpul. Masing-masing dari mereka telah menggenggam buku saktinya yaitu buku ramadhan yang sudah menjadi “ritual” harian yang harus mereka isi selama bulan Ramadhan. Hari ini sepertinya Nizam sendirian yang tidak membawa buku sakti itu. Tapi pembawaan Nizam tetap damai, karena ia tetap berbekal buku catatan milik ibunya untuk mencatat ceramah Pak Kiai Hasan.”Ssssttt, adik-adik diam! Sebentar lagi Pak Kiai segera tiba di surau” seru Kang Shohib menenangkan anak-anak yang masih gaduh. Kang Shohib ini merupakan murid Pak kiai yang paling besar di surau, wajar beliau sering menjadi penanggung jawab anak-anak selama di surau. Kadang beliau suka membantu Pak Kiai mengajar adik-adik kecil yang masih belajar Iqro.

Petakan yang bernama surau itu tidaklah luas, ia dibangun dan dikokohkan dengan untaian kayu dan bambu yang bersatu padu membentuk sebuah bangunan mini. Walau kecil, ia tidak pernah kesepian. Karena setiap harinya ia senantiasa diramaikan anak-anak yang siap berjihad, berjuang meraih Ilmu. Bangunan ini terletak tepat di samping tajug/ masjid, agar anak-anak mudah menjangkaunya selepas shalat bersama. Kini di depan surau telah duduk Pak Kiai Hasan, sesosok sederhana namun bersahaja. Beliau seringkali menjadi icon pemicu semangat anak-anak dalam belajar meraih ilmu. Seringkali surau dijejali anak-anak yang hendak belajar. Sehingga jumlah mereka tidak tertampung lagi untuk bisa duduk di dalam surau. Ajaib memang, walau tanpa adanya absensi jumlah murid-murid yang hadir tidak pernah surut berkurang. Bahkan Nizam dan Ali pada saat sakit pun sering memaksakan hadir di majelis ilmu ini.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kabarnya baik anak-anak?” Buka Kiai Hasan

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb, alhamdulillah baik Pak Kiai” jawab anak-anak serentak. Secara umum jawaban anak-anak begitu. Walau tidak menutup kemungkinan ada anak yang sedang sakit ringan. “Alhamdulillahirobbil’alamiin, segala puji bagi Allah penggenggam jiwa-jiwa yang hidup. Sholawat dan Salam senantiasa tercurah kepada sang Teladan utama Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam. Anak-anak Insya Allah pada kesempatan ini Bapak akan membahas pentingnya Ilmu, dan menceritakan bagaimana kisah para Ulama yang menjelaskan bahwa betapa Islam sangat mencintai dan memperhatikan adab-adab mencari ilmu” papar Pak Kiai. “bla bla bla, dst” sementara itu anak-anak khidmat mendengarkan dan mencatat perkataan pak Kiai di buku sakti mereka. Perjalanan majelis ini berlangsung hangat, anak-anak seringkali bertanya kepada Pak Kiai terkait hal-hal yang baru mereka dengar.

            Sekali-sekali Nizam memperhatikan kelakuan rekan-rekannya, yang terkadang ada saja hal aneh yang ia temui. “Yah, pak Kiai kok tidak membahas lanjutan sifat-sifat Allah lagi” keluh Wildan yang berada di samping Nizam, “kenapa emangnya Dan? Kan materinya juga bagus” tanya Nizam. “Saya sudah terlanjur mengisi buku ramadhan saya dengan materi sifat Allah Al-Bashar” jawab Wildan “haaah? Kok bisa Dan!” Nizam merasa kaget sambil menahan tawa “Iya ini saya tulis berdasarkan tulisan dari buku kakak saya, kemarin Pak Kiai membahas As-Sama. Biasanya kan pembahasannya sistematis, kali ini beda” papar Wildan “waduh, tenang aja Dan, Pak Kiai baik kok. Jelaskan saja nanti ke Pak Kiai saat minta tanda tangan beliau” ucap Nizam menenangkan kegalauan Wildan. “Baik Zam, mudah-mudahan beliau tidak marah”

“Iya Dan, nyantai aja!”

