Cita-cita Kami PIMPIN Bandung

PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan) Bandung

Ikhtiar Mencetak Ulama-Ilmuwan Muslim

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan.

Suatu hari, seorang pemuda cerdas berkelana. Hanya ilmu yang ia inginkan. Dengan penuh semangat, ia belajar kepada puluhan guru. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi peneliti bidang astronomi. Dengan fasih ia menerangkan garis bujur dan Lintang kepada masyrakat. Tak lama berselang, usia 22 tahunia membuat sebuah proyeksi peta, kartografi. Sebuah sumbangsih besar untuk peradaban modern. Usia 27 tahun menyempurnakan dalam sebuah buku “Kronologi’. Setelah itu, ia terus berkarya memberikan sumbangih bagi umat. Ialah Al Biruni.

Al Biruni ialah seorang Ilmuwan besar Islam. Tak hanya masalah astronomi ia kuasai. Buku-bukunya tentang matematika, kedokteran, sejarah,sastra, dan lainnya ia kuasai. Orang-orang seperti Al Biruni ini tidak sendiri. Masih ada ratusan ilmuan yang juga ulama pada zamannya. Ada Al Kindi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al Farabi, Ibn Khaldun, dan masih banyak lainnya.

Berabad-abad kemudian di Bandung, tahun 2009, lahirlah Institut Pemikiran dan Pembinaan Insan (PIMPIN), sebuah wadah komunitas yang bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan Peradaban Islam di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Prof. Wahn Mohd Daud, seorang intelektual muslim abad ini, turut hadir mendeklarasikan PIMPIN, selain para Pembina: Dr. Khalif Muammar, Dr. Adian Husaini (Ketua Program Studi Pemikiran Islam UIKA, Bogor, Adnin Armas, MA (Direktur Eksekutif INSIST), dan lainnya.
Selanjutnya, PIMPIN terus bergerak, menggelar megaproyek membentuk embrio-embrio Ilmuwan Muslim. Pelbagai training, dan workshop mulai digalakan dari kampus ke kampus seperti ITB, UI, Unikom, Unpad, ST Telkom, dan kampus-kampus lainnya.

“ Kami ingin menghimpun para ilmuwan untuk mengemban misi nabawi, yaitu misi tahriri-tanwiri-islahi (pembebasan-pencerahan-perbaikan). Kami berhasrat menggabungkan kekuatan para ilmuwan, dari berbagai bidang kepakaran, yang memiliki kerangka pemikiran dan worldview Islami yang jelas dan kukuh. Dengan harapan dapat memberi sumbangsih serta mewarnai pembinaan bangsa agar tampil sebagai bangsa mandiri, dan unggul yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Usep Mohamad Ishaq, aktivis Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) kepada Alhikmah medio Desember 2012 lalu.

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan. “Belajar dari sejarah peradaban besar dunia, khususnya peradaban Islam yang gemilang, maka dalam pandangan kami gerakan pencerahan dan keilmuan yang intensif merupakan kunci terjadinya perubahan dan kebangkitan (nahdah) sebuah masyarakat.”
Oleh karena itu, Usep menambahkan, berbekal bimbingan Alquran dan penelitian yang mendalam terhadap sejarah peradaban manusia, kami menyadari bahwa menyelamatkan dan membangun kembali bangsa ini perlu dimulai dengan gerakan keilmuan yang intensif, dipelopori oleh golongan ilmuwan otoritatif dan kompeten. Tujuannya tentu untuk mengkaji dan memberikan solusi bagaimana dan pada bagian mana perbaikan (islah) hakiki dan komprehensif dalam tubuh umat dapat dilakukan.
“Kurikulum yang digunakan dikembangkan utamanya dari buku ‘Islam dan Sekularisme’ karya Prof. Al-Attas. Karena bagi kami karya tersebut merupakan karya yang mengandung pokok-pokok penting yang harus ditanamkan untuk membentuk pola pikir seorang muslim,” kata Usep. Menurutnya, pembinaan mencetak ilmuan dimulai dengan membentuk pola pikir Islam yang benar.
Sebut saja, mahasiswa Fisika yang dengan ilmunya suatu saat diharapkan menjadi Ulama besar yang juga faham agama, tak hanya fiskanya saja. Seorang mahasiswa Kimia yang kelak menjadi ilmuan muslim kimia. Juga seorang mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjad ekonom besar. Tak hanya ahli bidang tertentu saja, tetapi ahli dalam hal agama.
“Karena itu bagi kami, hal yang paling penting untuk dilakukan untuk membentuk insan yang baik adalah memperbaiki cara berfikirnya dan cara pandanganya, termasuk masalah cara pandang terhadap ilmu dan pendidikan. Perbaikan ini dilakukan melalui pendidikan dan penanaman konsep-konsep penting tentang ilmu, Tuhan, agama, pendidikan, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain,” tegas Usep.
Walhasil, gerakan PIMPIN ini difokuskan kepada para pendidik. Tak lain ialah guru, mahasiswa, dosen, dan institusi-institusi pendidikan. Dari sanalah, diciptakan ilmuwan-ilmuwan muslim, seperti halnya zaman kegemilangan Islam. Bahwa pernah ada, seorang saintis yang juga Ulama. Seorang ilmuwan besar, tetapi juga ia seorang Ulama. Karena, hubungan Islam dan ilmu-lmu lainnya adalah saling mendukung.
“Dalam Islam, sains, dan ilmu lainnya ditempatkan dalam tempatnya yang wajar sesuai proporsinya, sesuai wilayahnya. Namun alqur’an dan al-Hadith merupakan sumber ilmu tertinggi yang juga diakui,” ugkapnya. Dengan bimbingan wahyu dan juga keahlian masing-masing, para pendidik berkumpul di PIMPIN Bandung.
Mahasiswa-mahasiswa dengang getol mempelajari Islam tetapi juga sains. Mempelajari politik, tetapi mepelajari juga bahasa arab. Semuanya saling mendukung. Kajian-kajian yang dilakukan PIMPIN di Kampus-Kampus agar semata-mata, para mahasiswa yang kelak menjadi pendidik dan praktis mampu membawa nilai Islam dalam setiap aktivitasnya.

