Cita-cita Kami PIMPIN Bandung

PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan) Bandung

Ikhtiar Mencetak Ulama-Ilmuwan Muslim

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan.

Suatu hari, seorang pemuda cerdas berkelana. Hanya ilmu yang ia inginkan. Dengan penuh semangat, ia belajar kepada puluhan guru. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi peneliti bidang astronomi. Dengan fasih ia menerangkan garis bujur dan Lintang kepada masyrakat. Tak lama berselang, usia 22 tahunia membuat sebuah proyeksi peta, kartografi. Sebuah sumbangsih besar untuk peradaban modern. Usia 27 tahun menyempurnakan dalam sebuah buku “Kronologi’. Setelah itu, ia terus berkarya memberikan sumbangih bagi umat. Ialah Al Biruni.

Al Biruni ialah seorang Ilmuwan besar Islam. Tak hanya masalah astronomi ia kuasai. Buku-bukunya tentang matematika, kedokteran, sejarah,sastra, dan lainnya ia kuasai. Orang-orang seperti Al Biruni ini tidak sendiri. Masih ada ratusan ilmuan yang juga ulama pada zamannya. Ada Al Kindi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al Farabi, Ibn Khaldun, dan masih banyak lainnya.

Berabad-abad kemudian di Bandung, tahun 2009, lahirlah Institut Pemikiran dan Pembinaan Insan (PIMPIN), sebuah wadah komunitas yang bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan Peradaban Islam di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Prof. Wahn Mohd Daud, seorang intelektual muslim abad ini, turut hadir mendeklarasikan PIMPIN, selain para Pembina: Dr. Khalif Muammar, Dr. Adian Husaini (Ketua Program Studi Pemikiran Islam UIKA, Bogor, Adnin Armas, MA (Direktur Eksekutif INSIST), dan lainnya.
Selanjutnya, PIMPIN terus bergerak, menggelar megaproyek membentuk embrio-embrio Ilmuwan Muslim. Pelbagai training, dan workshop mulai digalakan dari kampus ke kampus seperti ITB, UI, Unikom, Unpad, ST Telkom, dan kampus-kampus lainnya.

“ Kami ingin menghimpun para ilmuwan untuk mengemban misi nabawi, yaitu misi tahriri-tanwiri-islahi (pembebasan-pencerahan-perbaikan). Kami berhasrat menggabungkan kekuatan para ilmuwan, dari berbagai bidang kepakaran, yang memiliki kerangka pemikiran dan worldview Islami yang jelas dan kukuh. Dengan harapan dapat memberi sumbangsih serta mewarnai pembinaan bangsa agar tampil sebagai bangsa mandiri, dan unggul yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Usep Mohamad Ishaq, aktivis Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) kepada Alhikmah medio Desember 2012 lalu.

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan. “Belajar dari sejarah peradaban besar dunia, khususnya peradaban Islam yang gemilang, maka dalam pandangan kami gerakan pencerahan dan keilmuan yang intensif merupakan kunci terjadinya perubahan dan kebangkitan (nahdah) sebuah masyarakat.”
Oleh karena itu, Usep menambahkan, berbekal bimbingan Alquran dan penelitian yang mendalam terhadap sejarah peradaban manusia, kami menyadari bahwa menyelamatkan dan membangun kembali bangsa ini perlu dimulai dengan gerakan keilmuan yang intensif, dipelopori oleh golongan ilmuwan otoritatif dan kompeten. Tujuannya tentu untuk mengkaji dan memberikan solusi bagaimana dan pada bagian mana perbaikan (islah) hakiki dan komprehensif dalam tubuh umat dapat dilakukan.
“Kurikulum yang digunakan dikembangkan utamanya dari buku ‘Islam dan Sekularisme’ karya Prof. Al-Attas. Karena bagi kami karya tersebut merupakan karya yang mengandung pokok-pokok penting yang harus ditanamkan untuk membentuk pola pikir seorang muslim,” kata Usep. Menurutnya, pembinaan mencetak ilmuan dimulai dengan membentuk pola pikir Islam yang benar.
Sebut saja, mahasiswa Fisika yang dengan ilmunya suatu saat diharapkan menjadi Ulama besar yang juga faham agama, tak hanya fiskanya saja. Seorang mahasiswa Kimia yang kelak menjadi ilmuan muslim kimia. Juga seorang mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjad ekonom besar. Tak hanya ahli bidang tertentu saja, tetapi ahli dalam hal agama.
“Karena itu bagi kami, hal yang paling penting untuk dilakukan untuk membentuk insan yang baik adalah memperbaiki cara berfikirnya dan cara pandanganya, termasuk masalah cara pandang terhadap ilmu dan pendidikan. Perbaikan ini dilakukan melalui pendidikan dan penanaman konsep-konsep penting tentang ilmu, Tuhan, agama, pendidikan, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain,” tegas Usep.
Walhasil, gerakan PIMPIN ini difokuskan kepada para pendidik. Tak lain ialah guru, mahasiswa, dosen, dan institusi-institusi pendidikan. Dari sanalah, diciptakan ilmuwan-ilmuwan muslim, seperti halnya zaman kegemilangan Islam. Bahwa pernah ada, seorang saintis yang juga Ulama. Seorang ilmuwan besar, tetapi juga ia seorang Ulama. Karena, hubungan Islam dan ilmu-lmu lainnya adalah saling mendukung.
“Dalam Islam, sains, dan ilmu lainnya ditempatkan dalam tempatnya yang wajar sesuai proporsinya, sesuai wilayahnya. Namun alqur’an dan al-Hadith merupakan sumber ilmu tertinggi yang juga diakui,” ugkapnya. Dengan bimbingan wahyu dan juga keahlian masing-masing, para pendidik berkumpul di PIMPIN Bandung.
Mahasiswa-mahasiswa dengang getol mempelajari Islam tetapi juga sains. Mempelajari politik, tetapi mepelajari juga bahasa arab. Semuanya saling mendukung. Kajian-kajian yang dilakukan PIMPIN di Kampus-Kampus agar semata-mata, para mahasiswa yang kelak menjadi pendidik dan praktis mampu membawa nilai Islam dalam setiap aktivitasnya.

“Melalui pendidikan seperti ini, dengan pertolongan Allah subhanahu wa Ta’ala, kita tidak akan terlampau khawatir meninggalkan generasi yang lemah dan ringkih; kita akan berani meninggalkan generasi penerus kita karena telah mewariskan kepada mereka sesuatu yang akan melindungi mereka di dunia dan akhirat,” Pungkas Usep. Aaminn. Kita doakan bersama-sama.
[rizkilesus]

Pimpin Bandung on Media :)

PIMPIN  (Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan) Bandung

Ikhtiar Mencetak Ulama-Ilmuwan Muslim 

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan.

