Memoar Inspirasi Sunyi

Jarum jam menunjukkan 03.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Selepas merenung, kini pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya.

Dalam bingkai jendela kamar, kulihat sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati yang sedang kalut dengan cita-cita yang masih kabur. Kuperhatikan  lagi lebih dalam ke langit kelam yang luas itu, kini kutemukan sesuatu kabar di dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nak, ketika ananda merasa kehilangan arah dalam menetapkan tujuan. Peganglah dengan erat buhul pedoman sekuat tenagamu! Dekati lingkungan dimana orang-orang di dalamnya disibukkan dengan kebaikan, cepat atau lambat engkau akan menemukan kembali buah citamu yang sesungguhnya!”

Bisikan dari hawar-hawar ucapan guru saya kembali hadir mendecis di telinga saya. Terhenyak sejenak, selanjutnya saya larut dalam temuan “ajaib” yang saya temukan pada malam ini. Semua ucapan, pepatah, figur yang sempat keluar dari sosok sahabatku ini sekarang berbicara kembali. Kini saya benar-benar hanyut dalam aliran kenangan yang pernah saya lalui di kelas mata pelajaran fisika bersama beliau. Pesan itu saya peroleh dari beliau ketika saya merasa kabur dengan tujuan hidupku. Saksikanlah kawan, kini ku perkenalkan seorang guru yang bersahaja, sesosok sederhana dalam hidupnya namun kaya akan ilmunya. Melalui pelajaran fisika beliau pandai berbagi hikmah kepada murid-muridnya. Bapak Ahmad itulah untaian huruf yang menyusun namanya, sebuah panggilan yang menjadi memoar dalam ingatan saya selama beberapa tahun terakhir ini. Sangat bahagia hati ini sempat dijumpakan dengan orang seperti beliau, tiada inspirasi yang terlewat kala saya berhasil membersamainya, tiada pula kesiaan merundung datang kala interaksi aku jalin dengannya. Beliau hadir dalam kehidupan saya sebagai seorang guru yang hebat, sahabat yang amanah, tak tetinggal beliau telah mewakili kehadiran kembali Ayah saya yang telah meninggalkan saya sejak 12 tahun silam.

Selain itu, hal yang masih tersimpan dalam memori ingatan adalah ketika saya sempat terlambat memasuki kelas fisika pagi karena harus memfotokopi bahan materi pelajaran terlebih dahulu, terlebih saya juga tidak sempat mengerjakan tugas yang beliau berikan pada pertemuan sebelumnya. Reaksi beliau pada waktu itu biasa saja, tidak memarahi saya. Hanya saja di sela mengajarnya beliau menyisipkan pesan akan perlunya tanggung jawab atas setiap kesalahan yang telah dilakukan sekecil apapun itu. Setelah mengakhiri kelas beliau memanggil saya untuk menangih pertanggungjawaban saya atas kesalahan yang telah dilakukan tadi pagi. Beliau memberikan keleluasaan bagi saya untuk menentukan hukumannya. Beliau hanya minta jenis hukuman yang harus saya lakukan berupa tindakan yang dapat membuat jera namun tidak memberatkan saya. Sangat demokratis, jarang saya temui guru yang memberikan keleluasaan bagi siswanya untuk berfikir. Tidak asal menyalahkan siswa yang melanggar aturan ataupun membiarkan siswa melakukan kesalahan tanpa ada rambu-rambu hukuman. Dari peristiwa ini saya belajar untuk hidup bertanggung jawab, berfikir menyelesaikan masalah sendiri sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Mungkin inilah yang dinamakan Pendidikan. Menurut kacamata saya beliau berhasil mendidik kami disamping beliau mengajar mata pelajaran fisika.

Bukan hanya saya seorang diri yang menyukai gaya beliau dalam mendidik kami, namun rekan-rekan saya sekelas atau bahkan sesekolah menyenangi cara beliau mengajar. Banyak teman-teman saya yang tidak minat pelajaran fisika, mendadak menyukainya. Core dari beliau hanya sederhana, beliau tidak sekedar mengajar pelajaran semata, namun beliau juga mendidik kami dengan karakter-karakter positif (akhlak yang baik) melalui aktivitas belajar kami.