“Melalui pendidikan seperti ini, dengan pertolongan Allah subhanahu wa Ta’ala, kita tidak akan terlampau khawatir meninggalkan generasi yang lemah dan ringkih; kita akan berani meninggalkan generasi penerus kita karena telah mewariskan kepada mereka sesuatu yang akan melindungi mereka di dunia dan akhirat,” Pungkas Usep. Aaminn. Kita doakan bersama-sama.
[rizkilesus]

Pimpin Bandung on Media :)

PIMPIN  (Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan) Bandung

Ikhtiar Mencetak Ulama-Ilmuwan Muslim 

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan.

Suatu hari, seorang pemuda cerdas berkelana. Hanya ilmu yang ia inginkan. Dengan penuh semangat, ia belajar kepada puluhan guru. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi peneliti bidang astronomi. Dengan fasih ia menerangkan garis bujur dan Lintang kepada masyrakat. Tak lama berselang, usia 22 tahunia membuat sebuah proyeksi peta, kartografi. Sebuah sumbangsih besar untuk peradaban modern. Usia 27 tahun menyempurnakan dalam sebuah buku “Kronologi’. Setelah itu, ia terus berkarya memberikan sumbangih bagi umat. Ialah Al Biruni.

Al Biruni ialah seorang Ilmuwan besar Islam. Tak hanya masalah astronomi ia kuasai. Buku-bukunya tentang matematika, kedokteran, sejarah,sastra, dan lainnya ia kuasai. Orang-orang seperti Al Biruni ini tidak sendiri. Masih ada ratusan ilmuan yang juga ulama pada zamannya. Ada Al Kindi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al Farabi, Ibn Khaldun, dan masih banyak lainnya. 

Berabad-abad kemudian di Bandung, tahun 2009, lahirlah Institut Pemikiran dan Pembinaan Insan (PIMPIN), sebuah wadah komunitas yang bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan Peradaban Islam di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Prof. Wahn Mohd Daud, seorang intelektual muslim  abad ini, turut hadir mendeklarasikan PIMPIN, selain para Pembina: Dr. Khalif Muammar, Dr. Adian Husaini (Ketua Program Studi Pemikiran Islam UIKA, Bogor,  Adnin Armas, MA (Direktur Eksekutif INSIST), dan lainnya. 
Selanjutnya, PIMPIN terus bergerak, menggelar megaproyek membentuk embrio-embrio  Ilmuwan Muslim. Pelbagai training, dan workshop mulai digalakan dari kampus ke kampus seperti ITB, UI, Unikom, Unpad, ST Telkom, dan kampus-kampus lainnya. 

“ Kami ingin menghimpun para ilmuwan untuk mengemban misi nabawi, yaitu misi tahriri-tanwiri-islahi (pembebasan-pencerahan-perbaikan). Kami berhasrat menggabungkan kekuatan para ilmuwan, dari berbagai bidang kepakaran, yang memiliki kerangka pemikiran dan worldview Islami yang jelas dan kukuh. Dengan harapan dapat memberi sumbangsih serta mewarnai pembinaan bangsa agar tampil sebagai bangsa mandiri, dan unggul yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Usep Mohamad Ishaq, aktivis Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) kepada Alhikmah medio Desember 2012 lalu.