Suatu hari, seorang pemuda cerdas berkelana. Hanya ilmu yang ia inginkan. Dengan penuh semangat, ia belajar kepada puluhan guru. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi peneliti bidang astronomi. Dengan fasih ia menerangkan garis bujur dan Lintang kepada masyrakat. Tak lama berselang, usia 22 tahunia membuat sebuah proyeksi peta, kartografi. Sebuah sumbangsih besar untuk peradaban modern. Usia 27 tahun menyempurnakan dalam sebuah buku “Kronologi’. Setelah itu, ia terus berkarya memberikan sumbangih bagi umat. Ialah Al Biruni.

Al Biruni ialah seorang Ilmuwan besar Islam. Tak hanya masalah astronomi ia kuasai. Buku-bukunya tentang matematika, kedokteran, sejarah,sastra, dan lainnya ia kuasai. Orang-orang seperti Al Biruni ini tidak sendiri. Masih ada ratusan ilmuan yang juga ulama pada zamannya. Ada Al Kindi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al Farabi, Ibn Khaldun, dan masih banyak lainnya. 

Berabad-abad kemudian di Bandung, tahun 2009, lahirlah Institut Pemikiran dan Pembinaan Insan (PIMPIN), sebuah wadah komunitas yang bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan Peradaban Islam di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Prof. Wahn Mohd Daud, seorang intelektual muslim  abad ini, turut hadir mendeklarasikan PIMPIN, selain para Pembina: Dr. Khalif Muammar, Dr. Adian Husaini (Ketua Program Studi Pemikiran Islam UIKA, Bogor,  Adnin Armas, MA (Direktur Eksekutif INSIST), dan lainnya. 
Selanjutnya, PIMPIN terus bergerak, menggelar megaproyek membentuk embrio-embrio  Ilmuwan Muslim. Pelbagai training, dan workshop mulai digalakan dari kampus ke kampus seperti ITB, UI, Unikom, Unpad, ST Telkom, dan kampus-kampus lainnya. 

“ Kami ingin menghimpun para ilmuwan untuk mengemban misi nabawi, yaitu misi tahriri-tanwiri-islahi (pembebasan-pencerahan-perbaikan). Kami berhasrat menggabungkan kekuatan para ilmuwan, dari berbagai bidang kepakaran, yang memiliki kerangka pemikiran dan worldview Islami yang jelas dan kukuh. Dengan harapan dapat memberi sumbangsih serta mewarnai pembinaan bangsa agar tampil sebagai bangsa mandiri, dan unggul yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Usep Mohamad Ishaq, aktivis Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) kepada Alhikmah medio Desember 2012 lalu.

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan. “Belajar dari sejarah peradaban besar dunia, khususnya peradaban Islam yang gemilang, maka dalam pandangan kami gerakan pencerahan dan keilmuan yang intensif merupakan kunci terjadinya perubahan dan kebangkitan (nahdah) sebuah masyarakat.” 
Oleh karena itu, Usep menambahkan, berbekal bimbingan Alquran dan penelitian yang mendalam terhadap sejarah peradaban manusia, kami menyadari bahwa menyelamatkan dan membangun kembali bangsa ini perlu dimulai dengan gerakan keilmuan yang intensif, dipelopori oleh golongan ilmuwan otoritatif dan kompeten. Tujuannya tentu untuk mengkaji dan memberikan solusi bagaimana dan pada bagian mana perbaikan (islah) hakiki dan komprehensif dalam tubuh umat dapat dilakukan. 
“Kurikulum yang digunakan dikembangkan utamanya dari buku ‘Islam dan Sekularisme’ karya Prof. Al-Attas. Karena bagi kami karya tersebut merupakan karya yang mengandung pokok-pokok penting yang harus ditanamkan untuk membentuk pola pikir seorang muslim,” kata Usep. Menurutnya, pembinaan mencetak ilmuan dimulai dengan membentuk pola pikir Islam yang benar. 
Sebut saja, mahasiswa Fisika yang dengan ilmunya suatu saat diharapkan menjadi Ulama besar yang juga faham agama, tak hanya fiskanya saja. Seorang mahasiswa Kimia yang kelak menjadi ilmuan muslim kimia. Juga seorang mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjad ekonom besar. Tak hanya ahli bidang tertentu saja, tetapi ahli dalam hal agama.
“Karena itu bagi kami, hal yang paling penting untuk dilakukan untuk membentuk insan yang baik adalah memperbaiki cara berfikirnya dan cara pandanganya, termasuk masalah cara pandang terhadap ilmu dan pendidikan. Perbaikan ini dilakukan melalui pendidikan dan penanaman konsep-konsep penting tentang ilmu, Tuhan, agama, pendidikan, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain,” tegas Usep.
Walhasil, gerakan PIMPIN ini difokuskan kepada para pendidik. Tak lain ialah guru, mahasiswa, dosen, dan institusi-institusi pendidikan. Dari sanalah, diciptakan ilmuwan-ilmuwan muslim, seperti halnya zaman kegemilangan Islam. Bahwa pernah ada, seorang saintis yang juga Ulama. Seorang ilmuwan besar, tetapi juga ia seorang Ulama. Karena, hubungan Islam dan ilmu-lmu lainnya adalah saling mendukung.
“Dalam Islam, sains, dan ilmu lainnya ditempatkan dalam tempatnya yang wajar sesuai proporsinya, sesuai wilayahnya. Namun alqur’an dan al-Hadith merupakan sumber ilmu tertinggi yang juga diakui,” ugkapnya. Dengan bimbingan wahyu dan juga keahlian masing-masing, para pendidik berkumpul di PIMPIN Bandung.
Mahasiswa-mahasiswa dengang getol mempelajari Islam tetapi juga sains. Mempelajari politik, tetapi mepelajari juga bahasa arab. Semuanya saling mendukung. Kajian-kajian yang dilakukan PIMPIN di Kampus-Kampus agar semata-mata, para mahasiswa yang kelak menjadi pendidik dan praktis mampu membawa nilai Islam dalam setiap aktivitasnya.

“Melalui pendidikan seperti ini, dengan pertolongan Allah subhanahu wa Ta’ala, kita tidak akan terlampau khawatir meninggalkan generasi yang lemah dan ringkih; kita akan berani meninggalkan generasi penerus kita karena telah mewariskan kepada mereka sesuatu yang akan melindungi mereka di dunia dan akhirat,” Pungkas Usep. Aaminn. Kita doakan bersama-sama.
[rizkilesus]
Advertisements

Memoar Inspirasi Sunyi

Jarum jam menunjukkan 03.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Selepas merenung, kini pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya.

