Hidup itu Cerpen

✔Hidup itu CERPEN,,

✔Dari Tanah, Di Atas Tanah, Kembali Ke Tanah.

✔Maka Hiduplah Karena ALLAH, Engkau Akan Menjadi Makhluk ALLAH yang Paling Bahagia

Akhir-akhir ini saya sangat menikmati membuat CERPEN, perjalanannya pendek dan singkat dalam bingkai waktu yang terbatas. Perjalanan hidup setelah kematian jauh lebih panjang, sangat dan unlimited process tidak cocok jua kalau dianalogikan sebagai Novel :D. kemarin saya sedikit terusik dengan ucapan seorang Ulama, ilmuwan dan sastrawan Muslim Ibnu Qoyyim Al jauziyyah, berikut perkataannya: “”Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih…”

mudah-mudahan pesan ini mengundang Ibrah bagi saya pribadi khusunya!

Allah-Allah-Allah, tunjukkan dan arahkan langkah ini agar berada pada jalan lurusMu .. amiin

@Sabuga ITB

PMW areas

Advertisements

Jangan bingung !

Kala Mereka Merundung Berhimpitan

Dilema rasanya pada saat diberi opsi untuk memegang amanat yang baru. Disaat semua amanat yang saya pegang aktif kembali, mereka yang baru berboyongan datang menghampiri lagi, mudahnya mereka mendeteksi keberadaan diri ini. Ahhh, apa memang pantas saya memegang amanah sebesar ini? Sebuah bisikan yang seringkali datang disaat mereka hadir dalam kehidupan saya. Hawar-hawar seperti ini harus dianalisis lebih mendalam, diteliti dengan cerdas, agar ia datang bukan hanya untuk mematikan kesempatan yang telah Allah berikan, namun juga menjadi sebuah sarana intropeksi diri atas kondisi yang saya hadapi saat ini. Dalam bulan ini ada beberapa tawaran job yang berdatangan pada saya. Tutor asrama itb? Sudah saya accept kini sedang berlangsung keberjalanannya sekarang, admin @amalsalman baru negosiasi jika memang sama-sama setuju di accept jua, kepala madrasah di muslif? Saya kembalikan lagi dan menyarankan untuk mencari yang lain, karena saya lebih nyaman sbg supporting di muslif. Dan kini BPH Gamais masih menunggu konfirmasi saya sejak kemarin. Ku kabarkan pada sender messanger  yang meminta konfirmasi bahwa saya belum bisa memutuskannya. Secara kasat mata amanah jenis ini memnag terlihat berat. Rasanya saya masih jauh dari kata “mampu” untuk menghadangnya. Namun disana pula ada peluang bagi saya untuk berkecipung dalam kebaikan, berkumpul bersama orang-orang terpilih, sebuah madrasah untuk berkaca diri agar diri ini bisa terjaga dalam kebaikan.

Namun?

Ahh, saya bingung! Perlu proses yang baik utk hal ini. Berharap bisikan, kecenderungan di dalam hati jernih segera bersuara lagi, karena hakikatnya ia itu suci. Mewakili suara pilihan takdir baik dari Allah. Harus segera bergerak cepat, semoga tidak dilema lebih lama utk menentukan pilihan ini. Saya tidak ingin termasuk dalam kategori yang disebutkan dalam hadits ini: “Ada dua kenikmatan yang sering manusia tertipu dan merugi didalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan “ (HR. Bukhari)

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (3)

Kisah Hatim bin Asham (3): Menegur Penguasa yang Bermewah-Mewahan

 

Hatim lalu melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Setibanya di sana ia dikerumuni warga Madinah. Hatimpun bertanya pada salah seorang dari mereka “Kota apakah ini?”

“Kota Madinah, kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam”

“(kalau begitu) di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”

“Lalu di mana istana para sahabatnya?”, lanjut Hatim

“Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah (meneladani Nabinya)

“Kalau begitu, ini adalah kota Fir’aun!” (Karena Hatim melihat kemewahan para pembesarnya)

Lalu Hatim dibawa oleh penduduk Madinah kepada penguasa di kota itu, dan warga Madinahpun berkata: “Orang asing ini berkata bahwa ini kota Fir’aun!”

