Screet Doctor #Diam&Bergerak

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan bersalin pakaian.
Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukah anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?”

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, “Saudaraku, saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda”.

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredakan amarahan si bapak, bahkan suaranya mengguntur, “Anda bilang apa? Tenang!? Sedikit pun anda tidak peduli rupanya, apakah anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat? –semoga Allah mengampuni anda– apa yang akan anda lakukan jika anak anda meninggal?”.

Sambil tetap mengulas semyum dokter menanggapi, “Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan Allah:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan, ‘Kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali”.

Dokter itu melanjutkan, “Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman?

Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga dapat memendekkannya; Usia di tangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah, oleh karena itu jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan ucapkanlah ‘inna lillahi wa`inna ilaihi raji’un. Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushalla rumah sakit untuk melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar Ia menyelamatkan anak anda”. Tambahnya.

Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, “Nasehat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda”.

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergesa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien, “Berbahagialah Pak, al?amdulillah, operasi berjalan lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci.”

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain, tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat. Seketika orang tua anak itu berkata, “Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikit pun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?”

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata, “Kemarin putra beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan putranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda.”

YA ALLAH RAHMATILAH HATI YANG MESKI TERLUKA, NAMUN TIDAK BERBICARA

sumber: http://gizanherbal.wordpress.com

Advertisements

“Uraian mode Justify”

Bismillahirrohmaanirrahiim

Jarum jam menunjukkan 02.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Lepas bermunajah kepada Illahi, pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya. Di sepanjang malam ini Nizam terjaga di saat rekan-rekan kostnya masih terlelap dalam hangatnya balutan selimut. Ia sedang mereflesikan diri, meneguhkan hati untuk menentukan langkah yang menjadi cita-citanya kelak.

Dalam bingkai jendela kamar, dilihatnya ke langit. Sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati nizam yang saat itu sedang kalut dengan cita-cita masa depannya. Di luar hawar-hawar terdengar suara orang-orang yang sedang membangunkan warga untuk sahur. Diperhatikannya lagi lebih dalam ke langit yang luas itu, kini Nizam menemukan sesuatu dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nizaaaaam, Nizaaaam ayo kita ke mesjid?” Ajak Ali dengan nada ajakan khas anak-anak. “Iya, li bentar saya masih persiapan dulu” jawab Nizam di balik pintu. “Maaah, buku Ramadhan Nizam dimana ya mah? Lupa nyimpennya”

“Coba lihat diatas pago di kumpulan kitab-kitab punya bapak”

“Sudah dicari mah, tapi tidak ada!”

“Di tas juga tidak ada?”

“Iya, mah sudah Nizam periksa semua, tapi tidak juga ditemukan”

“Ya sudah, Sebaiknya nizam berangkat sekarang, nanti ketinggalan shalat berjamaahnya”

“Tapi kan mah nizam harus mencatat kuliah subuh Pak Kiai?”

“Nizam pakai buku catatan mamah dulu ya! Nanti bisa disalinkan kan? Kasihan Ali sudah menunggu lama di luar. Akan coba mamah bantu cari nanti selepas shalat”

“Baik mah, kalau begitu Nizam pamit ya mah, Assalamu’alaikum!!”

“Iya nak, Wa’alaikumussalam Warahmatullah”

Kepergian Nizam ke mesjid seperti biasa diiringi dengan sun tangan kepada ibunya. “Ali, maaf harus menunggu lama, tadi saya mencari buku ramadhan dulu, tapi tidak ditemukan juga” seru Nizam “nggak apa-apa Zam, ayo kita segera berangkat! Agar tidak ketinggalan shalat shubuh berjamaah” jawab Ali. Berangkatlah kedua insan kecil ini menyusuri kegelapan langit untuk mengais cahaya ilmu yang akhir-akhir ini menghiasi aktivitas mereka berdua. Untuk menuju tajug (masjid), mereka harus melewati perkampungan dan galeng sawah. Perjalanan yang cukup panjang ini mereka tempuh dengan berjalan kaki. “Zam, tadi sahurnya makan lauk apa?” ucap Ali memecah kesunyian. “Makannya dengan semur jengkol li,” jawab Nizam. “waah, bau dong. Hehe emang enak makan jengkol pada saat sahur zam?”