Dalam bingkai jendela kamar, kulihat sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati yang sedang kalut dengan cita-cita yang masih kabur. Kuperhatikan  lagi lebih dalam ke langit kelam yang luas itu, kini kutemukan sesuatu kabar di dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nak, ketika ananda merasa kehilangan arah dalam menetapkan tujuan. Peganglah dengan erat buhul pedoman sekuat tenagamu! Dekati lingkungan dimana orang-orang di dalamnya disibukkan dengan kebaikan, cepat atau lambat engkau akan menemukan kembali buah citamu yang sesungguhnya!”

Bisikan dari hawar-hawar ucapan guru saya kembali hadir mendecis di telinga saya. Terhenyak sejenak, selanjutnya saya larut dalam temuan “ajaib” yang saya temukan pada malam ini. Semua ucapan, pepatah, figur yang sempat keluar dari sosok sahabatku ini sekarang berbicara kembali. Kini saya benar-benar hanyut dalam aliran kenangan yang pernah saya lalui di kelas mata pelajaran fisika bersama beliau. Pesan itu saya peroleh dari beliau ketika saya merasa kabur dengan tujuan hidupku. Saksikanlah kawan, kini ku perkenalkan seorang guru yang bersahaja, sesosok sederhana dalam hidupnya namun kaya akan ilmunya. Melalui pelajaran fisika beliau pandai berbagi hikmah kepada murid-muridnya. Bapak Ahmad itulah untaian huruf yang menyusun namanya, sebuah panggilan yang menjadi memoar dalam ingatan saya selama beberapa tahun terakhir ini. Sangat bahagia hati ini sempat dijumpakan dengan orang seperti beliau, tiada inspirasi yang terlewat kala saya berhasil membersamainya, tiada pula kesiaan merundung datang kala interaksi aku jalin dengannya. Beliau hadir dalam kehidupan saya sebagai seorang guru yang hebat, sahabat yang amanah, tak tetinggal beliau telah mewakili kehadiran kembali Ayah saya yang telah meninggalkan saya sejak 12 tahun silam.

Selain itu, hal yang masih tersimpan dalam memori ingatan adalah ketika saya sempat terlambat memasuki kelas fisika pagi karena harus memfotokopi bahan materi pelajaran terlebih dahulu, terlebih saya juga tidak sempat mengerjakan tugas yang beliau berikan pada pertemuan sebelumnya. Reaksi beliau pada waktu itu biasa saja, tidak memarahi saya. Hanya saja di sela mengajarnya beliau menyisipkan pesan akan perlunya tanggung jawab atas setiap kesalahan yang telah dilakukan sekecil apapun itu. Setelah mengakhiri kelas beliau memanggil saya untuk menangih pertanggungjawaban saya atas kesalahan yang telah dilakukan tadi pagi. Beliau memberikan keleluasaan bagi saya untuk menentukan hukumannya. Beliau hanya minta jenis hukuman yang harus saya lakukan berupa tindakan yang dapat membuat jera namun tidak memberatkan saya. Sangat demokratis, jarang saya temui guru yang memberikan keleluasaan bagi siswanya untuk berfikir. Tidak asal menyalahkan siswa yang melanggar aturan ataupun membiarkan siswa melakukan kesalahan tanpa ada rambu-rambu hukuman. Dari peristiwa ini saya belajar untuk hidup bertanggung jawab, berfikir menyelesaikan masalah sendiri sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Mungkin inilah yang dinamakan Pendidikan. Menurut kacamata saya beliau berhasil mendidik kami disamping beliau mengajar mata pelajaran fisika.

Bukan hanya saya seorang diri yang menyukai gaya beliau dalam mendidik kami, namun rekan-rekan saya sekelas atau bahkan sesekolah menyenangi cara beliau mengajar. Banyak teman-teman saya yang tidak minat pelajaran fisika, mendadak menyukainya. Core dari beliau hanya sederhana, beliau tidak sekedar mengajar pelajaran semata, namun beliau juga mendidik kami dengan karakter-karakter positif (akhlak yang baik) melalui aktivitas belajar kami.

Namun keberadaan guru yang bisa mendidik seperti Pak Ahmad di negeri ini masih bisa dihitung dengan sederhana. Mayoritas para guru masih berkutat dengan pengajaran akademik saja. Silabus pengajaran yang disusun masih bersifat kaku. Materi tentang akhlak/ karakter pun masih dikemas terpisah dan sering dianggap remeh. Padahal penanaman nilai-nilai karakter haruslah diintegrasikan dalam kegiatan pengajaran sehari-hari.

Dalam perspektif neuroscience, terlalu berorientasi akademik bisa membahayakan perkembangan otak, terutama pada anak-anak dibawah usia 14 tahun, yang 90 persen pembentukan otaknya terjadi pada masa ini. Proses pembelajaran yang membosankan dan penuh beban akan membuat siswa membuat siswa mudah stres. Hasil studi Bremner menunjukkan, stres dapat membunuh sel-sel otak sehingga memperkecil volume otak bagian hippocampus. Suasana stres juga mengaktifkan bagian batang otak. Stres berkepanjangan akan memunculkan sifat reptil yang reaktif dan impulsif tanpa berpikir. Perilaku tawuran, sikap brutal, minimnya empati merupakan salah satu bentuk peran dari otak reptil ini. (sumber: Bincang Edukasi Kompas 15/10/12)

Melihat kondisi seperti ini perlu adanya perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi akademik akan menghambat tumbuhnya Soft Skill, sehingga perlu dirombak. Misalnya dengan tidak memberikan ranking pada siswa tingkat rendah, memicu tanggung jawab siswa, melatih kreatifitas siswa dalam mengerjakan tugas, mengajarkan siswa untuk cakap mengolah emosi, berkarakter baik, mampu membangun motivasi, berpikir analitis, kritis dan kreatif. Terlebih terkait kurikulum pendidikan, pemerataan kualitas guru dan ketersediaan fasilitas untuk belajar sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Sehingga perbaikan sistem pendidikan ini melibatkan semua pihak, baik itu siswa, guru, pemerintah dan orang tua. Semuanya memiliki peran untuk memperbaiki pendidikan.

Pesan dan amanat guru favorit saya masih saja terngiang dalam ingatanku, walau pesan itu telah singgah bertahun-tahun dalam memori. Sebagai seorang muda yang masih menuai ilmu di kampus gajah (read itb), harus kumantapkan lagi prinsipku. Kelak jika saya terjun di dunia pendidikan minimal saya harus seperti guru saya bahkan harus lebih baik lagi. Bahkan bisa bisa mencetak ribuan Pak Ahmad pada generasi selanjutnya. Karena pendidikan tanpa karakter/ akhlak, ia hanya pisau yang tajam saja. Belum diketahui pengunaannya akankah digunakan untuk aktivitas baik atau digunakan untuk merusak?