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan. “Belajar dari sejarah peradaban besar dunia, khususnya peradaban Islam yang gemilang, maka dalam pandangan kami gerakan pencerahan dan keilmuan yang intensif merupakan kunci terjadinya perubahan dan kebangkitan (nahdah) sebuah masyarakat.” 
Oleh karena itu, Usep menambahkan, berbekal bimbingan Alquran dan penelitian yang mendalam terhadap sejarah peradaban manusia, kami menyadari bahwa menyelamatkan dan membangun kembali bangsa ini perlu dimulai dengan gerakan keilmuan yang intensif, dipelopori oleh golongan ilmuwan otoritatif dan kompeten. Tujuannya tentu untuk mengkaji dan memberikan solusi bagaimana dan pada bagian mana perbaikan (islah) hakiki dan komprehensif dalam tubuh umat dapat dilakukan. 
“Kurikulum yang digunakan dikembangkan utamanya dari buku ‘Islam dan Sekularisme’ karya Prof. Al-Attas. Karena bagi kami karya tersebut merupakan karya yang mengandung pokok-pokok penting yang harus ditanamkan untuk membentuk pola pikir seorang muslim,” kata Usep. Menurutnya, pembinaan mencetak ilmuan dimulai dengan membentuk pola pikir Islam yang benar. 
Sebut saja, mahasiswa Fisika yang dengan ilmunya suatu saat diharapkan menjadi Ulama besar yang juga faham agama, tak hanya fiskanya saja. Seorang mahasiswa Kimia yang kelak menjadi ilmuan muslim kimia. Juga seorang mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjad ekonom besar. Tak hanya ahli bidang tertentu saja, tetapi ahli dalam hal agama.
“Karena itu bagi kami, hal yang paling penting untuk dilakukan untuk membentuk insan yang baik adalah memperbaiki cara berfikirnya dan cara pandanganya, termasuk masalah cara pandang terhadap ilmu dan pendidikan. Perbaikan ini dilakukan melalui pendidikan dan penanaman konsep-konsep penting tentang ilmu, Tuhan, agama, pendidikan, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain,” tegas Usep.
Walhasil, gerakan PIMPIN ini difokuskan kepada para pendidik. Tak lain ialah guru, mahasiswa, dosen, dan institusi-institusi pendidikan. Dari sanalah, diciptakan ilmuwan-ilmuwan muslim, seperti halnya zaman kegemilangan Islam. Bahwa pernah ada, seorang saintis yang juga Ulama. Seorang ilmuwan besar, tetapi juga ia seorang Ulama. Karena, hubungan Islam dan ilmu-lmu lainnya adalah saling mendukung.
“Dalam Islam, sains, dan ilmu lainnya ditempatkan dalam tempatnya yang wajar sesuai proporsinya, sesuai wilayahnya. Namun alqur’an dan al-Hadith merupakan sumber ilmu tertinggi yang juga diakui,” ugkapnya. Dengan bimbingan wahyu dan juga keahlian masing-masing, para pendidik berkumpul di PIMPIN Bandung.
Mahasiswa-mahasiswa dengang getol mempelajari Islam tetapi juga sains. Mempelajari politik, tetapi mepelajari juga bahasa arab. Semuanya saling mendukung. Kajian-kajian yang dilakukan PIMPIN di Kampus-Kampus agar semata-mata, para mahasiswa yang kelak menjadi pendidik dan praktis mampu membawa nilai Islam dalam setiap aktivitasnya.

“Melalui pendidikan seperti ini, dengan pertolongan Allah subhanahu wa Ta’ala, kita tidak akan terlampau khawatir meninggalkan generasi yang lemah dan ringkih; kita akan berani meninggalkan generasi penerus kita karena telah mewariskan kepada mereka sesuatu yang akan melindungi mereka di dunia dan akhirat,” Pungkas Usep. Aaminn. Kita doakan bersama-sama.
[rizkilesus]

Belum Pertamax :D

Assalamu’alaikum wr wb.

Setelah melalui proses penilaian yang panjang, cukup melelahkan, dan melatih kesabaran, akhirnya pada hari ini Sabtu, 6 Oktober 2012, kami atas nama Panitia GKCTN 2 UKKI Unsoed mengumumkan Pemenang GKCTN 2 sekaligus 20 Besar Karya Terbaik yang berhak mendapat hadiah yang telah disediakan. Berikut daftar Ketiga Juara dan 20 Besar tersebut:

1. Juara I –> Surya Pratama Putra “Aku Mencari Tuhan” (Score 965)

2. Juara II –> Dwi Annisa Fajria “Biarkan Aku Tetap Buta” (Score 963)
3. Juara III –> A’la Dzunnuroin “Muhasabah Cinta” (Score 962)
4. Marisa Dwi Kusuma Wardani “Nabiel” (Score 946)
5. Aceng Salim “Perjalanan Hikmah di “Ibu Kota” Ramadhan” (Score 943)
6. Noviana Putri “Seindah Pelangi” (Scor 933)
7. Muhammad Taufik Hidayat “A Dream” (Score 932)
8. Risha Amalia “Jodoh Itu Rizki” (Score 919)
9. Bayu Rhamadani W. “Badan Pusat Statistik” (Score 910)
10. Bayu Tri Murti “Mentoringmorfosa” (Score 903)
11. Eka Restianingsih “Bismillah, Ya Allah Kali Ini Saya Berjilbab Karena-Mu” (Score 901)
12. Mawar Rovita Sari “Elektron yang Hilang” (Score 898)
13. Fitriana Hidayah “Polusi Cinta” (Score 897)
14. Hayin Naila N. “Ratapan Anak Meong” (Score 895)
15. Iswatul Hasanah “Bisikan dari Surga” (Score 892)
16. Shelyna Fauziah “Lukisan Langit Malam” (Score 888)
17. Rida Farhani “Mutiara Tampanku” (Score 887)
18. Ayu Ginarsih “Tuhan, Aku Siap untuk Menghadap-Mu” (Score 886)
19. Athika Darumas Putri “Dakwah: Jangan Memilih, Lakukan yang Terbaik untuk Semua!” (Score 878)
20. Irsyad/Salimun Abenanza “Bunga Ngilu” (Score 878)

Selamat kepada para pemenang, dan jangan berkecil hati bagi peserta yang belum beruntung. Menulislah dengan penuh komitmen, karena tulisan adalah bentuk pengabadian pemikiran yang abstrak.

20 Besar Terbaik akan kami kirimi 1 Bukti Cetak Antologi setelah buku selesai dicetak. Dan bagi ketiga juara, juga akan mendapatkan uang tunai dan sertifikat.

Khusus untuk KETIGA JUARA, harap segera mengirimkan nomor rekening masing-masing ke nomor HP 085747221027 (Yudi Dirgantara–Ketua Panitia GKCTN 2).