“Mengapa begitu?” tanya sang penguasa

“Anda jangan marah kepadaku, aku ini orang asing dan bodoh, ketika aku tiba di sini aku bertanya pada penduduk “Kota apakah ini?” mereka menjawab “kota Nabi shallaLllahu ‘alayhi wasallam” Lalu saya bertanya: “di manakah istana Nabi? saya ingin shalat di dalamnya”

“Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak memiliki istana, rumahnya rendah di atas tanah”, jawab mereka. Lalu aku bertanya “ di mana istana para sahabatnya?”, Mereka katakan: “Juga tidak ada, rumah mereka hanya rumah rendah di atas tanah.”

Kemudian Hatim membacakan ayat di depan sang penguasa:

“Sesungguhnya telah ada pada  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  bagi orang yang mengharap  Allah dan  hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (33:21)

“Karenanya tuan-tuan, siapakah sesungguhnya yang tuan-tuan teladani, Rasulullah kah? atau Fir’aun?”, ucap Hatim. Penguasa itupun lalu membiarkan Hatim pergi.

Kisah ini saya nukil dari ihya’ ulumiddin. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk berhias diri dengan hal yang diperbolehkan. Namun, bila ia terus menerus berkecimpung dengan hal yang diperbolehkan itu, maka akan bangkit rasa cinta kepadanya dan sukar meninggalkannya. Sementara agar diri terjaga untuk tidak larut dalam kemewahan, ia harus menjauhkan diri darinya. Karena jika keselamatan bisa diperoleh dengan berkecimpung di dalam hal yang dibolehkan itu tentu Rasulullah shallaLllahu ‘alayhi wasallam tidak akan ‘membelakangi dunia’ dengan membuka baju sutera dan menanggalkan cincin emas.

Sumber tulisan darisini

Pilu!!

Sering saya berpikir apakah yang saya alami ini normal? Yang pada umumnya orang-orang alami? . . beberapa saat aku tatap langit, ku terawang ke atas sana lebih dalam, seraya kutemukan kembali bahwa faktanya mayoritas tidak merasakan apa yang saya rasakan. Seperti biasa sahabat kost saya, Eka Nur pamit untuk izin berangkat halaqah bersama kawannya. Rupanya kali ini ia dijemput kawannya dengan menaiki sepeda motor. “Salim, ieu abdi nitip konci bade angkat halaqah”.. sejenak diri ini diam seperti ada hal yang teriris  hati ini. Ini bukan kali pertama saya merasakannya, sudah berkali-kali. Namun kali ini ingin saya tuliskan pilu hati ini.

Kami shalat isya berjamaah di masjid Al-Hasanah. Mesjid kesayangan kami, selama kami tinggal di kerajaan taman indah. Walau untuk menjangkaunya perlu perjuangan yang cukup berat, harus menaiki dan menuruni 3 level tangga, namun hal ini menjadi aktivitas sehari-hari kami. Selepas shalat saya duduk sementara di serambi kost. Bertahan untuk merasakan denyut pilu hati yang sejak beberapa menit yang lalu telah menjalar. Tahukah kawan? Kenapa hal ini terjadi?..  Baiklah akan sedikit saya jelaskan. Sungguh saya merasa iri dengan aktifitasnya itu. Ia masih terjaga dalam bimbingan pembinaan bersama kawan-kawannya dalam bimbingan gurunya. Sementara Aku? . . Semester 5 kuliah di itb ini, saya telah kehilangan aktifitas tercinta saya. Aktifitas yang senantiasa membuat hati ini hidup secara serentak bersama rekan-rekan saya untuk sementara fakum dulu. Entah sampai kapan, walau baru kemarin. Serasa sudah sangat lama….. Jika dianalisis, memnag tidak ada salahnya untuk vacum, karena kevakuman aktifitas belajar kami bukan tanpa alasan, karena guru kami harus berangkat Ibadah haji ke tanah haram. Selepasnya beliau berencana akan mengambil kuliah S3 di luar negeri. Ah, bukannya ini akan menjadi tambah lama. Entahlah kondisi ini membuat hati ini pilu.

Astagfirullahal’adzim!!!

Proses pembinaan yang dijalani secara individual sebagai bentuk penjagaan hati saya rasakan memang tidaklah cukup. Kadang sangat diperlukan kebersamaan itu. Seringnya lagi bimbingan seorang guru itu sangat kami butuhkan. Namun kini aktifitas mulia ini harus vacum.