“Enak atuh li, makanya saya makan, sebenarnya itu sisa makan pada saat buka. Berhubung jumlahnya banyak jadinya nyisa, sayang kan kalau tidak dimakan lagi bisa mubadzir li”

“kenapa, masaknya banyak-banyak zam?. Kan bisa sedikit-sedikit masaknya”

“yang masak bukan mamah li, itu kiriman bibi. Ali mau? Masih ada tuh mentahnya” tawar Nizam. “waah, terima kasih banyak zam sebelumnya, boleh deh buat buka nanti”

“Nanti, bukanya di rumah saya aja ya Li?. Insya Allah akan Nizam buatkan semur jengkol khusus untuk Ali” ajak Nizam “boleh, emang kamu bisa masak zam?” tanya Ali ragu. “Bisa dong, kan kelak saya mau jadi suami idaman, hehehe” canda Nizam “hehe, dasar nizam kecil-kecil sudah mikir begituan, ayo percepat langkahnya” sahut Ali.

Perjalanan kedua panglima kecil selalu dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan. Seringkali hal-hal kecil yang telah mereka alami di sekolah, di rumah atau di madrasah mereka ceritakan satu sama lain. Wajah rembulan di penghujung cakrawala senantiasa menjadi saksi bisu akan perjalanan anak-anak ini kala ia memantulkan sinar sahabatnya (matahari).

***

Di Surau rekan-rekan Nizam lainnya telah berkumpul. Masing-masing dari mereka telah menggenggam buku saktinya yaitu buku ramadhan yang sudah menjadi “ritual” harian yang harus mereka isi selama bulan Ramadhan. Hari ini sepertinya Nizam sendirian yang tidak membawa buku sakti itu. Tapi pembawaan Nizam tetap damai, karena ia tetap berbekal buku catatan milik ibunya untuk mencatat ceramah Pak Kiai Hasan.”Ssssttt, adik-adik diam! Sebentar lagi Pak Kiai segera tiba di surau” seru Kang Shohib menenangkan anak-anak yang masih gaduh. Kang Shohib ini merupakan murid Pak kiai yang paling besar di surau, wajar beliau sering menjadi penanggung jawab anak-anak selama di surau. Kadang beliau suka membantu Pak Kiai mengajar adik-adik kecil yang masih belajar Iqro.

Petakan yang bernama surau itu tidaklah luas, ia dibangun dan dikokohkan dengan untaian kayu dan bambu yang bersatu padu membentuk sebuah bangunan mini. Walau kecil, ia tidak pernah kesepian. Karena setiap harinya ia senantiasa diramaikan anak-anak yang siap berjihad, berjuang meraih Ilmu. Bangunan ini terletak tepat di samping tajug/ masjid, agar anak-anak mudah menjangkaunya selepas shalat bersama. Kini di depan surau telah duduk Pak Kiai Hasan, sesosok sederhana namun bersahaja. Beliau seringkali menjadi icon pemicu semangat anak-anak dalam belajar meraih ilmu. Seringkali surau dijejali anak-anak yang hendak belajar. Sehingga jumlah mereka tidak tertampung lagi untuk bisa duduk di dalam surau. Ajaib memang, walau tanpa adanya absensi jumlah murid-murid yang hadir tidak pernah surut berkurang. Bahkan Nizam dan Ali pada saat sakit pun sering memaksakan hadir di majelis ilmu ini.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kabarnya baik anak-anak?” Buka Kiai Hasan

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb, alhamdulillah baik Pak Kiai” jawab anak-anak serentak. Secara umum jawaban anak-anak begitu. Walau tidak menutup kemungkinan ada anak yang sedang sakit ringan. “Alhamdulillahirobbil’alamiin, segala puji bagi Allah penggenggam jiwa-jiwa yang hidup. Sholawat dan Salam senantiasa tercurah kepada sang Teladan utama Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam. Anak-anak Insya Allah pada kesempatan ini Bapak akan membahas pentingnya Ilmu, dan menceritakan bagaimana kisah para Ulama yang menjelaskan bahwa betapa Islam sangat mencintai dan memperhatikan adab-adab mencari ilmu” papar Pak Kiai. “bla bla bla, dst” sementara itu anak-anak khidmat mendengarkan dan mencatat perkataan pak Kiai di buku sakti mereka. Perjalanan majelis ini berlangsung hangat, anak-anak seringkali bertanya kepada Pak Kiai terkait hal-hal yang baru mereka dengar.