Berkaitan dengan acara Bedah Buku Nasional pada tanggal 21 Oktober 2012, kami mengundang 20 Besar Karya Terbaik untuk hadir dalam acara tersebut, terutama untuk KETIGA JUARA.

Sekian pengumuman ini kami sampaikan.
Let’s write and inspire!

Wassalamu’alaikum wr wb.

_Pan GKCTN 2 UKKI Unsoed 2012

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menitipkan kemampuan-kemampouan brilian bagi hambaNya yang memahami. Ini lomba yang pertama kali saya ikuti tingkat nasional, dgn mendapat skor ke lima lumayan lah! Mudah-mudahan impian seorang Nizam yang ada dalam penggalan kisah cerpen yang saya tulis bisa terwujud atas kehendak dan kemurahan Illahi, amiin Ya Mujiib ^^
Pasca pindahan Asrama KP
membersamai kelelahan sepanjang malam ^^
Allohu Akbar!!

Bayang Cita-Ku

CitaKu!

Tepat pada 09092012, bayangan citaKu hadir menghampiri diri ini, ia datang tanpa dugaan sebelumnya. Lepas shalat maghrib bayangan itu hadir, mengalir begitu indah menandingi indahnya aliran mata air yang mengaliri aliran kehidupan di danau embun. Dalam benak hati ini, saya masih menganggap ia sebagai sahabat yg senantiasa saya rindukan kehadirannya! CitaKu bukan cita-cita biasa, Cita yg semua orang targetkan semasa kehidupannya. Hal yg membuat berbeda kehadirannya kali ini ia semakin menampakkan diri dalam bentuk bayangan cinta bayangan cita yang indah, paparannya begitu jelas. Menyejukkan pandangan hati terlebih pandangan mata secara dzahir.

Dalam citraannya,citaKu bercerita. Dia akan menghampiri ketika diri saya ini benar-benar sudah mafhum dalam penguasaan ilmu. Posisi saya disana adalah sebagai seorang guru, mentor dan sahabat murid-murid di sebuah pesantren/ sekolah madani. Yg tergambarkan pada lintasan tubuh citaku, dipaparkan keadaan lingkungan sekitar yang dipenuhi dengan rasa cinta. Murid-murid taat dan cinta pada guru. Terlebih guru-guru sangat mencintai murid-murid, mereka para guru sangat mengingini keselamatan akhlak bagi murid-murid. Tanda-tanda keikhlasan tampak jelas dari setiap sikap dan tingkah mereka dalam berinteraksi. Disana saya sangat menikmati suasana. Segerombol anak-anak hanyut dalam canda, riang belajar di tajug di pipir pondok, tepatnya di sebuah Taman yang biasa saya gunakan untuk menyendiri membersamau sahabat saya si ganteng Al Qur’anul Kariim. Tidak ada lagi rasa canggung dari anak-anak kepada saya, begitu pun saya. Hubungan kami tak ubahnya seperti hubungan serang ayah dengan puluhan anak yg ada di belakang taman itu. Tanpa menghilangkan adab tatakrama antara guru dan murid, kami berintearksi untuk mendiskusikan materi yang masih belum anak-anak mengerti.

Majelis Ilmu

Hari-hari yang menyertai masa ajal pun saya lalui dengan warna-warna sejuta pelangi yang dihiasi kasih sayang diantara semua civitas. Sepanjang tinggal di Pondok madani itu, tidak pernah ditemukan cerita-cerita yang memperkeruh suasana. Anak-anak menikmati masa belajarnya dengan penuh Khidmat. Siswa yang paling besar bertingkah layaknya seperti kakak, murid baru yang baru masuk mereka asuh dan diaping dengan ketulusan. Semua ini berlangsung secara alami, regulasi tak menjadi hambatan. Ikatan kasih sayang tidak hanya dilepaskan semasa tinggal di pondok saja, siswa alumni pun memiliki jadwal khusus untuk bersilaturahim, saling berbagi pengalaman, berbagi hikmah kepada adik-adiknya. Begitupun adik-adik, mereka menerima kedatangan kakak-kakaknya dengan legowo. Mereka dipersilakan untuk masuk dan bermain-main di sepanjang lingkungan pondok, dijamunya mereka dengan bungkusan makanan-makanan, kado, hadiah yang mereka miliki. Atmosfir saling berbagi dan memberi sangat dirasakan hati ini.

Guru-guru? Bagaimana dengan kondisi keilmuan para guru? .. para guru yang mengajar anak-anak adalah sekolompok pejuang  Allah (Jundullah), mereka senantiasa kompakan untuk mendidik dan membentuk akhlak anak-anak menjadi lebih mulia di hadapan Allah. Cinta kasih para guru akan ilmu sangatlah tinggi, walau sudah memiliki gelar doktor, mereka masih saja mensibukkan dirinya untuk memperdalam ilmu, mengajarkannya dengan ikhlas, dan mentransfer ilmu diantara sesama guru. Kulihat banyak guru-guru yang sedang dalam keadaan luang mengisi luang waktunya untuk bercengkrama dengan Al Qur’an, dengan kitab-kitab tulisan Ulama shalih, mereka mengisi juga tempat duduk-duduk majelis ilmu membersamai anak-anak. Tidak ada rasa gengsi untuk belajar “kembali” bersama anak-anak. Justru dgn membersamai mereka para guru belajar dan sangat memehami apa yang perlu ditekankan selama mengajar anak-anak di kelas Aaaah semuanya berjalan mengalir seperti aliran mata air embun dari gunung Jannahnya Allah. Sangaat indah, merasa bersyukur ketika di temukan dengan citaKu yang indah ini. Entah kapan ia hadir menghampiriku?