“Uraian mode Justify”

Bismillahirrohmaanirrahiim

Jarum jam menunjukkan 02.25, alunan suara mars “sahabat dinding” telah berlalu 25 menit yang lalu. Waktu terus berjalan diiringi detak gerakan jarum kecil jam dinding ini. Suaranya dirasakan benar oleh Sang Muda yang masih hanyut dalam kesendiriannya di penghujung malam. Lepas bermunajah kepada Illahi, pemuda yang menempati ruang petakan kecil ini membukakan jilid jendela. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa wewangi bunga-bunga dan dedaunan, menusuk hidung dan memenuhi rongga dadanya. Di sepanjang malam ini Nizam terjaga di saat rekan-rekan kostnya masih terlelap dalam hangatnya balutan selimut. Ia sedang mereflesikan diri, meneguhkan hati untuk menentukan langkah yang menjadi cita-citanya kelak.

Dalam bingkai jendela kamar, dilihatnya ke langit. Sekumpulan bintang-bintang mengedipkan matanya menyinari belahan bumi bagian malam sejak tadi. Seolah kilauan kristalnya mencoba menghibur hati nizam yang saat itu sedang kalut dengan cita-cita masa depannya. Di luar hawar-hawar terdengar suara orang-orang yang sedang membangunkan warga untuk sahur. Diperhatikannya lagi lebih dalam ke langit yang luas itu, kini Nizam menemukan sesuatu dalam route neuron yang telah terpendam sekian lama.

“Nizaaaaam, Nizaaaam ayo kita ke mesjid?” Ajak Ali dengan nada ajakan khas anak-anak. “Iya, li bentar saya masih persiapan dulu” jawab Nizam di balik pintu. “Maaah, buku Ramadhan Nizam dimana ya mah? Lupa nyimpennya”

“Coba lihat diatas pago di kumpulan kitab-kitab punya bapak”

“Sudah dicari mah, tapi tidak ada!”

“Di tas juga tidak ada?”

“Iya, mah sudah Nizam periksa semua, tapi tidak juga ditemukan”

“Ya sudah, Sebaiknya nizam berangkat sekarang, nanti ketinggalan shalat berjamaahnya”

“Tapi kan mah nizam harus mencatat kuliah subuh Pak Kiai?”

“Nizam pakai buku catatan mamah dulu ya! Nanti bisa disalinkan kan? Kasihan Ali sudah menunggu lama di luar. Akan coba mamah bantu cari nanti selepas shalat”

“Baik mah, kalau begitu Nizam pamit ya mah, Assalamu’alaikum!!”

“Iya nak, Wa’alaikumussalam Warahmatullah”

Kepergian Nizam ke mesjid seperti biasa diiringi dengan sun tangan kepada ibunya. “Ali, maaf harus menunggu lama, tadi saya mencari buku ramadhan dulu, tapi tidak ditemukan juga” seru Nizam “nggak apa-apa Zam, ayo kita segera berangkat! Agar tidak ketinggalan shalat shubuh berjamaah” jawab Ali. Berangkatlah kedua insan kecil ini menyusuri kegelapan langit untuk mengais cahaya ilmu yang akhir-akhir ini menghiasi aktivitas mereka berdua. Untuk menuju tajug (masjid), mereka harus melewati perkampungan dan galeng sawah. Perjalanan yang cukup panjang ini mereka tempuh dengan berjalan kaki. “Zam, tadi sahurnya makan lauk apa?” ucap Ali memecah kesunyian. “Makannya dengan semur jengkol li,” jawab Nizam. “waah, bau dong. Hehe emang enak makan jengkol pada saat sahur zam?”

“Enak atuh li, makanya saya makan, sebenarnya itu sisa makan pada saat buka. Berhubung jumlahnya banyak jadinya nyisa, sayang kan kalau tidak dimakan lagi bisa mubadzir li”

“kenapa, masaknya banyak-banyak zam?. Kan bisa sedikit-sedikit masaknya”

“yang masak bukan mamah li, itu kiriman bibi. Ali mau? Masih ada tuh mentahnya” tawar Nizam. “waah, terima kasih banyak zam sebelumnya, boleh deh buat buka nanti”

“Nanti, bukanya di rumah saya aja ya Li?. Insya Allah akan Nizam buatkan semur jengkol khusus untuk Ali” ajak Nizam “boleh, emang kamu bisa masak zam?” tanya Ali ragu. “Bisa dong, kan kelak saya mau jadi suami idaman, hehehe” canda Nizam “hehe, dasar nizam kecil-kecil sudah mikir begituan, ayo percepat langkahnya” sahut Ali.

Perjalanan kedua panglima kecil selalu dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan. Seringkali hal-hal kecil yang telah mereka alami di sekolah, di rumah atau di madrasah mereka ceritakan satu sama lain. Wajah rembulan di penghujung cakrawala senantiasa menjadi saksi bisu akan perjalanan anak-anak ini kala ia memantulkan sinar sahabatnya (matahari).

***

Di Surau rekan-rekan Nizam lainnya telah berkumpul. Masing-masing dari mereka telah menggenggam buku saktinya yaitu buku ramadhan yang sudah menjadi “ritual” harian yang harus mereka isi selama bulan Ramadhan. Hari ini sepertinya Nizam sendirian yang tidak membawa buku sakti itu. Tapi pembawaan Nizam tetap damai, karena ia tetap berbekal buku catatan milik ibunya untuk mencatat ceramah Pak Kiai Hasan.”Ssssttt, adik-adik diam! Sebentar lagi Pak Kiai segera tiba di surau” seru Kang Shohib menenangkan anak-anak yang masih gaduh. Kang Shohib ini merupakan murid Pak kiai yang paling besar di surau, wajar beliau sering menjadi penanggung jawab anak-anak selama di surau. Kadang beliau suka membantu Pak Kiai mengajar adik-adik kecil yang masih belajar Iqro.