            Sekali-sekali Nizam memperhatikan kelakuan rekan-rekannya, yang terkadang ada saja hal aneh yang ia temui. “Yah, pak Kiai kok tidak membahas lanjutan sifat-sifat Allah lagi” keluh Wildan yang berada di samping Nizam, “kenapa emangnya Dan? Kan materinya juga bagus” tanya Nizam. “Saya sudah terlanjur mengisi buku ramadhan saya dengan materi sifat Allah Al-Bashar” jawab Wildan “haaah? Kok bisa Dan!” Nizam merasa kaget sambil menahan tawa “Iya ini saya tulis berdasarkan tulisan dari buku kakak saya, kemarin Pak Kiai membahas As-Sama. Biasanya kan pembahasannya sistematis, kali ini beda” papar Wildan “waduh, tenang aja Dan, Pak Kiai baik kok. Jelaskan saja nanti ke Pak Kiai saat minta tanda tangan beliau” ucap Nizam menenangkan kegalauan Wildan. “Baik Zam, mudah-mudahan beliau tidak marah”

“Iya Dan, nyantai aja!”

Dilihatnya pula anak-anak yang lain cukup menuliskan “uraian” dengan mode justify di bukunya. Hal ini biasa dilakukan anak-anak junior yang masih menginjak kelas 1 dan 2 Madrasah Ibtidaiyah. Anak kecil itu nampak kasak-kusuk kebingungan saat mengisi buku aktivitas ramadhan miliknya. Barangkali, apa yang ada di benaknya persis seperti apa yang ada di benak Nizam beberapa tahun Silam. Ajaibnya mereka menuliskan kata yang sama seperti yang Nizam lakukan saat pertama kali menulis yaitu “uraian” dengan mode justify. Nizam hanya tersenyum dalam hati melihat kelakuan mereka sambil menerawang ramadhan masa lalu yang telah Nizam lalui. “Ya Rabb, beberapa tahun terus bergulir, kata ajaib itu masih saja digunakan, tak berubah: ‘uraian’”. Lirih Nizam. Disadarinya kata “uraian” tidaklah tepat menggambarkan aktivitas mencatat kami, sebab menguraikan berarti menjabarkan panjang lebar, sedangkan yang kami lakukan hanyalah menyingkat kalimat-kalimat penting dari Pak Kiai saja selebihnya ditulis “uraian” di lahan sisa kertas yang masih kosong.

            Sudahlah dalam hati Nizam menggertak dirinya untuk fokus kembali memperhatikan ucapan Pak Kiai, kini Nizam telah lebih baik dalam menyimak, setiap kali belajar ia catat dengan lengkap, walau tetap tidak bisa mencatat kembali seluruhnya perkataan pak Kiai. Singkatnya inti dari ceramah hari ini Pak Kiai Hasan menjelaskan kisah seorang Al-Jahiz sosok pejuang ilmu, beliau adalah seorang Ilmuwan Muslim yang kaya akan ilmu. Tahukah ternyata arti dari Al-Jahiz adalah “melotot”, karena beliau adalah seorang yang hidupnya miskin di zamannya. Siang hari ia gunakan untuk berjualan ikan di pasar, sementara malam hari ia gunakan waktunya untuk menginap di perpustakaan untuk belajar. Karena beliau tidak memiliki uang untuk membeli buku, juga tidak memiliki waktu untuk belajar selain malam hari. Karena kekurangan tidur Al Jahiz memiliki mata merah dan melotot. Masya Allah begitu gigihnya para peraih Ilmu masa silam. Buku karya-karya Al-Jahiz ini sangat banyak salah satunya adalah Khatib Al-Bukhala. Beberapa riwayat mengatakan bahwa beliau meninggal karena tertimbun buku di perpustakaannya. Allohu Akbar!! Pak Kiai juga membacakan quote milik al Jahiz, yang isinya:

 Dalam setiap generasi dan setiap bangsa,

terdapat beberapa golongan yang memiliki keinginan untuk mempelajari cara alam bekerja.

Seandainya mereka tidak ada,

maka bangsa-bangsa pun akan binasa (Al-Jahiz).

Berkali-kali anak-anak dibuat kagum atas apa yang Kiai Hasan sampaikan kepada anak-anak. “Anak-anak begitulah ulama terdahulu menghormati dan adab akan ilmu. Seorang Al-jahiz yang miskin saja seperti itu, apalagi dengan orang kaya masa silam. Lebih-lebih lagi. Mereka memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing”. Jelas Pak Kiai. “Bagaimana dengan para penguasanya Pak?” tanya Ali yang dari tadi khusyuk menyimak ceramah. “Begitupun penguasanya, mereka pemilik kebijakan. Mereka tidak ingin kalah dengan rakyat-rakyatnya. Para pemimpin para ulama melahirkan banyak karya dan tulisan hingga saat ini kita lah penikmat karya-karya mereka”. Jawab kiai Hasan. “Allohu Akbar, saya terinspirasi sekali Pak” teriak Wildan yang kini tampak lebih ceria dan semangat.