Hampa.. kosong!

6 hari lalu, saya mengikuti seleksi wawancara calon tutor asrama itb. Salah satu pertanyaannya adalah apakah anda ikut pembinaan mentoring. Saya jawab iya memang, namun pembinaan ini pula masih belum jalan kembali. Lalu dilanjutkan lagi oleh sang pewawancara. Apakah Anda membina adik mentor? Saya jawab tidak. Belum saya terima tawaran rekan-rekan saya untuk memegang adik tutor. Bukannya itb kekurangan mentor ya? Kenapa tida kamu ambil. Kemudian saya jawab pertanyaan ini dengan alasan klasik terkait jadwal. Sungguh yang menjadi kendala utama saya belum bisa menerima adik-adik mentor adalah karena saya sendiri kali sedang vakum dibina. Mana bisa saya memberikan bimbingan orang lain tanpa ada bimbingan yang memelihara saya?

Analoginya jika saya sebuah teko, dan adik mentor adalah gelasnya. Tentu tidaklah mungkin bisa saya menuangkan air dari teko selama teko ini tidak diberikan amunisinya.

Ah, tidak mau aku seperti ini! Tak ingin saya dibuat pilu terus oleh kawan saya ini. Harus cari jalan keluar. . adakah yang mau jadi Mentor saya?

 

 

 

Trilogi Kisah Hatim bin Asham (1)

Tulisan ini sudah saya donlod, sekitar 3 bulan lalu. . tapi baru saya resapi malam 13 September 2012. .

mudah-mudahan bisa mengambil hikmah pelajaran dari kisah ini. .!!

 Kisah Hatim bin Asham (1): Belajar 8 Hal dalam 30 Tahun

Entah mengapa kisah Hatim ini sering membuat saya haru, dan ternyata banyak orang yg mengalami hal yang sama ketika membaca kisah ini, di majelis ihya’ yg saya ikuti kadang kami terbata-bata membaca kisah ini. Semoga bermanfaat…

Suatu saat Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya Hatim al-Asham, “Sejak sejak kapan engkau belajar bersamaku?”, “Sejak tugapuluh tahun, guruku!”, jawab Hatim. “Apakah yang engkau pelajari selama itu, wahai Hatim?”, “Delapan hal, guruku”, jawab Hatim. “Innalillah wa inna ilaihi raji’un, terbuang percuma sajalah umurku bersamamu”, ujar Syaqiq dengan kecewa. “Guruku, aku tidak pelajari yang lain dan aku tidak ingin berdusta”. “Uraikanlah kedelapan hal itu Hatim”. Lalu Hatim menjelaskannya:

Pertama, “Ketika aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, Ketika kekasihnya telah ke kubur, ia merasa kecewa karena ia tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan perbuatan baik yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka ia akan ikut bersamaku”

“Benar sekali Hatim!”, ujar Syaqiq, “Apa yang kedua?”

Kedua, “Ketika ada firman Allah SWT”:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal.” (79:40-41)

Aku perhatikan ayat ini, dan yakinlah aku bahwa firman Allah SWT tersebut benar, maka aku berusaha menolak hawa nafsu sehingga aku tetap taat kepada Allah SWT”

“Yang ketiga?”

“Ketiga aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat setiap makhluk memiliki benda, menghargainya, memandangnya bernilai, dan menjaganya. Kemudian ku perhatikan firman Allah SWT:

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:96)

karena itu setiap kali ke atas tanganku jatuh sesuatu yang berharga dan bernilai, iapun kuhadapkan kepada Allah, agar kekal di sisi-Nya”

“Yang keempat?”

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang selalu menaruh perhatian terhadap harta, kebangsawanan, kemuliaan, dan keturunan. Lalu ketika kupandangi semua itu, tiba-tiba tampak tidak ada apa-apanya. Kemudian kuperhatikan firman Allah SWT:

“… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (49:13)

Akupun bertaqwa kepada Allah, semoga aku menjadi mulia di sisi-Nya.”

