Memoar Inspirasi Sunyi

Jarum jam menunjukkan 03.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Selepas merenung, kini pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya.

Dalam bingkai jendela kamar, kulihat sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati yang sedang kalut dengan cita-cita yang masih kabur. Kuperhatikan  lagi lebih dalam ke langit kelam yang luas itu, kini kutemukan sesuatu kabar di dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nak, ketika ananda merasa kehilangan arah dalam menetapkan tujuan. Peganglah dengan erat buhul pedoman sekuat tenagamu! Dekati lingkungan dimana orang-orang di dalamnya disibukkan dengan kebaikan, cepat atau lambat engkau akan menemukan kembali buah citamu yang sesungguhnya!”

Bisikan dari hawar-hawar ucapan guru saya kembali hadir mendecis di telinga saya. Terhenyak sejenak, selanjutnya saya larut dalam temuan “ajaib” yang saya temukan pada malam ini. Semua ucapan, pepatah, figur yang sempat keluar dari sosok sahabatku ini sekarang berbicara kembali. Kini saya benar-benar hanyut dalam aliran kenangan yang pernah saya lalui di kelas mata pelajaran fisika bersama beliau. Pesan itu saya peroleh dari beliau ketika saya merasa kabur dengan tujuan hidupku. Saksikanlah kawan, kini ku perkenalkan seorang guru yang bersahaja, sesosok sederhana dalam hidupnya namun kaya akan ilmunya. Melalui pelajaran fisika beliau pandai berbagi hikmah kepada murid-muridnya. Bapak Ahmad itulah untaian huruf yang menyusun namanya, sebuah panggilan yang menjadi memoar dalam ingatan saya selama beberapa tahun terakhir ini. Sangat bahagia hati ini sempat dijumpakan dengan orang seperti beliau, tiada inspirasi yang terlewat kala saya berhasil membersamainya, tiada pula kesiaan merundung datang kala interaksi aku jalin dengannya. Beliau hadir dalam kehidupan saya sebagai seorang guru yang hebat, sahabat yang amanah, tak tetinggal beliau telah mewakili kehadiran kembali Ayah saya yang telah meninggalkan saya sejak 12 tahun silam.

Selain itu, hal yang masih tersimpan dalam memori ingatan adalah ketika saya sempat terlambat memasuki kelas fisika pagi karena harus memfotokopi bahan materi pelajaran terlebih dahulu, terlebih saya juga tidak sempat mengerjakan tugas yang beliau berikan pada pertemuan sebelumnya. Reaksi beliau pada waktu itu biasa saja, tidak memarahi saya. Hanya saja di sela mengajarnya beliau menyisipkan pesan akan perlunya tanggung jawab atas setiap kesalahan yang telah dilakukan sekecil apapun itu. Setelah mengakhiri kelas beliau memanggil saya untuk menangih pertanggungjawaban saya atas kesalahan yang telah dilakukan tadi pagi. Beliau memberikan keleluasaan bagi saya untuk menentukan hukumannya. Beliau hanya minta jenis hukuman yang harus saya lakukan berupa tindakan yang dapat membuat jera namun tidak memberatkan saya. Sangat demokratis, jarang saya temui guru yang memberikan keleluasaan bagi siswanya untuk berfikir. Tidak asal menyalahkan siswa yang melanggar aturan ataupun membiarkan siswa melakukan kesalahan tanpa ada rambu-rambu hukuman. Dari peristiwa ini saya belajar untuk hidup bertanggung jawab, berfikir menyelesaikan masalah sendiri sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Mungkin inilah yang dinamakan Pendidikan. Menurut kacamata saya beliau berhasil mendidik kami disamping beliau mengajar mata pelajaran fisika.

Bukan hanya saya seorang diri yang menyukai gaya beliau dalam mendidik kami, namun rekan-rekan saya sekelas atau bahkan sesekolah menyenangi cara beliau mengajar. Banyak teman-teman saya yang tidak minat pelajaran fisika, mendadak menyukainya. Core dari beliau hanya sederhana, beliau tidak sekedar mengajar pelajaran semata, namun beliau juga mendidik kami dengan karakter-karakter positif (akhlak yang baik) melalui aktivitas belajar kami.

Namun keberadaan guru yang bisa mendidik seperti Pak Ahmad di negeri ini masih bisa dihitung dengan sederhana. Mayoritas para guru masih berkutat dengan pengajaran akademik saja. Silabus pengajaran yang disusun masih bersifat kaku. Materi tentang akhlak/ karakter pun masih dikemas terpisah dan sering dianggap remeh. Padahal penanaman nilai-nilai karakter haruslah diintegrasikan dalam kegiatan pengajaran sehari-hari.

Dalam perspektif neuroscience, terlalu berorientasi akademik bisa membahayakan perkembangan otak, terutama pada anak-anak dibawah usia 14 tahun, yang 90 persen pembentukan otaknya terjadi pada masa ini. Proses pembelajaran yang membosankan dan penuh beban akan membuat siswa membuat siswa mudah stres. Hasil studi Bremner menunjukkan, stres dapat membunuh sel-sel otak sehingga memperkecil volume otak bagian hippocampus. Suasana stres juga mengaktifkan bagian batang otak. Stres berkepanjangan akan memunculkan sifat reptil yang reaktif dan impulsif tanpa berpikir. Perilaku tawuran, sikap brutal, minimnya empati merupakan salah satu bentuk peran dari otak reptil ini. (sumber: Bincang Edukasi Kompas 15/10/12)

Melihat kondisi seperti ini perlu adanya perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi akademik akan menghambat tumbuhnya Soft Skill, sehingga perlu dirombak. Misalnya dengan tidak memberikan ranking pada siswa tingkat rendah, memicu tanggung jawab siswa, melatih kreatifitas siswa dalam mengerjakan tugas, mengajarkan siswa untuk cakap mengolah emosi, berkarakter baik, mampu membangun motivasi, berpikir analitis, kritis dan kreatif. Terlebih terkait kurikulum pendidikan, pemerataan kualitas guru dan ketersediaan fasilitas untuk belajar sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Sehingga perbaikan sistem pendidikan ini melibatkan semua pihak, baik itu siswa, guru, pemerintah dan orang tua. Semuanya memiliki peran untuk memperbaiki pendidikan.

Pesan dan amanat guru favorit saya masih saja terngiang dalam ingatanku, walau pesan itu telah singgah bertahun-tahun dalam memori. Sebagai seorang muda yang masih menuai ilmu di kampus gajah (read itb), harus kumantapkan lagi prinsipku. Kelak jika saya terjun di dunia pendidikan minimal saya harus seperti guru saya bahkan harus lebih baik lagi. Bahkan bisa bisa mencetak ribuan Pak Ahmad pada generasi selanjutnya. Karena pendidikan tanpa karakter/ akhlak, ia hanya pisau yang tajam saja. Belum diketahui pengunaannya akankah digunakan untuk aktivitas baik atau digunakan untuk merusak?

Advertisements

Diskusi Yuuk? ~~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s