            Selepas ceramah Kiai Hasan berpesan kepada murid-muridnya untuk senantiasa bersemangat dalam meraih ilmu, dan giat mengikatnya dengan mencatat. Anak-anak tampak semakin bergairah setelah dicharge oleh ceramahnya pak Kiai. Anak-anak memang lebih suka dibawa bercerita.

“Mudah-mudahan ilmu yang telah Bapak sampaikan membawa berkah dan manfaat, amiin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb” tutup Pak Kiai.

”Amiin, wa’alaikumussalam Wr. Wb” seru anak-anak berjamaah. Beberapa detik kemudian barisan ular terbentuk, anak-anak antri untuk menunggu giliran tanda tangan Pak Kiai di buku saktinya.

“Mohon maaf Pak Kiai, kali ini saya pakai buku catatan dulu. Buku Ramadhannya hilang” ucap Nizam, saat gilirannya menghadap Pak Kiai.

“Oh, buku Ramadhan punya Nizam ada di rumah Bapak, kemarin ketinggalan. Nanti selepas bubaran ambil ya ke rumah!”

“Begitu ya Pak! Mohon maaf Pak telah merepotkan”

“Tidak apa-apa Zam, setelah saya perhatikan isi tulisanmu lengkap! Sepertinya kamu suka menulis ya Zam?” Tanya Pak Kiai

“Insya Allah Pak Kiai, saya sangat terinspirasi oleh sosok-sosok ulama dahulu yang gemar menulis. Mohon do’anya ya Pak!”

“Insya Allah Zam, semoga Allah memberkahi Nizam”

“Amiin, syukran Pak Kiai”

Tempat mulia yang bernama surau itu harus sepi untuk sementara, anak-anak kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

tok tok tok!!”suara ketukan pintu membangunkan Nizam dari lamunannya

“Nizam, Nizam!! sahur” disusulnya dengan ajakan untuk sahur. “Iya, Zak sebentar”.

Sudah tak asing lagi Zaki rekan kostnya seperti biasa membangunkan Nizam.

Jarum jam tidak lagi menunjukkan 02.25 karena ia telah mengiringi lamunan Nizam selama beberapa waktu. Tidak terasa memang, namun hasil penemuannya itu berhasil membuat ia tersenyum beberapa saat. Ia teringat kembali kepada kawan-kawan seperjuangan Suraunya terlebih kepada gurunya di kampung yang jauh disana, tak lupa kepada orang tuanya yang mash menaruh harapan di pundak Nizam. Rindu semakin menjalar dalam dadanya, hela nafas ia hirup panjang untuk sekedar menenangkan kembali.

“Zam, ayo nasi sudah masak, lauk juga sudah sedia tadi belanjanya sekalian! Nanti keburu imsak” Ajak Zaki kembali

“Iya Zak, waaah terima kasih banyak! Nanti uang lauknya saya ganti ya!”

“siip brader!  Eh ya, bagaimana dengan projek tulisanmu, Sudah selesai?”

“Sedikit lagi, entah mengapa menyelesaikan itu lebih sulit dari pada memulainya”

“Sepertinya perlu muhasabah lagi, upgrade kembali niatnya Zam”

“Iya akhi betul, Insya Allah kali ini semangat hadir kembali, malam tadi saya tidak bisa istirahat, namun saya menemukan berhasil menemukan sesuatu”

“apa itu Zam?”

“Do’a Guru saya, semangat dukungan kawan-kawan kecil saya, motivasi kisah ulama-ulama terdahulu yang sangat hobby menuliskan ilmu yang diperolehnya”

“Bagaimana ceritanya Zam?”

“Kompleks, sedikit misteri,, hehe mungkin begitulah cara Allah membukakan Inspirasi”

“Iya Zam, mungkin sebagai amunisi tambahan. Sahabat rasul, seorang Ilmuwan yaitu Ali Radhiallohu Anhum pernah berpesan: ‘Ikatlah Ilmu itu dengan tulisan, Ilmu itu tersebar di alam’. Pepatah beliau menunjukkan bahwa mengikat ilmu yang kita miliki itu sangat penting untuk dilakukan”

“Waah iya ya Zaki terima kasih banyak pengingatnya!, baiklah kini saya semakin yakin! Insya Allah saya akan tampil sebagai pejuang di jalan sunyi”

“Amiin, semangatlah Zam. Insya Allah saya juga!”