Bayangannya memang bertambah semain jelas, apa mungkin karena saya terlalu merindukannya?.. entahlah .. dengan ini, ku Azzamkan kembali di balik hati ini untuk memantaskan diri berada di lingkungan seperti yang citaKu paparkan di sepanjang bayang maghrib itu.

                Semakin tersanjung hati ini, ketika bayangan itu memperlihatkan “guru hati” saya berkunjung ke gubuk saya di samping pondok. Bahagia tak terkira mengisi kekosongan relung hati. Kehadirannya disertai dengan tangis bahagia, karena pun Guru bersedia untuk menziarahi muridnya ini. Kehadiran beliau saya terima apa adanya, sama halnya ketika saya menerima orang tua murid yang akan menitipkan anak-anaknya menjadi anak Saya. Ya,memang saya perlakukan sama, hal ini saya lakukan karena saya ingin menghormati beliau. Beliau selalu bahagia disaat kehadirannya diperlakukan seperti orang biasa. Dalam ingatan mungin pernah suatu waktu kehadiran beliau saya terima dengan istimewa. Di akhir pertemuan, beliau memberikan pepatahnya untuk menerimanya dengan apa adanya. Ya memang ada penggalan kata hikmah yg pernah saya terima, lupa apakah itu hadits atau ucapan sahabat/ Ulama shalih, dimana isinya “Barang siapa merasa bangga dan senang ketika kahidarannya disambut dengan berdiri, maka tempat duduk/ istirahatnya adalah neraka” .. Ya, pepatah ini senantiasa melekat dalam ingatanku. Hingga pada akhirnya pun Guru ziarah ke pondok kami. Rasa bahagia benar-benar tak tertahankan! Ku cium tangan beliau dengan khidmat ku peluk dengan rasa cinta, sepanjang waktu kunjungan itu saya benar-benar menginvest waktu saya untuk pun Guru, hingga akhirnya beliau pamt untuk pulang. Lagi-lagi di sampingnya saya tak ubahnya seperti anak kecil, seperti murid-murid saya yg saya ajar di pondok, benar-benar tak jauh beda. Anak-anak saya menyaksikan tingkah saya itu mungkin ikut haru, ikut bahagia .. ini kulihat dari isyarat wajah mereka yg menampakkan wajah senyum.

Muhasabah Maghrib

@Ruang Makan `~ Garut

 

 

 

~~ Visit Dano Versi Cairo ~~

Bismillahirrahmaanirrahim

Merangkai tali silaturahim dengan saudara yang sempat “terjarakkan” jaraknya itu memang menyenangkan. Yang asal mulanya jauh mejadi dekat, bahan lebih dekat. Memang tak pernah ada ruginya ketika melaksanakan apa yg Allah perintahkan terkait menjaga tali silaturahim.. yaitu Silaturahim terhadap saudara-saudara kita karena Allah terlebih lagi ketika masih memiliki tali ikatan darah 😀

Kemarin 26 agustus 2012 alhamdulillah disempatkan berkunjung (kembali) ke tambak baya, dalam rangka temu alumni PP Daarul Ihsan dano leles (walaupun saya bukan alumninya) hhe, itung-itung mewakili kakak saya ajah :D.  Ada banyak perubahan dari segi tata letak da fasilitas bangunan yang ada. Termasuk lokasi belakang rumah yang jauh berubah total. Lokasi ini adalah yang paling saya ingat, karena kala itu ketika berkunjung kesini, “pipir” rumah adalah tempat bermain saya. Memang beberapa kebiasaan saya berbeda dengan kebiasaan rata-rata orang lain, tak kala anak-anak pada umumya lebih suka bermain di depan panggung pementasan, saya malah lebih betah bermain di belakang rumah sedirian. mungkin bawaan dari sifat bawaan pada diri saya yang lebih introvert. Tak hanya itu yang berubah dari sini, kondisi sosialnya juga banyak berubah. Anak-anak yang menempati kobong (asrama pesantren) orang-orangnya berubah total, maklum udah ditinggal lebih dari 5 tahun sih, hehe. .

Gambar

Kembali lagi ke tema utama mengenai kunjungan saya ke rumah saudara saya Dadan Ahmad Zaeni Dahlan, kita memang sebelumnya kami belum pernah akrab, jangankan untuk berbincang-bincang, saling sapa saja juga tidak pernah dilakukan. hehe (ampun deh) ya memang dulu kala kecil saya memang sering bermain kesini, tapi dulu saya tidak suka bermain bareng rombongan anak-anak lain yang bergerombolan di depan panggung yang mayoritas belum saya kenal. Dalam beberapa kali jumpa pun baik di rumah beliau atau bertemu di jalan juga tak pernah bertegur sapa, kalaupun saling mengenal karena memang lihat wajah yang katanya “itu teh siga masih dulur“.  iya dalam beberapa kali kesempatan sempat jumpa, tapi eggan untuk menyapa karena malu sih,, ini nih efek negatif dari introvert, selalu merasa canggung terhadap orang yang belum akrab sebelumnya.

