Membangun Bangsa dari Daerah?. . Yes!!

Malem tadi kakak kelas almamater saya sekaligus alumni paguyuban kami berorganisasi FORMAT (Forum Silaturahmi Mahasiswa Garut),, Kang Goris Mustaqim hadir di Kick Andy! waah,, surprise!! surprise bukan karena kehadirannya di TV, melainkan surprise dengan konsep pemikirannya!!
ternyata beliau mengambil konsep membangun negeri dari desa (baru tau),,hhe alhamdulillah kalau konsepnya seperti itu!! berarti kita satu pemikiran. .

Ya memang semenjak awal kuliah di itb, setelah pasca lulus nanti saya lebih berminat dan berniat untuk kembali ke daerah saya,, ya walau kondisi saat ini masih jauh dari kondisi ideal kesejahteraan secara tahap pembangunan,, tapi kami juga telah punya kesejahteraan hati (batin) yang terpenuhi, ini saya rasakan ketika setiap kali pulang (read: mudik),, selalu saja ada kebahagiaan tersendiri bagi saya *bagaimana rasanya? ada deehh.. 😀

bahagia ternyata masih ada beberapa orang yang memiliiki niatan yang sama… KErreen!!
alhamdulillah ga semua anak Garut pikirannya pergi jauh ingin kerja di OIl, ngejar gaji besar aja,, kalau utk sementara sih gpp, dan kembali mengembangkan potensi daerah!
kalau lama2 sampai akhir hidup,, bagaimana tugasnya sebagai panglima di negeri sendiri?…
hmm,, ayyo sahabat-sahabat senegri mari bangun negeri sendiri..
Mari kita share di negeri..
Mari kita Cintai negeri,,
Cinta Karena Allah 🙂

Cerita ini Insya Allah berlanjut,, sampai sini dulu sementara.. Mau UTS soalnya.. hhe
mhon didoakan ya!! 😀
 

Advertisements

Kepemimpinan #Seri 1

P E M U D A

Anda PEMUDA? ya saya juga PEMUDA..

Wahai PEMUDA,
mari sejenak mendengarkan sebuah kerisauan sahabat kita yang sama-sama PEMUDA!!!

Ini adalah tulisan sahabat saya, beliau menceritakan sepenggal kisahnnya sebagai wujud kepedulian seorang pemuda akan lingkungan sekitar,, ya Benar kita hidup di bumi ini bersosial bersama-sama masyarakat, namun kita sering menyepelekan hak-hak masyarakat yang ada pada diri kita, termasuk di dalamnya rasa empati dan kepedulian.

    “Penjual Cakue; antara Ketulusan dan kepekaan kita sebagai calon Pemimpin Bangsa”

Siang ini saya terkesan oleh bapak Penjual Cakue dan odading .

Begini ceritanya.

Siang yang terik. Rencananya dari asrama saya mau ke alfamart, mau beli minum dan sedikit snack. Akhirnya saya pinjam motor ke teman dan meluncur . Tiba-tiba di tengah jalan saya melihat ada seorang penjual Cakue sedang duduk dengan kotak berisi cakue di sampingnya. Usianya sekitar 50 tahun. Beliau sekilas saya perhatikan nampak lelah dan letih. Sementara dagangannya masih banyak. Melihat itu hati saya langsung tersentuh. Malu saya terhadap beliau. Saya bisa makan enak –meski dgn uang hasil usaha sendiri-. Malu sya kepada Allah, hidup enak sementara masih banyak orang-orang yang masih susah walau sekedar makan dan minum. Akhirnya saya putuskan untuk hanya membeli minuman di warung dekat asrama dan langsung menghampiri Bapak tsb.

“Pak, Cakue nya masih ada?” sengaja saya berbasa-basi, mencoba akrab dan mencairkan keletihan beliau. “Muhun, mangga” sopan sekali orang tua ini. Saya pun menanyakan harga nya, ternyata harga utk masing-masing adalah Rp 1000. Saya tidak memusingkan harga. “Saya beli 5ribu ya Pak.” Ucap saya.

“Mangga, apa aja A(Panggilan Lelaki muda di tatar Sunda)?”

“Cakue nya 3, terus odadin nya 2” jawab saya

“Mangga. Untuk cakue saos nya mau dipisah atau langsng aja?”

”langsung saja Pak,”

“Nuhun ya A”.

Selesai itu saya langsung pulang ke asrama. Setelah saya cek ternyata cakue nya enak juga hehe.

Kisah saya dan Penjual Cakue ini setidaknya memberikan beberapa hikmah, terutama bagi kalangan pemuda. Kita sma-sama tahu, pemuda adalah pilar stiap kemenangan. Pemuda adalah pembawa panji-panji peradaban. Di setiap zaman ada pemudanya. Sudah banyak pemuda yang menorehkan sejarah emas bagi dunia. Pemuda adalah pemimpin masa depan.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, apalagi sekedar main-main. Butuh idealisme dan komitmen dalam meraihnya. Pun, harus memiliki berbagai macam sikap yang bisa mendukungnya. Dua sikap yang merupakan hikmah dari kisah di atas adalah Ketulusan dan kepekaan. Dua sikap ini adalah salah satu sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin atau calon pemimpin.

Ketulusan akan melahirkan kerja yang keras dan cerdas juga ikhlas. Kita bisa bayangkan sikap Penjual Cakue tadi. Bagaimana pun ia dalam kondisi letih dan lelah. Namun tatkala ada pembeli, ia sangat ramah. Seolah keletihan itu terbang ke langit. Pemimpin harus memiliki sikap ini. Mmengapa? Karena pemimpin adalah manusia, kadang bahagian, namun tak jarang juga bersedih. Tantangannya adalah pemimpin bukanlah manusia biasa. Ia harus mampu memberikan teladan semangat kepada bawahannya. Maka, sikap ketulusan seperti penjual Cakue tadi amat cocok bila coba kita praktikan dalam kehidupan kita.

Kepekaan dan kerisauan ialah sikap dasar dari seorang pemimpin. Ia merasa risau dengan keadaan lingkungannya, ia risau dengan segala permasalahan yang memebelenggu masayarakat. Bukan Risau biasa, tapi Risau memikirkan solusinya. Bila mencermati kisah di atas, kita menangkap disitu seorang mahasiswa, ketika melihat “fenomena” penjual Cakue yang lelah sementara dagangannya masih banyak,langsung ia risau. Saat itu ia segera refleksi diri dan mencari solusinya. Risau kemudian berpikir, maka akhirnya ia menemukan solusi minimal solusi cepat yaitu : membeli dagangan bapak tsb. Solusi kecil namun meolong dan sesuai. Jadi kalo coba kita alurkan, seperti ini kerangka berpikir pemimpin :

      MASALAH –> RISAU –> BERPIKIR –> SOLUSI

Alangkah indah dan Produktifnya bangsa ini tatkala para pemudanya mampu menjalankan alur berpikir seperti di atas. Minimal kita selalu Risau dan Berpikir tentang solusi bagi milyaran permsalahan bangsa dan dunia ini. Insya Allah bila sering Risau dan berpikir, menemukan Solusi-solusi cerdas adalah keniscayaan, Tinggal menunggu waktu.

    Selamat Menginspirasi!

Tulisan ini adalah kisah sahabat saya, Adam Habibie
Semoga Allah memberikan Rahmat dan Kekuatan bagi beliau!!

Jadi PEMUDA
SEMANGAT!!