Nizam dan Zaki hanya kuliah di kampus Gajah yang pada prinsipnya mencetak sarjana-sarjana teknik dan sains. Tapi hal itu tidak menghalangi harapan pemuda-pemuda ini menjadi pejuang di jalan sunyi. Selayaknya hobby para ulama masa silam.

Barakallah Nizam!!

Penggalan kenangan  ramadhan kecil

@Sayembara Al Qolam tingkat JABAR

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (3)

Kisah Hatim bin Asham (3): Menegur Penguasa yang Bermewah-Mewahan

 

Hatim lalu melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Setibanya di sana ia dikerumuni warga Madinah. Hatimpun bertanya pada salah seorang dari mereka “Kota apakah ini?”

“Kota Madinah, kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam”

“(kalau begitu) di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”

“Lalu di mana istana para sahabatnya?”, lanjut Hatim

“Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah (meneladani Nabinya)

“Kalau begitu, ini adalah kota Fir’aun!” (Karena Hatim melihat kemewahan para pembesarnya)

Lalu Hatim dibawa oleh penduduk Madinah kepada penguasa di kota itu, dan warga Madinahpun berkata: “Orang asing ini berkata bahwa ini kota Fir’aun!”

“Mengapa begitu?” tanya sang penguasa

“Anda jangan marah kepadaku, aku ini orang asing dan bodoh, ketika aku tiba di sini aku bertanya pada penduduk “Kota apakah ini?” mereka menjawab “kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam” Lalu saya bertanya: “di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”, jawab mereka. Lalu aku bertanya “ di mana istana para sahabatnya?”, Mereka katakan: “Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah.”

Kemudian Hatim membacakan ayat di depan sang penguasa:

“Sesungguhnya telah ada pada  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  bagi orang yang mengharap  Allah dan  hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (33:21)

“Karenanya tuan-tuan, siapakah sesungguhnya yang tuan-tuan teladani, Rasulullah kah? atau Fir’aun?”, ucap Hatim. Penguasa itupun lalu membiarkan Hatim pergi.

Kisah ini saya nukil dari ihya’ ulumiddin. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk berhias diri dengan hal yang diperbolehkan. Namun, bila ia terus menerus berkecimpung dengan hal yang diperbolehkan itu, maka akan bangkit rasa cinta kepadanya dan sukar meninggalkannya. Sementara agar diri terjaga untuk tidak larut dalam kemewahan, ia harus menjauhkan diri darinya. Karena jika keselamatan bisa diperoleh dengan berkecimpung di dalam hal yang dibolehkan itu tentu Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak akan ‘membelakangi dunia’ dengan membuka baju sutera dan menanggalkan cincin emas.

Sumber tulisan darisini

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (2)

Kisah Hatim bin Asham (2): Menegur ‘Ulama yang Bermewah-Mewahan

 

Suatu saat Hatim mengunjungi wilayah Rey, dan sahabatnya di Rey mengajaknya mengunjungi ahli fiqh yang sangat terkenal di wilayah tersebut, karena ia sedang dalam keadaan sakit. Ia adalah Muhammad bin Muqatil. Saat Hatim sampai di rumah sang faqih, yang ia lihat adalah istana yang megah dan indah. Hatimpun tercenung, dan berkata “beginikan rumah seorang ‘ulama?”

 

Setelah mendapat izin masuk, ia melihat bahwa rumah sang ahli fikih itu besar, cantik dan indah, serta luas, dan ketika ia masuk ke kamarnya ia melihat sang ahli fikih sedang tidur di atas kasur empuk, ditemani pembantunya sedang memegang penepuk lalat.

 

Teman Hatim yang mengajaknyapun duduk di samping sang sakit, menanyakan keadaan sakitnya. Sementara Hatim tetap berdiri. Si sakitpun mempersilakan Hatim duduk. Tapi Hatim menolaknya dan berkata “tidak usah tuan”. Maka sang tuan rumahpun berkata karena heran “Barangkali ada perlu?”. “Ada”, jawab Hatim. “Apa itu?”. “Ada suatu perkara yang ingin saya tanyakan kepada tuan, ilmu yang tuan miliki itu diperoleh dari mana?”, sang ahli fikih menjawab “dari orang-orang yang dapat dipercaya, mereka menguraikan ilmu tersebut kepada saya”. Lalu Hatim kembali bertanya: “Orang-orang tersebut menerimanya dari siapa?” “Dari para sahabat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam”, jawabnya. “Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam menerimanya dari siapa?”. “Dari Jibril ‘alayhissalam, dan Jibril menerimanya dari Allah”.