Petakan yang bernama surau itu tidaklah luas, ia dibangun dan dikokohkan dengan untaian kayu dan bambu yang bersatu padu membentuk sebuah bangunan mini. Walau kecil, ia tidak pernah kesepian. Karena setiap harinya ia senantiasa diramaikan anak-anak yang siap berjihad, berjuang meraih Ilmu. Bangunan ini terletak tepat di samping tajug/ masjid, agar anak-anak mudah menjangkaunya selepas shalat bersama. Kini di depan surau telah duduk Pak Kiai Hasan, sesosok sederhana namun bersahaja. Beliau seringkali menjadi icon pemicu semangat anak-anak dalam belajar meraih ilmu. Seringkali surau dijejali anak-anak yang hendak belajar. Sehingga jumlah mereka tidak tertampung lagi untuk bisa duduk di dalam surau. Ajaib memang, walau tanpa adanya absensi jumlah murid-murid yang hadir tidak pernah surut berkurang. Bahkan Nizam dan Ali pada saat sakit pun sering memaksakan hadir di majelis ilmu ini.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kabarnya baik anak-anak?” Buka Kiai Hasan

“Wa’alaikumussalam Wr. Wb, alhamdulillah baik Pak Kiai” jawab anak-anak serentak. Secara umum jawaban anak-anak begitu. Walau tidak menutup kemungkinan ada anak yang sedang sakit ringan. “Alhamdulillahirobbil’alamiin, segala puji bagi Allah penggenggam jiwa-jiwa yang hidup. Sholawat dan Salam senantiasa tercurah kepada sang Teladan utama Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam. Anak-anak Insya Allah pada kesempatan ini Bapak akan membahas pentingnya Ilmu, dan menceritakan bagaimana kisah para Ulama yang menjelaskan bahwa betapa Islam sangat mencintai dan memperhatikan adab-adab mencari ilmu” papar Pak Kiai. “bla bla bla, dst” sementara itu anak-anak khidmat mendengarkan dan mencatat perkataan pak Kiai di buku sakti mereka. Perjalanan majelis ini berlangsung hangat, anak-anak seringkali bertanya kepada Pak Kiai terkait hal-hal yang baru mereka dengar.

            Sekali-sekali Nizam memperhatikan kelakuan rekan-rekannya, yang terkadang ada saja hal aneh yang ia temui. “Yah, pak Kiai kok tidak membahas lanjutan sifat-sifat Allah lagi” keluh Wildan yang berada di samping Nizam, “kenapa emangnya Dan? Kan materinya juga bagus” tanya Nizam. “Saya sudah terlanjur mengisi buku ramadhan saya dengan materi sifat Allah Al-Bashar” jawab Wildan “haaah? Kok bisa Dan!” Nizam merasa kaget sambil menahan tawa “Iya ini saya tulis berdasarkan tulisan dari buku kakak saya, kemarin Pak Kiai membahas As-Sama. Biasanya kan pembahasannya sistematis, kali ini beda” papar Wildan “waduh, tenang aja Dan, Pak Kiai baik kok. Jelaskan saja nanti ke Pak Kiai saat minta tanda tangan beliau” ucap Nizam menenangkan kegalauan Wildan. “Baik Zam, mudah-mudahan beliau tidak marah”

“Iya Dan, nyantai aja!”

Dilihatnya pula anak-anak yang lain cukup menuliskan “uraian” dengan mode justify di bukunya. Hal ini biasa dilakukan anak-anak junior yang masih menginjak kelas 1 dan 2 Madrasah Ibtidaiyah. Anak kecil itu nampak kasak-kusuk kebingungan saat mengisi buku aktivitas ramadhan miliknya. Barangkali, apa yang ada di benaknya persis seperti apa yang ada di benak Nizam beberapa tahun Silam. Ajaibnya mereka menuliskan kata yang sama seperti yang Nizam lakukan saat pertama kali menulis yaitu “uraian” dengan mode justify. Nizam hanya tersenyum dalam hati melihat kelakuan mereka sambil menerawang ramadhan masa lalu yang telah Nizam lalui. “Ya Rabb, beberapa tahun terus bergulir, kata ajaib itu masih saja digunakan, tak berubah: ‘uraian’”. Lirih Nizam. Disadarinya kata “uraian” tidaklah tepat menggambarkan aktivitas mencatat kami, sebab menguraikan berarti menjabarkan panjang lebar, sedangkan yang kami lakukan hanyalah menyingkat kalimat-kalimat penting dari Pak Kiai saja selebihnya ditulis “uraian” di lahan sisa kertas yang masih kosong.

            Sudahlah dalam hati Nizam menggertak dirinya untuk fokus kembali memperhatikan ucapan Pak Kiai, kini Nizam telah lebih baik dalam menyimak, setiap kali belajar ia catat dengan lengkap, walau tetap tidak bisa mencatat kembali seluruhnya perkataan pak Kiai. Singkatnya inti dari ceramah hari ini Pak Kiai Hasan menjelaskan kisah seorang Al-Jahiz sosok pejuang ilmu, beliau adalah seorang Ilmuwan Muslim yang kaya akan ilmu. Tahukah ternyata arti dari Al-Jahiz adalah “melotot”, karena beliau adalah seorang yang hidupnya miskin di zamannya. Siang hari ia gunakan untuk berjualan ikan di pasar, sementara malam hari ia gunakan waktunya untuk menginap di perpustakaan untuk belajar. Karena beliau tidak memiliki uang untuk membeli buku, juga tidak memiliki waktu untuk belajar selain malam hari. Karena kekurangan tidur Al Jahiz memiliki mata merah dan melotot. Masya Allah begitu gigihnya para peraih Ilmu masa silam. Buku karya-karya Al-Jahiz ini sangat banyak salah satunya adalah Khatib Al-Bukhala. Beberapa riwayat mengatakan bahwa beliau meninggal karena tertimbun buku di perpustakaannya. Allohu Akbar!! Pak Kiai juga membacakan quote milik al Jahiz, yang isinya:

 Dalam setiap generasi dan setiap bangsa,

terdapat beberapa golongan yang memiliki keinginan untuk mempelajari cara alam bekerja.

Seandainya mereka tidak ada,

maka bangsa-bangsa pun akan binasa (Al-Jahiz).

Berkali-kali anak-anak dibuat kagum atas apa yang Kiai Hasan sampaikan kepada anak-anak. “Anak-anak begitulah ulama terdahulu menghormati dan adab akan ilmu. Seorang Al-jahiz yang miskin saja seperti itu, apalagi dengan orang kaya masa silam. Lebih-lebih lagi. Mereka memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing”. Jelas Pak Kiai. “Bagaimana dengan para penguasanya Pak?” tanya Ali yang dari tadi khusyuk menyimak ceramah. “Begitupun penguasanya, mereka pemilik kebijakan. Mereka tidak ingin kalah dengan rakyat-rakyatnya. Para pemimpin para ulama melahirkan banyak karya dan tulisan hingga saat ini kita lah penikmat karya-karya mereka”. Jawab kiai Hasan. “Allohu Akbar, saya terinspirasi sekali Pak” teriak Wildan yang kini tampak lebih ceria dan semangat.

            Selepas ceramah Kiai Hasan berpesan kepada murid-muridnya untuk senantiasa bersemangat dalam meraih ilmu, dan giat mengikatnya dengan mencatat. Anak-anak tampak semakin bergairah setelah dicharge oleh ceramahnya pak Kiai. Anak-anak memang lebih suka dibawa bercerita.

“Mudah-mudahan ilmu yang telah Bapak sampaikan membawa berkah dan manfaat, amiin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb” tutup Pak Kiai.