Dilihatnya pula anak-anak yang lain cukup menuliskan “uraian” dengan mode justify di bukunya. Hal ini biasa dilakukan anak-anak junior yang masih menginjak kelas 1 dan 2 Madrasah Ibtidaiyah. Anak kecil itu nampak kasak-kusuk kebingungan saat mengisi buku aktivitas ramadhan miliknya. Barangkali, apa yang ada di benaknya persis seperti apa yang ada di benak Nizam beberapa tahun Silam. Ajaibnya mereka menuliskan kata yang sama seperti yang Nizam lakukan saat pertama kali menulis yaitu “uraian” dengan mode justify. Nizam hanya tersenyum dalam hati melihat kelakuan mereka sambil menerawang ramadhan masa lalu yang telah Nizam lalui. “Ya Rabb, beberapa tahun terus bergulir, kata ajaib itu masih saja digunakan, tak berubah: ‘uraian’”. Lirih Nizam. Disadarinya kata “uraian” tidaklah tepat menggambarkan aktivitas mencatat kami, sebab menguraikan berarti menjabarkan panjang lebar, sedangkan yang kami lakukan hanyalah menyingkat kalimat-kalimat penting dari Pak Kiai saja selebihnya ditulis “uraian” di lahan sisa kertas yang masih kosong.

            Sudahlah dalam hati Nizam menggertak dirinya untuk fokus kembali memperhatikan ucapan Pak Kiai, kini Nizam telah lebih baik dalam menyimak, setiap kali belajar ia catat dengan lengkap, walau tetap tidak bisa mencatat kembali seluruhnya perkataan pak Kiai. Singkatnya inti dari ceramah hari ini Pak Kiai Hasan menjelaskan kisah seorang Al-Jahiz sosok pejuang ilmu, beliau adalah seorang Ilmuwan Muslim yang kaya akan ilmu. Tahukah ternyata arti dari Al-Jahiz adalah “melotot”, karena beliau adalah seorang yang hidupnya miskin di zamannya. Siang hari ia gunakan untuk berjualan ikan di pasar, sementara malam hari ia gunakan waktunya untuk menginap di perpustakaan untuk belajar. Karena beliau tidak memiliki uang untuk membeli buku, juga tidak memiliki waktu untuk belajar selain malam hari. Karena kekurangan tidur Al Jahiz memiliki mata merah dan melotot. Masya Allah begitu gigihnya para peraih Ilmu masa silam. Buku karya-karya Al-Jahiz ini sangat banyak salah satunya adalah Khatib Al-Bukhala. Beberapa riwayat mengatakan bahwa beliau meninggal karena tertimbun buku di perpustakaannya. Allohu Akbar!! Pak Kiai juga membacakan quote milik al Jahiz, yang isinya:

 Dalam setiap generasi dan setiap bangsa,

terdapat beberapa golongan yang memiliki keinginan untuk mempelajari cara alam bekerja.

Seandainya mereka tidak ada,

maka bangsa-bangsa pun akan binasa (Al-Jahiz).

Berkali-kali anak-anak dibuat kagum atas apa yang Kiai Hasan sampaikan kepada anak-anak. “Anak-anak begitulah ulama terdahulu menghormati dan adab akan ilmu. Seorang Al-jahiz yang miskin saja seperti itu, apalagi dengan orang kaya masa silam. Lebih-lebih lagi. Mereka memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing”. Jelas Pak Kiai. “Bagaimana dengan para penguasanya Pak?” tanya Ali yang dari tadi khusyuk menyimak ceramah. “Begitupun penguasanya, mereka pemilik kebijakan. Mereka tidak ingin kalah dengan rakyat-rakyatnya. Para pemimpin para ulama melahirkan banyak karya dan tulisan hingga saat ini kita lah penikmat karya-karya mereka”. Jawab kiai Hasan. “Allohu Akbar, saya terinspirasi sekali Pak” teriak Wildan yang kini tampak lebih ceria dan semangat.

            Selepas ceramah Kiai Hasan berpesan kepada murid-muridnya untuk senantiasa bersemangat dalam meraih ilmu, dan giat mengikatnya dengan mencatat. Anak-anak tampak semakin bergairah setelah dicharge oleh ceramahnya pak Kiai. Anak-anak memang lebih suka dibawa bercerita.

“Mudah-mudahan ilmu yang telah Bapak sampaikan membawa berkah dan manfaat, amiin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb” tutup Pak Kiai.