Namun keberadaan guru yang bisa mendidik seperti Pak Ahmad di negeri ini masih bisa dihitung dengan sederhana. Mayoritas para guru masih berkutat dengan pengajaran akademik saja. Silabus pengajaran yang disusun masih bersifat kaku. Materi tentang akhlak/ karakter pun masih dikemas terpisah dan sering dianggap remeh. Padahal penanaman nilai-nilai karakter haruslah diintegrasikan dalam kegiatan pengajaran sehari-hari.

Dalam perspektif neuroscience, terlalu berorientasi akademik bisa membahayakan perkembangan otak, terutama pada anak-anak dibawah usia 14 tahun, yang 90 persen pembentukan otaknya terjadi pada masa ini. Proses pembelajaran yang membosankan dan penuh beban akan membuat siswa membuat siswa mudah stres. Hasil studi Bremner menunjukkan, stres dapat membunuh sel-sel otak sehingga memperkecil volume otak bagian hippocampus. Suasana stres juga mengaktifkan bagian batang otak. Stres berkepanjangan akan memunculkan sifat reptil yang reaktif dan impulsif tanpa berpikir. Perilaku tawuran, sikap brutal, minimnya empati merupakan salah satu bentuk peran dari otak reptil ini. (sumber: Bincang Edukasi Kompas 15/10/12)

Melihat kondisi seperti ini perlu adanya perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi akademik akan menghambat tumbuhnya Soft Skill, sehingga perlu dirombak. Misalnya dengan tidak memberikan ranking pada siswa tingkat rendah, memicu tanggung jawab siswa, melatih kreatifitas siswa dalam mengerjakan tugas, mengajarkan siswa untuk cakap mengolah emosi, berkarakter baik, mampu membangun motivasi, berpikir analitis, kritis dan kreatif. Terlebih terkait kurikulum pendidikan, pemerataan kualitas guru dan ketersediaan fasilitas untuk belajar sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Sehingga perbaikan sistem pendidikan ini melibatkan semua pihak, baik itu siswa, guru, pemerintah dan orang tua. Semuanya memiliki peran untuk memperbaiki pendidikan.

Pesan dan amanat guru favorit saya masih saja terngiang dalam ingatanku, walau pesan itu telah singgah bertahun-tahun dalam memori. Sebagai seorang muda yang masih menuai ilmu di kampus gajah (read itb), harus kumantapkan lagi prinsipku. Kelak jika saya terjun di dunia pendidikan minimal saya harus seperti guru saya bahkan harus lebih baik lagi. Bahkan bisa bisa mencetak ribuan Pak Ahmad pada generasi selanjutnya. Karena pendidikan tanpa karakter/ akhlak, ia hanya pisau yang tajam saja. Belum diketahui pengunaannya akankah digunakan untuk aktivitas baik atau digunakan untuk merusak?

Hidup itu Cerpen

✔Hidup itu CERPEN,,

✔Dari Tanah, Di Atas Tanah, Kembali Ke Tanah.

✔Maka Hiduplah Karena ALLAH, Engkau Akan Menjadi Makhluk ALLAH yang Paling Bahagia

Akhir-akhir ini saya sangat menikmati membuat CERPEN, perjalanannya pendek dan singkat dalam bingkai waktu yang terbatas. Perjalanan hidup setelah kematian jauh lebih panjang, sangat dan unlimited process tidak cocok jua kalau dianalogikan sebagai Novel :D. kemarin saya sedikit terusik dengan ucapan seorang Ulama, ilmuwan dan sastrawan Muslim Ibnu Qoyyim Al jauziyyah, berikut perkataannya: “”Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih…”

mudah-mudahan pesan ini mengundang Ibrah bagi saya pribadi khusunya!

Allah-Allah-Allah, tunjukkan dan arahkan langkah ini agar berada pada jalan lurusMu .. amiin

@Sabuga ITB

PMW areas

Jangan bingung !