”Amiin, wa’alaikumussalam Wr. Wb” seru anak-anak berjamaah. Beberapa detik kemudian barisan ular terbentuk, anak-anak antri untuk menunggu giliran tanda tangan Pak Kiai di buku saktinya.

“Mohon maaf Pak Kiai, kali ini saya pakai buku catatan dulu. Buku Ramadhannya hilang” ucap Nizam, saat gilirannya menghadap Pak Kiai.

“Oh, buku Ramadhan punya Nizam ada di rumah Bapak, kemarin ketinggalan. Nanti selepas bubaran ambil ya ke rumah!”

“Begitu ya Pak! Mohon maaf Pak telah merepotkan”

“Tidak apa-apa Zam, setelah saya perhatikan isi tulisanmu lengkap! Sepertinya kamu suka menulis ya Zam?” Tanya Pak Kiai

“Insya Allah Pak Kiai, saya sangat terinspirasi oleh sosok-sosok ulama dahulu yang gemar menulis. Mohon do’anya ya Pak!”

“Insya Allah Zam, semoga Allah memberkahi Nizam”

“Amiin, syukran Pak Kiai”

Tempat mulia yang bernama surau itu harus sepi untuk sementara, anak-anak kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

tok tok tok!!”suara ketukan pintu membangunkan Nizam dari lamunannya

“Nizam, Nizam!! sahur” disusulnya dengan ajakan untuk sahur. “Iya, Zak sebentar”.

Sudah tak asing lagi Zaki rekan kostnya seperti biasa membangunkan Nizam.

Jarum jam tidak lagi menunjukkan 02.25 karena ia telah mengiringi lamunan Nizam selama beberapa waktu. Tidak terasa memang, namun hasil penemuannya itu berhasil membuat ia tersenyum beberapa saat. Ia teringat kembali kepada kawan-kawan seperjuangan Suraunya terlebih kepada gurunya di kampung yang jauh disana, tak lupa kepada orang tuanya yang mash menaruh harapan di pundak Nizam. Rindu semakin menjalar dalam dadanya, hela nafas ia hirup panjang untuk sekedar menenangkan kembali.

“Zam, ayo nasi sudah masak, lauk juga sudah sedia tadi belanjanya sekalian! Nanti keburu imsak” Ajak Zaki kembali

“Iya Zak, waaah terima kasih banyak! Nanti uang lauknya saya ganti ya!”

“siip brader!  Eh ya, bagaimana dengan projek tulisanmu, Sudah selesai?”

“Sedikit lagi, entah mengapa menyelesaikan itu lebih sulit dari pada memulainya”

“Sepertinya perlu muhasabah lagi, upgrade kembali niatnya Zam”

“Iya akhi betul, Insya Allah kali ini semangat hadir kembali, malam tadi saya tidak bisa istirahat, namun saya menemukan berhasil menemukan sesuatu”

“apa itu Zam?”

“Do’a Guru saya, semangat dukungan kawan-kawan kecil saya, motivasi kisah ulama-ulama terdahulu yang sangat hobby menuliskan ilmu yang diperolehnya”

“Bagaimana ceritanya Zam?”

“Kompleks, sedikit misteri,, hehe mungkin begitulah cara Allah membukakan Inspirasi”

“Iya Zam, mungkin sebagai amunisi tambahan. Sahabat rasul, seorang Ilmuwan yaitu Ali Radhiallohu Anhum pernah berpesan: ‘Ikatlah Ilmu itu dengan tulisan, Ilmu itu tersebar di alam’. Pepatah beliau menunjukkan bahwa mengikat ilmu yang kita miliki itu sangat penting untuk dilakukan”

“Waah iya ya Zaki terima kasih banyak pengingatnya!, baiklah kini saya semakin yakin! Insya Allah saya akan tampil sebagai pejuang di jalan sunyi”

“Amiin, semangatlah Zam. Insya Allah saya juga!”

Nizam dan Zaki hanya kuliah di kampus Gajah yang pada prinsipnya mencetak sarjana-sarjana teknik dan sains. Tapi hal itu tidak menghalangi harapan pemuda-pemuda ini menjadi pejuang di jalan sunyi. Selayaknya hobby para ulama masa silam.

Barakallah Nizam!!

Penggalan kenangan  ramadhan kecil

@Sayembara Al Qolam tingkat JABAR

Belum Pertamax :D

Assalamu’alaikum wr wb.

Setelah melalui proses penilaian yang panjang, cukup melelahkan, dan melatih kesabaran, akhirnya pada hari ini Sabtu, 6 Oktober 2012, kami atas nama Panitia GKCTN 2 UKKI Unsoed mengumumkan Pemenang GKCTN 2 sekaligus 20 Besar Karya Terbaik yang berhak mendapat hadiah yang telah disediakan. Berikut daftar Ketiga Juara dan 20 Besar tersebut:

1. Juara I –> Surya Pratama Putra “Aku Mencari Tuhan” (Score 965)

2. Juara II –> Dwi Annisa Fajria “Biarkan Aku Tetap Buta” (Score 963)
3. Juara III –> A’la Dzunnuroin “Muhasabah Cinta” (Score 962)
4. Marisa Dwi Kusuma Wardani “Nabiel” (Score 946)
5. Aceng Salim “Perjalanan Hikmah di “Ibu Kota” Ramadhan” (Score 943)
6. Noviana Putri “Seindah Pelangi” (Scor 933)
7. Muhammad Taufik Hidayat “A Dream” (Score 932)
8. Risha Amalia “Jodoh Itu Rizki” (Score 919)
9. Bayu Rhamadani W. “Badan Pusat Statistik” (Score 910)
10. Bayu Tri Murti “Mentoringmorfosa” (Score 903)
11. Eka Restianingsih “Bismillah, Ya Allah Kali Ini Saya Berjilbab Karena-Mu” (Score 901)
12. Mawar Rovita Sari “Elektron yang Hilang” (Score 898)
13. Fitriana Hidayah “Polusi Cinta” (Score 897)
14. Hayin Naila N. “Ratapan Anak Meong” (Score 895)
15. Iswatul Hasanah “Bisikan dari Surga” (Score 892)
16. Shelyna Fauziah “Lukisan Langit Malam” (Score 888)
17. Rida Farhani “Mutiara Tampanku” (Score 887)
18. Ayu Ginarsih “Tuhan, Aku Siap untuk Menghadap-Mu” (Score 886)
19. Athika Darumas Putri “Dakwah: Jangan Memilih, Lakukan yang Terbaik untuk Semua!” (Score 878)
20. Irsyad/Salimun Abenanza “Bunga Ngilu” (Score 878)

Selamat kepada para pemenang, dan jangan berkecil hati bagi peserta yang belum beruntung. Menulislah dengan penuh komitmen, karena tulisan adalah bentuk pengabadian pemikiran yang abstrak.