Memang agak lucu sih pertama jumpa ngobrol langsung nyambung, karena memang sebelumnya 2 tahun terakhir sering kontak komunikasi dengan beliau via dunia maya (read FB dan Blog). kali ini memang teknologi telah berjasa membantu merekatkan tali silaturahim diantara kami. tapi jauh dari itu hal ini terjadi karena Allah mengehendaki agar ikatan persaudaraan ini terikat kembali. sebelum ngobrol panjang lebar, kami (saya dan adik) diterima oleh Bapak beliau, saya sih manggilnya Mang Agus, walau sacara pancakaki beliau adalah aki tigigir, hehe tapi kalau ngambil pancakaki dari Mang Enjang (mamangnya Dadan), memang benar saya manggilnya mamang, biar lebih dekat gitu kalau ditinjau dari segi usia.  Beliau bilang gini (oh ieu  anu kuliah di itb teh?, tuh ceng lamun teu nyampeurkeun mah moal wawuh urang mah). kalau ditranslate jadi begini: “Owh jadi ini orang rancasalak yang kuliah di itb itu, tuh ceng kalau kamu tidak mendekat, saya tidak akan pernah kenal”.

Bersama beliau (Bapak Agus) kami (saya dan adik bungsu) banyak diberi pesan yang dibungkus dalam taujih singkat dari beliau. Pesan yang paling saya ingat adalah terkait urgensi niat, jangan sampai salah niat dari awal ketika mulai untuk menuntut ilmu, ataupun niat selama menggali ilmu. Ketika niatnya saja sudah salah kaprah, maka aktivitas usahanya bahkan hasilnya juga akan dituai berdasarkan apa yang diniatkan di awalnya.

hmm, iya iya betul bangeet, saya sangat setuju dengan pesan beliau. Menuntut ilmuku, ku niatkan hanya untuk menjalankan tugas kewajiban saya untuk meraih ridha dan kasih sayang Allah. Ayooo, para pembaca mari kita luruskan kembali usaha mencari ilmunya!! Pada saat niatan awalnya hanya untuk bisa bekerja di tempat kerja yang diinginan, ya nanti hasilnya tidak akan jauh dengan apa yang diniatkan, alhasil pasca lulus ia pun bekerja. namun hal ini belum tentu menjamin kebahagiaan baginya, karena kebahagiaan bukanlah pekerjaan atau harta  yang memberikan, hanya Allah yang kuasa memberikannya. Lain halnya ketika usaha meraih ilmu ini diniatkan karena Allah, alhasil kasih sayang Allah akan menyelimuti si pencari ilmu ini. Jangankan menunggu sampai pasca lulus, selama proses belajarnya pun orang yang niatan belajarnya benar, Allah senantiasa memberikan ketenangan baginya. Mungkin inilah yang dinamakan dengan ketenangan hati itu. Tidak ada lagi ketakutan akan kekurangan rezeki baginya, tak ada ketautan pula dalam menghadapi apapun yang akan menghadangnya karena ia yakin apapun yang akan ia hadapi, apapun yang akan ia terima semuanya sudah ada dalam qudrat dan iradatnya Allah. Waah indah bukan?, selama belajar tak ada yang perlu digemingan lagi. Dunia secara kasat matapun secara alamiah akan mengikutinya, karena Allah lah yang berhak menghendaki. Luar biasa!! berharap semoga Allah menguatkan hati ini, Ya Rabb bantulah luruskan hati ini yang terbolak-balik. amiin

Setelah akh Dadan bergabung dalam forum diskusi kami + para bapak-bapak pulang ke rumah masing-masing, kami melanjutkan perjalanan tujuan utama kami untuk meninterogasi beliau, hhe. ya karena disini kami banya bertanya kepada akh Dadan, terkait pendidikan di Universitas Al-Azhar, proses belajar, pengalaman beliau selama di mesir, serta pengalaman perjalanan beliau dari Dano menuju Cairo. Dalam hal ini saya  mewakili adik bungsu saya (Maman Komaru Zaman) yang tertarik untuk melanjutkan pendidikannya ke cairo. Dari setiap perbincangannya membuat saya semakin tertarik dengan atmosfir pendidikannya di Azhar, sebuah universitas kedua tertua di di dunia. Saya baru tahu kalau biaya hidup disana tak jauh bedanya dengan biaya hidup di bandung. Bahkan bisa lebih ringan kayaknya 😀 Mahasiswa Azhar pun dibebaskan dari biaya pendidikan selama menempuh pendidikan di cairo (Luar biasa), belum pernah nemu tuh di indonesia ada perguruan tinggi seperti ini. Lagi-lagi Azhar masih menyisakan atmosfer sistem pendidikan Islam warisan kaum ulama terdahulu, dimana murid yang hendak menuntut ilmu tidak dikenakan biaya selama ia menempuh pendidikan, bahkan para guru menjamu murid-muridnya supaya bisa lebih betah untuk menuntuk ilmu. Lalu dari mana keuangan sekolah/ ma’had/ universitas berasal. Tudak susah bagi Allah untuk mengehendaki sekedar uang. Zammannya para ulama masih nyondong, atmosfir Islam tidak hanya dirasakan di lingkungan pendidikan saja, tetapi dirasakan pula di masyarakat luas. pada zaman ulama, kehidupan keseharian diliputi dengan adabnya. Adab terhadap ilmu, adab terhadap ulama juga adab terhadap Islam. Masyarakat Muslim tidak sepatutnya membiarkan tempat pendidikan islam dibiarkan terlantar begitu saja, mereka memiliki adab untuk menghargai ilmu, tempat mencari ilmu dan orang-orang yang mencari ilmu. masyarakat kala itu sangat perhatian akan keilmuan dan mereka menghormati ilmu. Begitupun dengan para guru, mereka juga memelihara adab, bagaimana sebagai orang alim ia harus berlaku. Ilmu yang dimilikinya ia amalkan dengan ikhlas kepada murid-murid juga kepada masyarakat tanpa mengharapkan imbalan duniawi. begitupun dengan para murid, mereka meraih ilmu dengan penuh adab, memberikan rasa hormatnya kepada ilmu, guru dan masyarakat. bagaimanapun para murid adalah generasi penerus para pewaris ilmu. Sistem pendidikan islam memang luar biasa, saya sering terdecak kagum akan kisah perjalanan pendidikan islam di masa silam. kini yang tersisa hanya beberapa universitas yang menerapkan sistem pendidikan seperti ini (Al Azhar Mesir, ISTAC Malaysia). Kelak jika Allah mengizinkan saya mempunyai cita-cita untuk mengaplikasikan kembali warisan pendidikan islam para ulama ini di Negeri saya sendiri, yaitu Indonesia.