Kala Mereka Merundung Berhimpitan

Dilema rasanya pada saat diberi opsi untuk memegang amanat yang baru. Disaat semua amanat yang saya pegang aktif kembali, mereka yang baru berboyongan datang menghampiri lagi, mudahnya mereka mendeteksi keberadaan diri ini. Ahhh, apa memang pantas saya memegang amanah sebesar ini? Sebuah bisikan yang seringkali datang disaat mereka hadir dalam kehidupan saya. Hawar-hawar seperti ini harus dianalisis lebih mendalam, diteliti dengan cerdas, agar ia datang bukan hanya untuk mematikan kesempatan yang telah Allah berikan, namun juga menjadi sebuah sarana intropeksi diri atas kondisi yang saya hadapi saat ini. Dalam bulan ini ada beberapa tawaran job yang berdatangan pada saya. Tutor asrama itb? Sudah saya accept kini sedang berlangsung keberjalanannya sekarang, admin @amalsalman baru negosiasi jika memang sama-sama setuju di accept jua, kepala madrasah di muslif? Saya kembalikan lagi dan menyarankan untuk mencari yang lain, karena saya lebih nyaman sbg supporting di muslif. Dan kini BPH Gamais masih menunggu konfirmasi saya sejak kemarin. Ku kabarkan pada sender messanger  yang meminta konfirmasi bahwa saya belum bisa memutuskannya. Secara kasat mata amanah jenis ini memnag terlihat berat. Rasanya saya masih jauh dari kata “mampu” untuk menghadangnya. Namun disana pula ada peluang bagi saya untuk berkecipung dalam kebaikan, berkumpul bersama orang-orang terpilih, sebuah madrasah untuk berkaca diri agar diri ini bisa terjaga dalam kebaikan.

Namun?

Ahh, saya bingung! Perlu proses yang baik utk hal ini. Berharap bisikan, kecenderungan di dalam hati jernih segera bersuara lagi, karena hakikatnya ia itu suci. Mewakili suara pilihan takdir baik dari Allah. Harus segera bergerak cepat, semoga tidak dilema lebih lama utk menentukan pilihan ini. Saya tidak ingin termasuk dalam kategori yang disebutkan dalam hadits ini: “Ada dua kenikmatan yang sering manusia tertipu dan merugi didalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan “ (HR. Bukhari)

Pilu!!

Sering saya berpikir apakah yang saya alami ini normal? Yang pada umumnya orang-orang alami? . . beberapa saat aku tatap langit, ku terawang ke atas sana lebih dalam, seraya kutemukan kembali bahwa faktanya mayoritas tidak merasakan apa yang saya rasakan. Seperti biasa sahabat kost saya, Eka Nur pamit untuk izin berangkat halaqah bersama kawannya. Rupanya kali ini ia dijemput kawannya dengan menaiki sepeda motor. “Salim, ieu abdi nitip konci bade angkat halaqah”.. sejenak diri ini diam seperti ada hal yang teriris  hati ini. Ini bukan kali pertama saya merasakannya, sudah berkali-kali. Namun kali ini ingin saya tuliskan pilu hati ini.

Kami shalat isya berjamaah di masjid Al-Hasanah. Mesjid kesayangan kami, selama kami tinggal di kerajaan taman indah. Walau untuk menjangkaunya perlu perjuangan yang cukup berat, harus menaiki dan menuruni 3 level tangga, namun hal ini menjadi aktivitas sehari-hari kami. Selepas shalat saya duduk sementara di serambi kost. Bertahan untuk merasakan denyut pilu hati yang sejak beberapa menit yang lalu telah menjalar. Tahukah kawan? Kenapa hal ini terjadi?..  Baiklah akan sedikit saya jelaskan. Sungguh saya merasa iri dengan aktifitasnya itu. Ia masih terjaga dalam bimbingan pembinaan bersama kawan-kawannya dalam bimbingan gurunya. Sementara Aku? . . Semester 5 kuliah di itb ini, saya telah kehilangan aktifitas tercinta saya. Aktifitas yang senantiasa membuat hati ini hidup secara serentak bersama rekan-rekan saya untuk sementara fakum dulu. Entah sampai kapan, walau baru kemarin. Serasa sudah sangat lama….. Jika dianalisis, memnag tidak ada salahnya untuk vacum, karena kevakuman aktifitas belajar kami bukan tanpa alasan, karena guru kami harus berangkat Ibadah haji ke tanah haram. Selepasnya beliau berencana akan mengambil kuliah S3 di luar negeri. Ah, bukannya ini akan menjadi tambah lama. Entahlah kondisi ini membuat hati ini pilu.