20 Besar Terbaik akan kami kirimi 1 Bukti Cetak Antologi setelah buku selesai dicetak. Dan bagi ketiga juara, juga akan mendapatkan uang tunai dan sertifikat.

Khusus untuk KETIGA JUARA, harap segera mengirimkan nomor rekening masing-masing ke nomor HP 085747221027 (Yudi Dirgantara–Ketua Panitia GKCTN 2).

Berkaitan dengan acara Bedah Buku Nasional pada tanggal 21 Oktober 2012, kami mengundang 20 Besar Karya Terbaik untuk hadir dalam acara tersebut, terutama untuk KETIGA JUARA.

Sekian pengumuman ini kami sampaikan.
Let’s write and inspire!

Wassalamu’alaikum wr wb.

_Pan GKCTN 2 UKKI Unsoed 2012

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menitipkan kemampuan-kemampouan brilian bagi hambaNya yang memahami. Ini lomba yang pertama kali saya ikuti tingkat nasional, dgn mendapat skor ke lima lumayan lah! Mudah-mudahan impian seorang Nizam yang ada dalam penggalan kisah cerpen yang saya tulis bisa terwujud atas kehendak dan kemurahan Illahi, amiin Ya Mujiib ^^
Pasca pindahan Asrama KP
membersamai kelelahan sepanjang malam ^^
Allohu Akbar!!

Pilu!!

Sering saya berpikir apakah yang saya alami ini normal? Yang pada umumnya orang-orang alami? . . beberapa saat aku tatap langit, ku terawang ke atas sana lebih dalam, seraya kutemukan kembali bahwa faktanya mayoritas tidak merasakan apa yang saya rasakan. Seperti biasa sahabat kost saya, Eka Nur pamit untuk izin berangkat halaqah bersama kawannya. Rupanya kali ini ia dijemput kawannya dengan menaiki sepeda motor. “Salim, ieu abdi nitip konci bade angkat halaqah”.. sejenak diri ini diam seperti ada hal yang teriris  hati ini. Ini bukan kali pertama saya merasakannya, sudah berkali-kali. Namun kali ini ingin saya tuliskan pilu hati ini.

Kami shalat isya berjamaah di masjid Al-Hasanah. Mesjid kesayangan kami, selama kami tinggal di kerajaan taman indah. Walau untuk menjangkaunya perlu perjuangan yang cukup berat, harus menaiki dan menuruni 3 level tangga, namun hal ini menjadi aktivitas sehari-hari kami. Selepas shalat saya duduk sementara di serambi kost. Bertahan untuk merasakan denyut pilu hati yang sejak beberapa menit yang lalu telah menjalar. Tahukah kawan? Kenapa hal ini terjadi?..  Baiklah akan sedikit saya jelaskan. Sungguh saya merasa iri dengan aktifitasnya itu. Ia masih terjaga dalam bimbingan pembinaan bersama kawan-kawannya dalam bimbingan gurunya. Sementara Aku? . . Semester 5 kuliah di itb ini, saya telah kehilangan aktifitas tercinta saya. Aktifitas yang senantiasa membuat hati ini hidup secara serentak bersama rekan-rekan saya untuk sementara fakum dulu. Entah sampai kapan, walau baru kemarin. Serasa sudah sangat lama….. Jika dianalisis, memnag tidak ada salahnya untuk vacum, karena kevakuman aktifitas belajar kami bukan tanpa alasan, karena guru kami harus berangkat Ibadah haji ke tanah haram. Selepasnya beliau berencana akan mengambil kuliah S3 di luar negeri. Ah, bukannya ini akan menjadi tambah lama. Entahlah kondisi ini membuat hati ini pilu.

Astagfirullahal’adzim!!!

Proses pembinaan yang dijalani secara individual sebagai bentuk penjagaan hati saya rasakan memang tidaklah cukup. Kadang sangat diperlukan kebersamaan itu. Seringnya lagi bimbingan seorang guru itu sangat kami butuhkan. Namun kini aktifitas mulia ini harus vacum.

Hampa.. kosong!

6 hari lalu, saya mengikuti seleksi wawancara calon tutor asrama itb. Salah satu pertanyaannya adalah apakah anda ikut pembinaan mentoring. Saya jawab iya memang, namun pembinaan ini pula masih belum jalan kembali. Lalu dilanjutkan lagi oleh sang pewawancara. Apakah Anda membina adik mentor? Saya jawab tidak. Belum saya terima tawaran rekan-rekan saya untuk memegang adik tutor. Bukannya itb kekurangan mentor ya? Kenapa tida kamu ambil. Kemudian saya jawab pertanyaan ini dengan alasan klasik terkait jadwal. Sungguh yang menjadi kendala utama saya belum bisa menerima adik-adik mentor adalah karena saya sendiri kali sedang vakum dibina. Mana bisa saya memberikan bimbingan orang lain tanpa ada bimbingan yang memelihara saya?

Analoginya jika saya sebuah teko, dan adik mentor adalah gelasnya. Tentu tidaklah mungkin bisa saya menuangkan air dari teko selama teko ini tidak diberikan amunisinya.

Ah, tidak mau aku seperti ini! Tak ingin saya dibuat pilu terus oleh kawan saya ini. Harus cari jalan keluar. . adakah yang mau jadi Mentor saya?

 

 

 

Kehadiran “Kembali” Figur seorang Abi

13/09/2012

Kehadiran “kembali” sesosok Abi (Ayah), setiap kali saya menggali informasi mengenai beliau, sifat, pikiran dan perilaku beliau seringkali membuat saya terkagum .. Semuanya mencerminkan bahwa beliau merupakan orang yang shalih, tidak pernah saya bayangkan bagaimana dan seperti apa beliau di zaman “muda”nya dulu. Sejauh ini saya ti8dak pernah jemu untuk belajar “membersamainya”, secara fisik mungkin majelis belajar kita sudah selesai, dan ilmu ini juga belum matang untuk saya kuasai, namun saya seringkali belajar dari beliau tanpa harus kontak fisik. Seperti hal umumnya saat ini, media internet saya jadikan media pembalajaran.