”Amiin, wa’alaikumussalam Wr. Wb” seru anak-anak berjamaah. Beberapa detik kemudian barisan ular terbentuk, anak-anak antri untuk menunggu giliran tanda tangan Pak Kiai di buku saktinya.

“Mohon maaf Pak Kiai, kali ini saya pakai buku catatan dulu. Buku Ramadhannya hilang” ucap Nizam, saat gilirannya menghadap Pak Kiai.

“Oh, buku Ramadhan punya Nizam ada di rumah Bapak, kemarin ketinggalan. Nanti selepas bubaran ambil ya ke rumah!”

“Begitu ya Pak! Mohon maaf Pak telah merepotkan”

“Tidak apa-apa Zam, setelah saya perhatikan isi tulisanmu lengkap! Sepertinya kamu suka menulis ya Zam?” Tanya Pak Kiai

“Insya Allah Pak Kiai, saya sangat terinspirasi oleh sosok-sosok ulama dahulu yang gemar menulis. Mohon do’anya ya Pak!”

“Insya Allah Zam, semoga Allah memberkahi Nizam”

“Amiin, syukran Pak Kiai”

Tempat mulia yang bernama surau itu harus sepi untuk sementara, anak-anak kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

tok tok tok!!”suara ketukan pintu membangunkan Nizam dari lamunannya

“Nizam, Nizam!! sahur” disusulnya dengan ajakan untuk sahur. “Iya, Zak sebentar”.

Sudah tak asing lagi Zaki rekan kostnya seperti biasa membangunkan Nizam.

Jarum jam tidak lagi menunjukkan 02.25 karena ia telah mengiringi lamunan Nizam selama beberapa waktu. Tidak terasa memang, namun hasil penemuannya itu berhasil membuat ia tersenyum beberapa saat. Ia teringat kembali kepada kawan-kawan seperjuangan Suraunya terlebih kepada gurunya di kampung yang jauh disana, tak lupa kepada orang tuanya yang mash menaruh harapan di pundak Nizam. Rindu semakin menjalar dalam dadanya, hela nafas ia hirup panjang untuk sekedar menenangkan kembali.

“Zam, ayo nasi sudah masak, lauk juga sudah sedia tadi belanjanya sekalian! Nanti keburu imsak” Ajak Zaki kembali

“Iya Zak, waaah terima kasih banyak! Nanti uang lauknya saya ganti ya!”

“siip brader!  Eh ya, bagaimana dengan projek tulisanmu, Sudah selesai?”

“Sedikit lagi, entah mengapa menyelesaikan itu lebih sulit dari pada memulainya”

“Sepertinya perlu muhasabah lagi, upgrade kembali niatnya Zam”

“Iya akhi betul, Insya Allah kali ini semangat hadir kembali, malam tadi saya tidak bisa istirahat, namun saya menemukan berhasil menemukan sesuatu”

“apa itu Zam?”

“Do’a Guru saya, semangat dukungan kawan-kawan kecil saya, motivasi kisah ulama-ulama terdahulu yang sangat hobby menuliskan ilmu yang diperolehnya”

“Bagaimana ceritanya Zam?”

“Kompleks, sedikit misteri,, hehe mungkin begitulah cara Allah membukakan Inspirasi”

“Iya Zam, mungkin sebagai amunisi tambahan. Sahabat rasul, seorang Ilmuwan yaitu Ali Radhiallohu Anhum pernah berpesan: ‘Ikatlah Ilmu itu dengan tulisan, Ilmu itu tersebar di alam’. Pepatah beliau menunjukkan bahwa mengikat ilmu yang kita miliki itu sangat penting untuk dilakukan”

“Waah iya ya Zaki terima kasih banyak pengingatnya!, baiklah kini saya semakin yakin! Insya Allah saya akan tampil sebagai pejuang di jalan sunyi”

“Amiin, semangatlah Zam. Insya Allah saya juga!”

Nizam dan Zaki hanya kuliah di kampus Gajah yang pada prinsipnya mencetak sarjana-sarjana teknik dan sains. Tapi hal itu tidak menghalangi harapan pemuda-pemuda ini menjadi pejuang di jalan sunyi. Selayaknya hobby para ulama masa silam.

Barakallah Nizam!!

Penggalan kenangan  ramadhan kecil

@Sayembara Al Qolam tingkat JABAR

Advertisements

Diskusi Yuuk? ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s