Astagfirullahal’adzim!!!

Proses pembinaan yang dijalani secara individual sebagai bentuk penjagaan hati saya rasakan memang tidaklah cukup. Kadang sangat diperlukan kebersamaan itu. Seringnya lagi bimbingan seorang guru itu sangat kami butuhkan. Namun kini aktifitas mulia ini harus vacum.

Hampa.. kosong!

6 hari lalu, saya mengikuti seleksi wawancara calon tutor asrama itb. Salah satu pertanyaannya adalah apakah anda ikut pembinaan mentoring. Saya jawab iya memang, namun pembinaan ini pula masih belum jalan kembali. Lalu dilanjutkan lagi oleh sang pewawancara. Apakah Anda membina adik mentor? Saya jawab tidak. Belum saya terima tawaran rekan-rekan saya untuk memegang adik tutor. Bukannya itb kekurangan mentor ya? Kenapa tida kamu ambil. Kemudian saya jawab pertanyaan ini dengan alasan klasik terkait jadwal. Sungguh yang menjadi kendala utama saya belum bisa menerima adik-adik mentor adalah karena saya sendiri kali sedang vakum dibina. Mana bisa saya memberikan bimbingan orang lain tanpa ada bimbingan yang memelihara saya?

Analoginya jika saya sebuah teko, dan adik mentor adalah gelasnya. Tentu tidaklah mungkin bisa saya menuangkan air dari teko selama teko ini tidak diberikan amunisinya.

Ah, tidak mau aku seperti ini! Tak ingin saya dibuat pilu terus oleh kawan saya ini. Harus cari jalan keluar. . adakah yang mau jadi Mentor saya?

 

 

 

Kehadiran “Kembali” Figur seorang Abi

13/09/2012

Kehadiran “kembali” sesosok Abi (Ayah), setiap kali saya menggali informasi mengenai beliau, sifat, pikiran dan perilaku beliau seringkali membuat saya terkagum .. Semuanya mencerminkan bahwa beliau merupakan orang yang shalih, tidak pernah saya bayangkan bagaimana dan seperti apa beliau di zaman “muda”nya dulu. Sejauh ini saya ti8dak pernah jemu untuk belajar “membersamainya”, secara fisik mungkin majelis belajar kita sudah selesai, dan ilmu ini juga belum matang untuk saya kuasai, namun saya seringkali belajar dari beliau tanpa harus kontak fisik. Seperti hal umumnya saat ini, media internet saya jadikan media pembalajaran.

Sekali-kali saya pelajari tulisan-tulisan yang sempat beliau catet di note atau catatan ilmu elektronik, seringkali membuat hati ini tergetar. Lumaya sering pula getaran hati ini diiringi tetesan air mata karena isinya telah mengingatkan kembali diri ini untuk lebih membuka mata dan hati. Sesaat di sela di serbu kesibukan aktifitas kuliah dan tugas2 yg super numpuk di kampus ganesha, tidak mengurangi porsi konsentrasi saya untuk mengambil hikmah ilmu dari beliau. Teringat di saat dikejar deadline tugas, saya lihat email ada notifikasi bahwa blog beliau meluncurkan tulisan hikmah yang baru, dengan hitungan waktu beberapa detik saja saya langsung klik untuk melihatnya, kadang haru, bahagai, senyum, semangat menyelimuti jiwa ini. Mungkin inikah yang dinamakan sentuhan jiwa itu? Allah mengarahkan pesan-pesan hikmah itu hanya dikemas dengan tulisan. Entahlah. . Sampai saat ini taujih beliau di komunitas online senantiasa saya nantikan, hmm bahagia rasanya!!

                Bersyukur kepada Allah yang telah menghadirkan kembali sesosok Abi yang bisa saya jadikan figur untuk bergerak di dunia ini. Orang-orang seringkali memanggil beliau dengan panggilan Ustadz, karena beliau memang guru kami. Tapi saya lebih nyaman memanggil beliau dgn sebutan Bapak , pernah juga manggil Abi. Karena memang saya sudah jauh lama sekali tidak menjumpai sesosok Abi. Tepatnya sudah 13tahun saya hidup tanpa didampingi seorang Abi. Ketika Allah menakdirkan menjumpakan saya dengan beliau serasa menemukan sosok seorang Ayah kembali. Guruku à Abiku !!