 

Hatim melanjutkan pertanyaannya:

“Menurut apa yang dibawa Jibril ‘alayhissalam dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada RasuluLlah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan disampaikan kepada para sahabatnya dan dari sahabat kepada orang-orang yang terpercaya, adakah dikemukakan kepada tuan suatu ilmu bahwa jika di dalam rumah tuan ada kemewahan dan kemegahan serta besar dan luas rumahnya akan memperoleh derajat di sisi Allah?

 

“Tidak!”, jawab sang ahli fikih

 

“Kalau begitu apa yang tuan dengar dari mereka?”

 

“Yang saya dengar ialah orang yang hidup sederhana di dunia ini, dan gemar pada sesuatu yg mengantarkannya pada kehidupan akhirat, mencintai orang miskin, dan mendahulukan akhiratnya bakal memperoleh kedudukan di sisi Allah.”

“Kalau begitu, kini siapa yang tuan ikuti: Nabi, para sahabat dan orang-orang shalih, atau Fir’aun dan Namrud? orang yang suka bermewahan dengan istana pualamnya?” “Wahai ‘ulama yang menyimpang, bila perilaku tuan dilihat oleh orang awam, maka mereka akan mengira ulama saja hidupnya seperti anda, bukankan wajar jika orang awam lebih dari itu?!. Ucap Hatim. Ia lalu keluar dari rumah megah itu. Dan penyakit Ibn Muqatil pun semakin berat.

 

Saat keluar dari rumah Ibn Muqattil, Hatim berjumpa dengan orang-orang di Rey dan mengatakan kepada Hatim “Hatim, ada seorang ahli fikih bernama Ath-Thanafisi di Qazwin lebih mewah dari Ibn Muqattil”

Lalu Hatim pun menuju ke sana dan langsung masuk ke dalam rumahnya serta menemui Ath-Thanafisi. Hatim berkata: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada tuan. Saya ini orang bodoh. Saya ingin sekali tuan mengajari saya dasar-dasar pelajaran agama dan shalat. Juga bagaimana caranya saya melakukan shalat.

“Baiklah, dengan senang hati! Ambillah air wudhu di tempat air.” ucap Ath-Thanafisi. Tapi Hatim ingin agar ia melakukannya di depan Ath-Thanafisi: “Bagaimanakan kalau di sini saja, agar saya dapat berwudhu di depan tuan?”

Ath-Thanafisi pun beranjak dan Hatim mulai berwudhu. (Dengan sengaja) Hatim membasuh anggota badannya empat kali-empat kali (Melebihi yang seharusnya).  Ath-Thanafisi pun menegurnya: “Hei, mengapa kamu memboros-boroskan air?”

“Apa yang saya boroskan tuan?”

“Kamu basuh tanganmu empat kali!”

Hatimpun berkata “SubhanaLlah, hanya sepercik air tuan katakan saya boros, bagaimanakah dengan harta benda dan kemewahan tuan?”

Sadarlah Ath-Thanafisi bahwa Hatim tidak bermaksud belajar padanya. Setelah kejadian itu Ath-Thanafisi tidak muncul di muka umum selama 40 hari.

 

Menurut saya, kisah ini mengandung banyak pelajaran. Bukan hanya pendirian dan sikap al-Hatim, tetapi juga Ibn Muqattil dan Ath-Thanafisi, sebab keduanya menyadari kekeliruannya. Betapa banyak saat ini para da’i yang hidup megah, dan ketika ia menerima nasihat, ia banyak berkilah dan behujjah, “ngaakalan dalil, sanes akal nurut kana dalil”, orang sunda bilang. Semoga kita bisa meneladani kisah ini.

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (1)

Tulisan ini sudah saya donlod, sekitar 3 bulan lalu. . tapi baru saya resapi malam 13 September 2012. .

mudah-mudahan bisa mengambil hikmah pelajaran dari kisah ini. .!!