Sekali-kali saya pelajari tulisan-tulisan yang sempat beliau catet di note atau catatan ilmu elektronik, seringkali membuat hati ini tergetar. Lumaya sering pula getaran hati ini diiringi tetesan air mata karena isinya telah mengingatkan kembali diri ini untuk lebih membuka mata dan hati. Sesaat di sela di serbu kesibukan aktifitas kuliah dan tugas2 yg super numpuk di kampus ganesha, tidak mengurangi porsi konsentrasi saya untuk mengambil hikmah ilmu dari beliau. Teringat di saat dikejar deadline tugas, saya lihat email ada notifikasi bahwa blog beliau meluncurkan tulisan hikmah yang baru, dengan hitungan waktu beberapa detik saja saya langsung klik untuk melihatnya, kadang haru, bahagai, senyum, semangat menyelimuti jiwa ini. Mungkin inikah yang dinamakan sentuhan jiwa itu? Allah mengarahkan pesan-pesan hikmah itu hanya dikemas dengan tulisan. Entahlah. . Sampai saat ini taujih beliau di komunitas online senantiasa saya nantikan, hmm bahagia rasanya!!

                Bersyukur kepada Allah yang telah menghadirkan kembali sesosok Abi yang bisa saya jadikan figur untuk bergerak di dunia ini. Orang-orang seringkali memanggil beliau dengan panggilan Ustadz, karena beliau memang guru kami. Tapi saya lebih nyaman memanggil beliau dgn sebutan Bapak , pernah juga manggil Abi. Karena memang saya sudah jauh lama sekali tidak menjumpai sesosok Abi. Tepatnya sudah 13tahun saya hidup tanpa didampingi seorang Abi. Ketika Allah menakdirkan menjumpakan saya dengan beliau serasa menemukan sosok seorang Ayah kembali. Guruku à Abiku !!

Abi, Uhibbukum fillah

Semoga Allah menambahkan keberkahan dalam kehidupan keluarga kita, amiin

Abiiiii, doakan, semoga saya bisa menjadi Kakak yang baik bagi adik-adik nanti!

Dalam Hening Malam

Menjelang Sahur bersama rekan2 kost! 

Penggalan Silaturahim *Pasca Ramadhan*

Penggalan Silaturahim

Kali ini di sela waktu 11/09/2012, kembali saya saksikan sepenggal kisah orang-orang yang Allah mampukan ketika jiwanya terpanggil untuk menjumpaiNya di tanah Haram, rasanya haru, haru tambah haru disaat hati ini telah memiliki azam untuk meng’haji’kan Mamah saya. Saat ini dan beberapa waktu ke depan saya memang tidak memiliki bayangan. Tapi di hati ini terpatri keyakinan bahwa Allah lebih tau akan semua qada dan qadarNya yang telah ditetapkan. Teringat perkataan guru saya pada saat silaturahim pasca idul fitri tepatnya tanggal 4/09/2012 beliau mengingatkanku kembali, jangankan terkait hal-hal yang besar dalam kehidupan kita, lebih jauh dan lebih dalam lagi Allah mengetahui dengan teliti atas setiap kejadian yang telah Allah tetapkan dalam kitab Lauhmahfudznya. Misalnya saja jatuhnya daun kering dari pohonnya telah Allah catat dalam kitab kehidupan dimana, kapan dan kondisi apa ia jatuh ke tanah. Apalagi terkait takdir yang akan manusia jalani dalam kehidupannya. Semua telah atur sedemikian rupa agar kita senantiasa yakin dan tetap optimis atas semua ketetapanNya!

Tali Silaturahim

Alhamdulillah, Allah memang senantiasa menyediakan nasihat yang sangat bijak khususnya bagi saya pribadi. Pada saat kesempatan kelimpahan tiba, diri ini dituntut agar tidak lena dengan apa yang didapat kala itu, karena apa yang diperoleh saat itu sifatnya sementara. Mudah-mudahan Allah senantiasa melunakkan hati ini karenaNya! Begitupun kala waktunya masa “pailit” melanda, sering jiwa ini lemah lemes karena diterpa cobaan yang tidak diimbangi dengan penguatan hati, pada masa ini saya dituntut untuk lebih meyakini akan kekuasaan Allah yang sering kali hadir tanpa ada sangka dan prediksi sebelumnya. Bismillah, akan ku biarkan semuanya mengalir mengikuti semua KetentuanMu Ya Aliim. Berharap jiwa ini senantiasa dikuatkan dan diingatkan lagi agar bisa sesegera keluar dari masa ke”galau”an dan kecemasan. Amiin

Kembali ke kunjungan silaturahim minggu kemarin, kami berbincang-bincang dengan pun Guru kami! “Bapak, doakan Salim ya Pak pada saat di mekkah nanti” sambil nyengir saya meminta. “Doain apa?, segera dapat jodoh”.

Hehehe, hati ini tersenyum. Gara-gara disinggung ttg hal itu, kami malah jadi bincang-bincang tentang “itu” (jodoh, takdir, khitbah, nikah). Lengkaap deh pokonya, padahal bincang-bincang awal kami adalah pembicaraan terkait kondisi ummat Islam, pertikaian, kisah keilmuan para ulama, dll. “Iya,iya Pak yang penting yang baik,baik!, awalnya hanya ingin meminta didoakan agar hati ini semakin didekatkan dengan Allah, tauhid di jiwa ini semakin kuat, qalb ini semakin merindukan kajian Ilmu yg bisa mengingat Allah lebih lama, pengabdian diri ini bisa diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan Rasulnya, raga ini bisa diinfakkan untuk berbakti kepada orang tua, guru, dan masyarakat seiman, ya hanya itu sisanya entah terkait jodoh, kekayaan dll sebagi plus-plus-plus”. Sesungguhnya saya ini tipe orang yg introvert, tidak mudah untuk berbagi cerita dan cita kepada orang lain, tapi kali ini saya tidak malu untuk untuk bertanya, bercerita kepada Guru saya. Karena saya yakin bercerita kepada orang yang Sholeh, bukan hanya cerita, yang tinggal cerita saja mengalir tanpa makna. Selalu ada ilmu yang saya peroleh membersamai cerita itu. Terlebih lagi doa yang dipanjatkan seorang guru bagi muridnya itu mudah untuk di kabul Allah. Sama halnya meminta do’a dari orang tua…… Aaaaahhh, aku bahagiaaaa! Ya Rabb, panjangkan umur mereka ya Rabb, guru-guruku, orang tuaku. Berikan kekuatan bagi diri ini untuk bisa berbakti kepada mereka.

Menginjak rumah pun Guru untuk pertama kalinya, bawaannya hati ini tenang, kondisi rumah sederhana, sejuk, saya sukaaaa, cita-cita saya punya rumah kelak di dunia ini cukup sederhana, menyuasanakan rumah sebagai madrasah yang senantiasa meningkat gairah menggali ilmu. Perbincangan kami terjadi lumayan cukup lama, tapi tidak terasa. saya bersama teman saya (Kang Mustofa) berkunjung ke rumah ba’da ashar, keluar rumah maghrib. Tak terasa memang, saking betahnya. Hmmm, kapan lagi ya berkunjung! Betah, apalagi saya belum pernah sempat silaturahim bersama ibunya (Fatih dan Azzam).

Continue reading