Abi, Uhibbukum fillah

Semoga Allah menambahkan keberkahan dalam kehidupan keluarga kita, amiin

Abiiiii, doakan, semoga saya bisa menjadi Kakak yang baik bagi adik-adik nanti!

Dalam Hening Malam

Menjelang Sahur bersama rekan2 kost! 

Penggalan Silaturahim *Pasca Ramadhan*

Penggalan Silaturahim

Kali ini di sela waktu 11/09/2012, kembali saya saksikan sepenggal kisah orang-orang yang Allah mampukan ketika jiwanya terpanggil untuk menjumpaiNya di tanah Haram, rasanya haru, haru tambah haru disaat hati ini telah memiliki azam untuk meng’haji’kan Mamah saya. Saat ini dan beberapa waktu ke depan saya memang tidak memiliki bayangan. Tapi di hati ini terpatri keyakinan bahwa Allah lebih tau akan semua qada dan qadarNya yang telah ditetapkan. Teringat perkataan guru saya pada saat silaturahim pasca idul fitri tepatnya tanggal 4/09/2012 beliau mengingatkanku kembali, jangankan terkait hal-hal yang besar dalam kehidupan kita, lebih jauh dan lebih dalam lagi Allah mengetahui dengan teliti atas setiap kejadian yang telah Allah tetapkan dalam kitab Lauhmahfudznya. Misalnya saja jatuhnya daun kering dari pohonnya telah Allah catat dalam kitab kehidupan dimana, kapan dan kondisi apa ia jatuh ke tanah. Apalagi terkait takdir yang akan manusia jalani dalam kehidupannya. Semua telah atur sedemikian rupa agar kita senantiasa yakin dan tetap optimis atas semua ketetapanNya!

Tali Silaturahim

Alhamdulillah, Allah memang senantiasa menyediakan nasihat yang sangat bijak khususnya bagi saya pribadi. Pada saat kesempatan kelimpahan tiba, diri ini dituntut agar tidak lena dengan apa yang didapat kala itu, karena apa yang diperoleh saat itu sifatnya sementara. Mudah-mudahan Allah senantiasa melunakkan hati ini karenaNya! Begitupun kala waktunya masa “pailit” melanda, sering jiwa ini lemah lemes karena diterpa cobaan yang tidak diimbangi dengan penguatan hati, pada masa ini saya dituntut untuk lebih meyakini akan kekuasaan Allah yang sering kali hadir tanpa ada sangka dan prediksi sebelumnya. Bismillah, akan ku biarkan semuanya mengalir mengikuti semua KetentuanMu Ya Aliim. Berharap jiwa ini senantiasa dikuatkan dan diingatkan lagi agar bisa sesegera keluar dari masa ke”galau”an dan kecemasan. Amiin

Kembali ke kunjungan silaturahim minggu kemarin, kami berbincang-bincang dengan pun Guru kami! “Bapak, doakan Salim ya Pak pada saat di mekkah nanti” sambil nyengir saya meminta. “Doain apa?, segera dapat jodoh”.

Hehehe, hati ini tersenyum. Gara-gara disinggung ttg hal itu, kami malah jadi bincang-bincang tentang “itu” (jodoh, takdir, khitbah, nikah). Lengkaap deh pokonya, padahal bincang-bincang awal kami adalah pembicaraan terkait kondisi ummat Islam, pertikaian, kisah keilmuan para ulama, dll. “Iya,iya Pak yang penting yang baik,baik!, awalnya hanya ingin meminta didoakan agar hati ini semakin didekatkan dengan Allah, tauhid di jiwa ini semakin kuat, qalb ini semakin merindukan kajian Ilmu yg bisa mengingat Allah lebih lama, pengabdian diri ini bisa diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan Rasulnya, raga ini bisa diinfakkan untuk berbakti kepada orang tua, guru, dan masyarakat seiman, ya hanya itu sisanya entah terkait jodoh, kekayaan dll sebagi plus-plus-plus”. Sesungguhnya saya ini tipe orang yg introvert, tidak mudah untuk berbagi cerita dan cita kepada orang lain, tapi kali ini saya tidak malu untuk untuk bertanya, bercerita kepada Guru saya. Karena saya yakin bercerita kepada orang yang Sholeh, bukan hanya cerita, yang tinggal cerita saja mengalir tanpa makna. Selalu ada ilmu yang saya peroleh membersamai cerita itu. Terlebih lagi doa yang dipanjatkan seorang guru bagi muridnya itu mudah untuk di kabul Allah. Sama halnya meminta do’a dari orang tua…… Aaaaahhh, aku bahagiaaaa! Ya Rabb, panjangkan umur mereka ya Rabb, guru-guruku, orang tuaku. Berikan kekuatan bagi diri ini untuk bisa berbakti kepada mereka.