Yang kelima, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka saling menohok dan mengutuk satu sama lain. Penyebabnya adalah kedengkian, kemudian kuperhatikan firman Allah:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?  Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.  Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (43:32)

karenanya perasaan dengki pun kutinggalkan dan diriku pun “kujauhkan” dari orang banyak. Aku tahu pembagian rizki dari Allah, karena itu permusuhan orang banyak kepadaku kutinggalkan”

Yang keenam, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di duna ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:

“Sesungguhnya  syaitan  itu  adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (35:6)

karena itu syetan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan syetan adalah musuhku”

Syaqiq melajutkan pertanyaannya : “yang ketujuh?”

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini aku melihat masing-masing orang mencari sepotong dari dunia ini. Lalu ia menghinakan diri padanya dan memasuki bagiannya yang dilarang kemudian kuperhatikan firman Allah:

“Dan tidak ada suatu binatang melata  pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata .” (11:6)

aku termasuk binatang melata yang rizkinya ada pada Allah, karenannya kukerjakan apa yang menjadi hak Allah pada diriku, dan kutinggalkan apa yang menjadi hak Allah pada diriku”

Yang terakhir, “kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang menggantungkan diri pada makhluk lain. Yang satu pada benda yang dicintainya, yang lain pada perniagaannya, dan perusahaannya, atau pada kesehatan tubuhnya. Masing-masing bergantung pada benda. Lalu aku kembali pada firman Allah:

“..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (65:33)

Karena itu akupun bertawakkal kepada Allah, ternyata Allah mencukupi keperluanku”

“Hatim, semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya kepadamu”, ujar Syaqiq

(dinukil dari kitab Ihya’ Ulumiddin jilid 1 bab ilmu)

Sumber tulisan disini 

Bayang Cita-Ku

CitaKu!

Tepat pada 09092012, bayangan citaKu hadir menghampiri diri ini, ia datang tanpa dugaan sebelumnya. Lepas shalat maghrib bayangan itu hadir, mengalir begitu indah menandingi indahnya aliran mata air yang mengaliri aliran kehidupan di danau embun. Dalam benak hati ini, saya masih menganggap ia sebagai sahabat yg senantiasa saya rindukan kehadirannya! CitaKu bukan cita-cita biasa, Cita yg semua orang targetkan semasa kehidupannya. Hal yg membuat berbeda kehadirannya kali ini ia semakin menampakkan diri dalam bentuk bayangan cinta bayangan cita yang indah, paparannya begitu jelas. Menyejukkan pandangan hati terlebih pandangan mata secara dzahir.

Dalam citraannya,citaKu bercerita. Dia akan menghampiri ketika diri saya ini benar-benar sudah mafhum dalam penguasaan ilmu. Posisi saya disana adalah sebagai seorang guru, mentor dan sahabat murid-murid di sebuah pesantren/ sekolah madani. Yg tergambarkan pada lintasan tubuh citaku, dipaparkan keadaan lingkungan sekitar yang dipenuhi dengan rasa cinta. Murid-murid taat dan cinta pada guru. Terlebih guru-guru sangat mencintai murid-murid, mereka para guru sangat mengingini keselamatan akhlak bagi murid-murid. Tanda-tanda keikhlasan tampak jelas dari setiap sikap dan tingkah mereka dalam berinteraksi. Disana saya sangat menikmati suasana. Segerombol anak-anak hanyut dalam canda, riang belajar di tajug di pipir pondok, tepatnya di sebuah Taman yang biasa saya gunakan untuk menyendiri membersamau sahabat saya si ganteng Al Qur’anul Kariim. Tidak ada lagi rasa canggung dari anak-anak kepada saya, begitu pun saya. Hubungan kami tak ubahnya seperti hubungan serang ayah dengan puluhan anak yg ada di belakang taman itu. Tanpa menghilangkan adab tatakrama antara guru dan murid, kami berintearksi untuk mendiskusikan materi yang masih belum anak-anak mengerti.

