Screet Doctor #Diam&Bergerak

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan bersalin pakaian.
Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukah anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?”

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, “Saudaraku, saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda”.

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredakan amarahan si bapak, bahkan suaranya mengguntur, “Anda bilang apa? Tenang!? Sedikit pun anda tidak peduli rupanya, apakah anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat? –semoga Allah mengampuni anda– apa yang akan anda lakukan jika anak anda meninggal?”.

Sambil tetap mengulas semyum dokter menanggapi, “Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan Allah:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan, ‘Kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali”.

Dokter itu melanjutkan, “Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman?

Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga dapat memendekkannya; Usia di tangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah, oleh karena itu jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan ucapkanlah ‘inna lillahi wa`inna ilaihi raji’un. Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushalla rumah sakit untuk melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar Ia menyelamatkan anak anda”. Tambahnya.

Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, “Nasehat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda”.

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergesa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien, “Berbahagialah Pak, al?amdulillah, operasi berjalan lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci.”

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain, tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat. Seketika orang tua anak itu berkata, “Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikit pun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?”

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata, “Kemarin putra beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan putranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda.”

YA ALLAH RAHMATILAH HATI YANG MESKI TERLUKA, NAMUN TIDAK BERBICARA

sumber: http://gizanherbal.wordpress.com

Advertisements

Bujangan yg tidak biasa

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna 

Hidup Membujang antara pilihan dan keterpaksaan. Ada orang yang membujang karena belum dapat pasangan. Sebenarnya hati sudah sangat ingin menikah, mental OK, materi ada, tapi apalah daya jika jodoh tak kunjung tiba. Ada juga yang memang belum siap secara mental. Materi ada, calon di depan mata, namun belum berani menikah, ya tidak bisa dipaksa. Ada yang memang belum siap secara materi, lalu bertekad untuk mengejar karir terlebih dahulu. Ada juga yang memang belum ingin menikah, tanpa alasan yang jelasa dan pasti.

Apapun alasan membujang, that’s OK. Namun perlu orientasi yang jelas dari keputusan untuk tidak menikah dulu. Agar masa tersebut penuh makna. Tidak sia-sia begitu saja.

Bagiamana cara mengoptimalkan waktu bujangan? Mari belajar kepada orang yang berpengalaman dan berhasil dalam pengalamannya. Siapa lagi jika bukan pada ulama’kita?

Tentu mereka pernah melewati masa bujangan. Bahkan tak sedikit dari ulama’ kita yang memutuskan untuk membujang, baik sementara maupun selamanya. Bukan karena mereka tidak mengetahui hukum menikah, bahkan mereka menulis masalah anjuran menikah dalam kitab-kitab mereka. Mereka juga tidak menyampaikan pendapat bahwa membujang lebih utama daripada menikah. Atau ungkapan-ungkapan pembenaran tentang sikap yang mereka pilih, membujang. Dalam pandangan mereka, menikah tetap menjadi ajaran dan syari’at Rosulullah.

Di antara mereka ada yang memang tidak menikah seumur hidup. Ibnu Jarir ath Thabari (224-310 H) contohnya. Beliau yang menulis kitab klasik petama (Tafshir ath-Thabari).Beliau ulama’ dengan multi keilmuan. Seorang ahli tafsir, ahli hadist, ahli fiqih, ahli ushul fiqih, ahli qiro’ah, ahli sejarah, ahli bahasa, ahli sastra, ahli sy’ir, ahli matematika, ahli kedokteran, dengan karya yang melimpah ruah.

Lihatlah, BUJANGAN tapi hasil KARYANYA JELAS.

Ada juga ulama’ yang hanya menunda untuk menikah, emilih membujang dengan batasan waktu untuk membekali diri dengan ilmu. Imam Ahmad bin Hambal menunda menikah sampai usainya 40 tahun untuk konsentrasi mencari ilmu. Begitu usianya genap empat puluh tahun, ilmunya mendalam, karya yang dihasilkan jelas, baru menikah.

BUJANGAN, TAPI BERPRESTASI.

Umar bin Khattab pernah menyampaikan, “Pelajarilah Fiqih sebelum kalian menikah dan menjadi tuan di rumah kalian, lantaran (menikah) akan menyibukkan kalian dari ilmu.”

Beginilah langkah yang harus ditempuh saat meretas masa bujangan. Full power untuk membekali diri dengan ilmu. Banyak mengkaji ilmu, baik sendiri ataupun dengan menghadiri majelis-majelis ilmu, serta melahirkan karya-karya besar. Bukan malah sebaliknya, bersenang-senang saja, merasa bebas tanpa tanggungjawab di masa depan, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting bahkan sia-sia.

Mumpung masih bujangan, belajarlah sedalam-dalamnya. Mumpung masih sendiri, berkaryalah sebanyak-banyaknya. Kualitaskan diri Anda sehingga Allah mengkaruniakan istri yang juga berkualitas. Dengan begitu, akan lahir dari keluarga Anda kelak generasi-generasi yang berkualitas.

 

tulisan ini diambil dari sini, baiknya, pedulinya orang terhadap bujangan seperti saya ini