Menginjak rumah pun Guru untuk pertama kalinya, bawaannya hati ini tenang, kondisi rumah sederhana, sejuk, saya sukaaaa, cita-cita saya punya rumah kelak di dunia ini cukup sederhana, menyuasanakan rumah sebagai madrasah yang senantiasa meningkat gairah menggali ilmu. Perbincangan kami terjadi lumayan cukup lama, tapi tidak terasa. saya bersama teman saya (Kang Mustofa) berkunjung ke rumah ba’da ashar, keluar rumah maghrib. Tak terasa memang, saking betahnya. Hmmm, kapan lagi ya berkunjung! Betah, apalagi saya belum pernah sempat silaturahim bersama ibunya (Fatih dan Azzam).

Continue reading

Bayang Cita-Ku

CitaKu!

Tepat pada 09092012, bayangan citaKu hadir menghampiri diri ini, ia datang tanpa dugaan sebelumnya. Lepas shalat maghrib bayangan itu hadir, mengalir begitu indah menandingi indahnya aliran mata air yang mengaliri aliran kehidupan di danau embun. Dalam benak hati ini, saya masih menganggap ia sebagai sahabat yg senantiasa saya rindukan kehadirannya! CitaKu bukan cita-cita biasa, Cita yg semua orang targetkan semasa kehidupannya. Hal yg membuat berbeda kehadirannya kali ini ia semakin menampakkan diri dalam bentuk bayangan cinta bayangan cita yang indah, paparannya begitu jelas. Menyejukkan pandangan hati terlebih pandangan mata secara dzahir.

Dalam citraannya,citaKu bercerita. Dia akan menghampiri ketika diri saya ini benar-benar sudah mafhum dalam penguasaan ilmu. Posisi saya disana adalah sebagai seorang guru, mentor dan sahabat murid-murid di sebuah pesantren/ sekolah madani. Yg tergambarkan pada lintasan tubuh citaku, dipaparkan keadaan lingkungan sekitar yang dipenuhi dengan rasa cinta. Murid-murid taat dan cinta pada guru. Terlebih guru-guru sangat mencintai murid-murid, mereka para guru sangat mengingini keselamatan akhlak bagi murid-murid. Tanda-tanda keikhlasan tampak jelas dari setiap sikap dan tingkah mereka dalam berinteraksi. Disana saya sangat menikmati suasana. Segerombol anak-anak hanyut dalam canda, riang belajar di tajug di pipir pondok, tepatnya di sebuah Taman yang biasa saya gunakan untuk menyendiri membersamau sahabat saya si ganteng Al Qur’anul Kariim. Tidak ada lagi rasa canggung dari anak-anak kepada saya, begitu pun saya. Hubungan kami tak ubahnya seperti hubungan serang ayah dengan puluhan anak yg ada di belakang taman itu. Tanpa menghilangkan adab tatakrama antara guru dan murid, kami berintearksi untuk mendiskusikan materi yang masih belum anak-anak mengerti.

Majelis Ilmu

Hari-hari yang menyertai masa ajal pun saya lalui dengan warna-warna sejuta pelangi yang dihiasi kasih sayang diantara semua civitas. Sepanjang tinggal di Pondok madani itu, tidak pernah ditemukan cerita-cerita yang memperkeruh suasana. Anak-anak menikmati masa belajarnya dengan penuh Khidmat. Siswa yang paling besar bertingkah layaknya seperti kakak, murid baru yang baru masuk mereka asuh dan diaping dengan ketulusan. Semua ini berlangsung secara alami, regulasi tak menjadi hambatan. Ikatan kasih sayang tidak hanya dilepaskan semasa tinggal di pondok saja, siswa alumni pun memiliki jadwal khusus untuk bersilaturahim, saling berbagi pengalaman, berbagi hikmah kepada adik-adiknya. Begitupun adik-adik, mereka menerima kedatangan kakak-kakaknya dengan legowo. Mereka dipersilakan untuk masuk dan bermain-main di sepanjang lingkungan pondok, dijamunya mereka dengan bungkusan makanan-makanan, kado, hadiah yang mereka miliki. Atmosfir saling berbagi dan memberi sangat dirasakan hati ini.