Bagi saya terjun di pendidikan adalah harus terbebas dari tujuan dangkal yang mengharapkan memiliki penghasilan darinya. Karena niatan ini yang membuat sistem pendidikan yang ada di indonesia susah berkembangnya karena mayoritas orang-orang yang terjun di dunia pendidikan niatan awalnya adalah untuk mendapatkan profesi atau memiliki penghasilan semata. Sehingga pengabdian dirinya akan ilmu hanya dibatasi oleh harta.

Membangun peradaban islam di bidang pendidikan ini memang merupakan proyek besar yang perlu dijalankan oleh SDM banyak dan perlu partisipasi masyarakat muslim yang luas. Namun demikian, sedikit demi sedikit projek ini Insya Allah akan terwujud dan saya ingin menjadi bagian darinya. .

Pesan teruntuk Akh Dadan“Perjalanan  antum dalam meraih ilmu di negeri para nabi memang menyandang tanggung jawab moral bagi kami sebagai masyarakat di kampung. Namun demikian jangan jadikan hal itu sebagai beban, jadikanlah ia sebagai pengingat akan tugas utamamu disana, tanggung jawab itu ada sebagai bentuk penjagaan Allah bagi antum untuk senantiasa berada dalam kebaikanNya. Kami di kampung memerlukan generasi-generasi pewaris ilmu agar kami bisa terjaga dgn IlmuNya”

Pesan untuk si Bungsu (Maman): “tuh, ikuti kakak seniormu sana, menjadi pembelajar ulung, langsung belajar di pusat belajarnya para ulama, ingat pesan-pesan Allah yang tlah diwakilkan orang-orang hikmah.. Luruskan niat sedari dini, kuatkan azzam dan terus berjuang!!”

Pesan untuk diriku sendiri: “Innalloha ma ana,, berani tampil beda dengan orang lain, berani keluar dari kebiasaan orang lain.. Menjadi dari sendiri, tetap berpegang pada prinsip yang Allah ridhai dan paling utama luruskan selalu niatnya”

mohon maaf ya tulisannya gado-gado!! Intinya tulisan ini dibuat sebagai pelecut semangat di awal perkuliahan semester 5, salah satu berkah dari silaturahim itu dapat memicu tumbuhnya inspirasi ^^ alhamdulillah!!

 
Sudut Kamar 
Kadungora, Garut
27 Agustus 2012

Membangun Bangsa dari Daerah?. . Yes!!

Malem tadi kakak kelas almamater saya sekaligus alumni paguyuban kami berorganisasi FORMAT (Forum Silaturahmi Mahasiswa Garut),, Kang Goris Mustaqim hadir di Kick Andy! waah,, surprise!! surprise bukan karena kehadirannya di TV, melainkan surprise dengan konsep pemikirannya!!
ternyata beliau mengambil konsep membangun negeri dari desa (baru tau),,hhe alhamdulillah kalau konsepnya seperti itu!! berarti kita satu pemikiran. .

Ya memang semenjak awal kuliah di itb, setelah pasca lulus nanti saya lebih berminat dan berniat untuk kembali ke daerah saya,, ya walau kondisi saat ini masih jauh dari kondisi ideal kesejahteraan secara tahap pembangunan,, tapi kami juga telah punya kesejahteraan hati (batin) yang terpenuhi, ini saya rasakan ketika setiap kali pulang (read: mudik),, selalu saja ada kebahagiaan tersendiri bagi saya *bagaimana rasanya? ada deehh.. 😀

bahagia ternyata masih ada beberapa orang yang memiliiki niatan yang sama… KErreen!!
alhamdulillah ga semua anak Garut pikirannya pergi jauh ingin kerja di OIl, ngejar gaji besar aja,, kalau utk sementara sih gpp, dan kembali mengembangkan potensi daerah!
kalau lama2 sampai akhir hidup,, bagaimana tugasnya sebagai panglima di negeri sendiri?…
hmm,, ayyo sahabat-sahabat senegri mari bangun negeri sendiri..
Mari kita share di negeri..
Mari kita Cintai negeri,,
Cinta Karena Allah 🙂

Cerita ini Insya Allah berlanjut,, sampai sini dulu sementara.. Mau UTS soalnya.. hhe
mhon didoakan ya!! 😀
 

Kepemimpinan #Seri 1

P E M U D A

Anda PEMUDA? ya saya juga PEMUDA..