 Kisah Hatim bin Asham (1): Belajar 8 Hal dalam 30 Tahun

Entah mengapa kisah Hatim ini sering membuat saya haru, dan ternyata banyak orang yg mengalami hal yang sama ketika membaca kisah ini, di majelis ihya’ yg saya ikuti kadang kami terbata-bata membaca kisah ini. Semoga bermanfaat…

Suatu saat Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya Hatim al-Asham, “Sejak sejak kapan engkau belajar bersamaku?”, “Sejak tugapuluh tahun, guruku!”, jawab Hatim. “Apakah yang engkau pelajari selama itu, wahai Hatim?”, “Delapan hal, guruku”, jawab Hatim. “Innalillah wa inna ilaihi raji’un, terbuang percuma sajalah umurku bersamamu”, ujar Syaqiq dengan kecewa. “Guruku, aku tidak pelajari yang lain dan aku tidak ingin berdusta”. “Uraikanlah kedelapan hal itu Hatim”. Lalu Hatim menjelaskannya:

Pertama, “Ketika aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, Ketika kekasihnya telah ke kubur, ia merasa kecewa karena ia tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan perbuatan baik yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka ia akan ikut bersamaku”

“Benar sekali Hatim!”, ujar Syaqiq, “Apa yang kedua?”

Kedua, “Ketika ada firman Allah SWT”:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal.” (79:40-41)

Aku perhatikan ayat ini, dan yakinlah aku bahwa firman Allah SWT tersebut benar, maka aku berusaha menolak hawa nafsu sehingga aku tetap taat kepada Allah SWT”

“Yang ketiga?”

“Ketiga aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat setiap makhluk memiliki benda, menghargainya, memandangnya bernilai, dan menjaganya. Kemudian ku perhatikan firman Allah SWT:

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:96)

karena itu setiap kali ke atas tanganku jatuh sesuatu yang berharga dan bernilai, iapun kuhadapkan kepada Allah, agar kekal di sisi-Nya”

“Yang keempat?”

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang selalu menaruh perhatian terhadap harta, kebangsawanan, kemuliaan, dan keturunan. Lalu ketika kupandangi semua itu, tiba-tiba tampak tidak ada apa-apanya. Kemudian kuperhatikan firman Allah SWT:

“… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (49:13)

Akupun bertaqwa kepada Allah, semoga aku menjadi mulia di sisi-Nya.”

Yang kelima, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka saling menohok dan mengutuk satu sama lain. Penyebabnya adalah kedengkian, kemudian kuperhatikan firman Allah:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?  Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.  Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (43:32)

karenanya perasaan dengki pun kutinggalkan dan diriku pun “kujauhkan” dari orang banyak. Aku tahu pembagian rizki dari Allah, karena itu permusuhan orang banyak kepadaku kutinggalkan”

Yang keenam, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di duna ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:

“Sesungguhnya  syaitan  itu  adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (35:6)

karena itu syetan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan syetan adalah musuhku”

Syaqiq melajutkan pertanyaannya : “yang ketujuh?”

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini aku melihat masing-masing orang mencari sepotong dari dunia ini. Lalu ia menghinakan diri padanya dan memasuki bagiannya yang dilarang kemudian kuperhatikan firman Allah:

“Dan tidak ada suatu binatang melata  pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata .” (11:6)

aku termasuk binatang melata yang rizkinya ada pada Allah, karenannya kukerjakan apa yang menjadi hak Allah pada diriku, dan kutinggalkan apa yang menjadi hak Allah pada diriku”

Yang terakhir, “kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang menggantungkan diri pada makhluk lain. Yang satu pada benda yang dicintainya, yang lain pada perniagaannya, dan perusahaannya, atau pada kesehatan tubuhnya. Masing-masing bergantung pada benda. Lalu aku kembali pada firman Allah:

“..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (65:33)

Karena itu akupun bertawakkal kepada Allah, ternyata Allah mencukupi keperluanku”

“Hatim, semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya kepadamu”, ujar Syaqiq

(dinukil dari kitab Ihya’ Ulumiddin jilid 1 bab ilmu)

Sumber tulisan disini 

Penggalan Silaturahim *Pasca Ramadhan*

Penggalan Silaturahim

Kali ini di sela waktu 11/09/2012, kembali saya saksikan sepenggal kisah orang-orang yang Allah mampukan ketika jiwanya terpanggil untuk menjumpaiNya di tanah Haram, rasanya haru, haru tambah haru disaat hati ini telah memiliki azam untuk meng’haji’kan Mamah saya. Saat ini dan beberapa waktu ke depan saya memang tidak memiliki bayangan. Tapi di hati ini terpatri keyakinan bahwa Allah lebih tau akan semua qada dan qadarNya yang telah ditetapkan. Teringat perkataan guru saya pada saat silaturahim pasca idul fitri tepatnya tanggal 4/09/2012 beliau mengingatkanku kembali, jangankan terkait hal-hal yang besar dalam kehidupan kita, lebih jauh dan lebih dalam lagi Allah mengetahui dengan teliti atas setiap kejadian yang telah Allah tetapkan dalam kitab Lauhmahfudznya. Misalnya saja jatuhnya daun kering dari pohonnya telah Allah catat dalam kitab kehidupan dimana, kapan dan kondisi apa ia jatuh ke tanah. Apalagi terkait takdir yang akan manusia jalani dalam kehidupannya. Semua telah atur sedemikian rupa agar kita senantiasa yakin dan tetap optimis atas semua ketetapanNya!