Guru-guru? Bagaimana dengan kondisi keilmuan para guru? .. para guru yang mengajar anak-anak adalah sekolompok pejuang  Allah (Jundullah), mereka senantiasa kompakan untuk mendidik dan membentuk akhlak anak-anak menjadi lebih mulia di hadapan Allah. Cinta kasih para guru akan ilmu sangatlah tinggi, walau sudah memiliki gelar doktor, mereka masih saja mensibukkan dirinya untuk memperdalam ilmu, mengajarkannya dengan ikhlas, dan mentransfer ilmu diantara sesama guru. Kulihat banyak guru-guru yang sedang dalam keadaan luang mengisi luang waktunya untuk bercengkrama dengan Al Qur’an, dengan kitab-kitab tulisan Ulama shalih, mereka mengisi juga tempat duduk-duduk majelis ilmu membersamai anak-anak. Tidak ada rasa gengsi untuk belajar “kembali” bersama anak-anak. Justru dgn membersamai mereka para guru belajar dan sangat memehami apa yang perlu ditekankan selama mengajar anak-anak di kelas Aaaah semuanya berjalan mengalir seperti aliran mata air embun dari gunung Jannahnya Allah. Sangaat indah, merasa bersyukur ketika di temukan dengan citaKu yang indah ini. Entah kapan ia hadir menghampiriku?

Bayangannya memang bertambah semain jelas, apa mungkin karena saya terlalu merindukannya?.. entahlah .. dengan ini, ku Azzamkan kembali di balik hati ini untuk memantaskan diri berada di lingkungan seperti yang citaKu paparkan di sepanjang bayang maghrib itu.

                Semakin tersanjung hati ini, ketika bayangan itu memperlihatkan “guru hati” saya berkunjung ke gubuk saya di samping pondok. Bahagia tak terkira mengisi kekosongan relung hati. Kehadirannya disertai dengan tangis bahagia, karena pun Guru bersedia untuk menziarahi muridnya ini. Kehadiran beliau saya terima apa adanya, sama halnya ketika saya menerima orang tua murid yang akan menitipkan anak-anaknya menjadi anak Saya. Ya,memang saya perlakukan sama, hal ini saya lakukan karena saya ingin menghormati beliau. Beliau selalu bahagia disaat kehadirannya diperlakukan seperti orang biasa. Dalam ingatan mungin pernah suatu waktu kehadiran beliau saya terima dengan istimewa. Di akhir pertemuan, beliau memberikan pepatahnya untuk menerimanya dengan apa adanya. Ya memang ada penggalan kata hikmah yg pernah saya terima, lupa apakah itu hadits atau ucapan sahabat/ Ulama shalih, dimana isinya “Barang siapa merasa bangga dan senang ketika kahidarannya disambut dengan berdiri, maka tempat duduk/ istirahatnya adalah neraka” .. Ya, pepatah ini senantiasa melekat dalam ingatanku. Hingga pada akhirnya pun Guru ziarah ke pondok kami. Rasa bahagia benar-benar tak tertahankan! Ku cium tangan beliau dengan khidmat ku peluk dengan rasa cinta, sepanjang waktu kunjungan itu saya benar-benar menginvest waktu saya untuk pun Guru, hingga akhirnya beliau pamt untuk pulang. Lagi-lagi di sampingnya saya tak ubahnya seperti anak kecil, seperti murid-murid saya yg saya ajar di pondok, benar-benar tak jauh beda. Anak-anak saya menyaksikan tingkah saya itu mungkin ikut haru, ikut bahagia .. ini kulihat dari isyarat wajah mereka yg menampakkan wajah senyum.

Muhasabah Maghrib

@Ruang Makan `~ Garut