Wahai PEMUDA,
mari sejenak mendengarkan sebuah kerisauan sahabat kita yang sama-sama PEMUDA!!!

Ini adalah tulisan sahabat saya, beliau menceritakan sepenggal kisahnnya sebagai wujud kepedulian seorang pemuda akan lingkungan sekitar,, ya Benar kita hidup di bumi ini bersosial bersama-sama masyarakat, namun kita sering menyepelekan hak-hak masyarakat yang ada pada diri kita, termasuk di dalamnya rasa empati dan kepedulian.

    “Penjual Cakue; antara Ketulusan dan kepekaan kita sebagai calon Pemimpin Bangsa”

Siang ini saya terkesan oleh bapak Penjual Cakue dan odading .

Begini ceritanya.

Siang yang terik. Rencananya dari asrama saya mau ke alfamart, mau beli minum dan sedikit snack. Akhirnya saya pinjam motor ke teman dan meluncur . Tiba-tiba di tengah jalan saya melihat ada seorang penjual Cakue sedang duduk dengan kotak berisi cakue di sampingnya. Usianya sekitar 50 tahun. Beliau sekilas saya perhatikan nampak lelah dan letih. Sementara dagangannya masih banyak. Melihat itu hati saya langsung tersentuh. Malu saya terhadap beliau. Saya bisa makan enak –meski dgn uang hasil usaha sendiri-. Malu sya kepada Allah, hidup enak sementara masih banyak orang-orang yang masih susah walau sekedar makan dan minum. Akhirnya saya putuskan untuk hanya membeli minuman di warung dekat asrama dan langsung menghampiri Bapak tsb.

“Pak, Cakue nya masih ada?” sengaja saya berbasa-basi, mencoba akrab dan mencairkan keletihan beliau. “Muhun, mangga” sopan sekali orang tua ini. Saya pun menanyakan harga nya, ternyata harga utk masing-masing adalah Rp 1000. Saya tidak memusingkan harga. “Saya beli 5ribu ya Pak.” Ucap saya.

“Mangga, apa aja A(Panggilan Lelaki muda di tatar Sunda)?”

“Cakue nya 3, terus odadin nya 2” jawab saya

“Mangga. Untuk cakue saos nya mau dipisah atau langsng aja?”

”langsung saja Pak,”

“Nuhun ya A”.

Selesai itu saya langsung pulang ke asrama. Setelah saya cek ternyata cakue nya enak juga hehe.

Kisah saya dan Penjual Cakue ini setidaknya memberikan beberapa hikmah, terutama bagi kalangan pemuda. Kita sma-sama tahu, pemuda adalah pilar stiap kemenangan. Pemuda adalah pembawa panji-panji peradaban. Di setiap zaman ada pemudanya. Sudah banyak pemuda yang menorehkan sejarah emas bagi dunia. Pemuda adalah pemimpin masa depan.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, apalagi sekedar main-main. Butuh idealisme dan komitmen dalam meraihnya. Pun, harus memiliki berbagai macam sikap yang bisa mendukungnya. Dua sikap yang merupakan hikmah dari kisah di atas adalah Ketulusan dan kepekaan. Dua sikap ini adalah salah satu sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin atau calon pemimpin.

Ketulusan akan melahirkan kerja yang keras dan cerdas juga ikhlas. Kita bisa bayangkan sikap Penjual Cakue tadi. Bagaimana pun ia dalam kondisi letih dan lelah. Namun tatkala ada pembeli, ia sangat ramah. Seolah keletihan itu terbang ke langit. Pemimpin harus memiliki sikap ini. Mmengapa? Karena pemimpin adalah manusia, kadang bahagian, namun tak jarang juga bersedih. Tantangannya adalah pemimpin bukanlah manusia biasa. Ia harus mampu memberikan teladan semangat kepada bawahannya. Maka, sikap ketulusan seperti penjual Cakue tadi amat cocok bila coba kita praktikan dalam kehidupan kita.

Kepekaan dan kerisauan ialah sikap dasar dari seorang pemimpin. Ia merasa risau dengan keadaan lingkungannya, ia risau dengan segala permasalahan yang memebelenggu masayarakat. Bukan Risau biasa, tapi Risau memikirkan solusinya. Bila mencermati kisah di atas, kita menangkap disitu seorang mahasiswa, ketika melihat “fenomena” penjual Cakue yang lelah sementara dagangannya masih banyak,langsung ia risau. Saat itu ia segera refleksi diri dan mencari solusinya. Risau kemudian berpikir, maka akhirnya ia menemukan solusi minimal solusi cepat yaitu : membeli dagangan bapak tsb. Solusi kecil namun meolong dan sesuai. Jadi kalo coba kita alurkan, seperti ini kerangka berpikir pemimpin :

      MASALAH –> RISAU –> BERPIKIR –> SOLUSI

Alangkah indah dan Produktifnya bangsa ini tatkala para pemudanya mampu menjalankan alur berpikir seperti di atas. Minimal kita selalu Risau dan Berpikir tentang solusi bagi milyaran permsalahan bangsa dan dunia ini. Insya Allah bila sering Risau dan berpikir, menemukan Solusi-solusi cerdas adalah keniscayaan, Tinggal menunggu waktu.

    Selamat Menginspirasi!

Tulisan ini adalah kisah sahabat saya, Adam Habibie
Semoga Allah memberikan Rahmat dan Kekuatan bagi beliau!!

Jadi PEMUDA
SEMANGAT!!