Tali Silaturahim

Alhamdulillah, Allah memang senantiasa menyediakan nasihat yang sangat bijak khususnya bagi saya pribadi. Pada saat kesempatan kelimpahan tiba, diri ini dituntut agar tidak lena dengan apa yang didapat kala itu, karena apa yang diperoleh saat itu sifatnya sementara. Mudah-mudahan Allah senantiasa melunakkan hati ini karenaNya! Begitupun kala waktunya masa “pailit” melanda, sering jiwa ini lemah lemes karena diterpa cobaan yang tidak diimbangi dengan penguatan hati, pada masa ini saya dituntut untuk lebih meyakini akan kekuasaan Allah yang sering kali hadir tanpa ada sangka dan prediksi sebelumnya. Bismillah, akan ku biarkan semuanya mengalir mengikuti semua KetentuanMu Ya Aliim. Berharap jiwa ini senantiasa dikuatkan dan diingatkan lagi agar bisa sesegera keluar dari masa ke”galau”an dan kecemasan. Amiin

Kembali ke kunjungan silaturahim minggu kemarin, kami berbincang-bincang dengan pun Guru kami! “Bapak, doakan Salim ya Pak pada saat di mekkah nanti” sambil nyengir saya meminta. “Doain apa?, segera dapat jodoh”.

Hehehe, hati ini tersenyum. Gara-gara disinggung ttg hal itu, kami malah jadi bincang-bincang tentang “itu” (jodoh, takdir, khitbah, nikah). Lengkaap deh pokonya, padahal bincang-bincang awal kami adalah pembicaraan terkait kondisi ummat Islam, pertikaian, kisah keilmuan para ulama, dll. “Iya,iya Pak yang penting yang baik,baik!, awalnya hanya ingin meminta didoakan agar hati ini semakin didekatkan dengan Allah, tauhid di jiwa ini semakin kuat, qalb ini semakin merindukan kajian Ilmu yg bisa mengingat Allah lebih lama, pengabdian diri ini bisa diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan Rasulnya, raga ini bisa diinfakkan untuk berbakti kepada orang tua, guru, dan masyarakat seiman, ya hanya itu sisanya entah terkait jodoh, kekayaan dll sebagi plus-plus-plus”. Sesungguhnya saya ini tipe orang yg introvert, tidak mudah untuk berbagi cerita dan cita kepada orang lain, tapi kali ini saya tidak malu untuk untuk bertanya, bercerita kepada Guru saya. Karena saya yakin bercerita kepada orang yang Sholeh, bukan hanya cerita, yang tinggal cerita saja mengalir tanpa makna. Selalu ada ilmu yang saya peroleh membersamai cerita itu. Terlebih lagi doa yang dipanjatkan seorang guru bagi muridnya itu mudah untuk di kabul Allah. Sama halnya meminta do’a dari orang tua…… Aaaaahhh, aku bahagiaaaa! Ya Rabb, panjangkan umur mereka ya Rabb, guru-guruku, orang tuaku. Berikan kekuatan bagi diri ini untuk bisa berbakti kepada mereka.

Menginjak rumah pun Guru untuk pertama kalinya, bawaannya hati ini tenang, kondisi rumah sederhana, sejuk, saya sukaaaa, cita-cita saya punya rumah kelak di dunia ini cukup sederhana, menyuasanakan rumah sebagai madrasah yang senantiasa meningkat gairah menggali ilmu. Perbincangan kami terjadi lumayan cukup lama, tapi tidak terasa. saya bersama teman saya (Kang Mustofa) berkunjung ke rumah ba’da ashar, keluar rumah maghrib. Tak terasa memang, saking betahnya. Hmmm, kapan lagi ya berkunjung! Betah, apalagi saya belum pernah sempat silaturahim bersama ibunya (Fatih dan Azzam).

Continue reading

So Soon, Insya Allah !!

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around (x2)
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever

CHORUS:

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever

CHORUS

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh

CHORUS

Lyrics: Bara Kherigi, Maher Zain & Mohamed El-Kazaz
Melody & Arrangement: Maher Zain
Mixing: Ronny Lahti