Majelis Ilmu

Hari-hari yang menyertai masa ajal pun saya lalui dengan warna-warna sejuta pelangi yang dihiasi kasih sayang diantara semua civitas. Sepanjang tinggal di Pondok madani itu, tidak pernah ditemukan cerita-cerita yang memperkeruh suasana. Anak-anak menikmati masa belajarnya dengan penuh Khidmat. Siswa yang paling besar bertingkah layaknya seperti kakak, murid baru yang baru masuk mereka asuh dan diaping dengan ketulusan. Semua ini berlangsung secara alami, regulasi tak menjadi hambatan. Ikatan kasih sayang tidak hanya dilepaskan semasa tinggal di pondok saja, siswa alumni pun memiliki jadwal khusus untuk bersilaturahim, saling berbagi pengalaman, berbagi hikmah kepada adik-adiknya. Begitupun adik-adik, mereka menerima kedatangan kakak-kakaknya dengan legowo. Mereka dipersilakan untuk masuk dan bermain-main di sepanjang lingkungan pondok, dijamunya mereka dengan bungkusan makanan-makanan, kado, hadiah yang mereka miliki. Atmosfir saling berbagi dan memberi sangat dirasakan hati ini.

Guru-guru? Bagaimana dengan kondisi keilmuan para guru? .. para guru yang mengajar anak-anak adalah sekolompok pejuang  Allah (Jundullah), mereka senantiasa kompakan untuk mendidik dan membentuk akhlak anak-anak menjadi lebih mulia di hadapan Allah. Cinta kasih para guru akan ilmu sangatlah tinggi, walau sudah memiliki gelar doktor, mereka masih saja mensibukkan dirinya untuk memperdalam ilmu, mengajarkannya dengan ikhlas, dan mentransfer ilmu diantara sesama guru. Kulihat banyak guru-guru yang sedang dalam keadaan luang mengisi luang waktunya untuk bercengkrama dengan Al Qur’an, dengan kitab-kitab tulisan Ulama shalih, mereka mengisi juga tempat duduk-duduk majelis ilmu membersamai anak-anak. Tidak ada rasa gengsi untuk belajar “kembali” bersama anak-anak. Justru dgn membersamai mereka para guru belajar dan sangat memehami apa yang perlu ditekankan selama mengajar anak-anak di kelas Aaaah semuanya berjalan mengalir seperti aliran mata air embun dari gunung Jannahnya Allah. Sangaat indah, merasa bersyukur ketika di temukan dengan citaKu yang indah ini. Entah kapan ia hadir menghampiriku?

Bayangannya memang bertambah semain jelas, apa mungkin karena saya terlalu merindukannya?.. entahlah .. dengan ini, ku Azzamkan kembali di balik hati ini untuk memantaskan diri berada di lingkungan seperti yang citaKu paparkan di sepanjang bayang maghrib itu.

                Semakin tersanjung hati ini, ketika bayangan itu memperlihatkan “guru hati” saya berkunjung ke gubuk saya di samping pondok. Bahagia tak terkira mengisi kekosongan relung hati. Kehadirannya disertai dengan tangis bahagia, karena pun Guru bersedia untuk menziarahi muridnya ini. Kehadiran beliau saya terima apa adanya, sama halnya ketika saya menerima orang tua murid yang akan menitipkan anak-anaknya menjadi anak Saya. Ya,memang saya perlakukan sama, hal ini saya lakukan karena saya ingin menghormati beliau. Beliau selalu bahagia disaat kehadirannya diperlakukan seperti orang biasa. Dalam ingatan mungin pernah suatu waktu kehadiran beliau saya terima dengan istimewa. Di akhir pertemuan, beliau memberikan pepatahnya untuk menerimanya dengan apa adanya. Ya memang ada penggalan kata hikmah yg pernah saya terima, lupa apakah itu hadits atau ucapan sahabat/ Ulama shalih, dimana isinya “Barang siapa merasa bangga dan senang ketika kahidarannya disambut dengan berdiri, maka tempat duduk/ istirahatnya adalah neraka” .. Ya, pepatah ini senantiasa melekat dalam ingatanku. Hingga pada akhirnya pun Guru ziarah ke pondok kami. Rasa bahagia benar-benar tak tertahankan! Ku cium tangan beliau dengan khidmat ku peluk dengan rasa cinta, sepanjang waktu kunjungan itu saya benar-benar menginvest waktu saya untuk pun Guru, hingga akhirnya beliau pamt untuk pulang. Lagi-lagi di sampingnya saya tak ubahnya seperti anak kecil, seperti murid-murid saya yg saya ajar di pondok, benar-benar tak jauh beda. Anak-anak saya menyaksikan tingkah saya itu mungkin ikut haru, ikut bahagia .. ini kulihat dari isyarat wajah mereka yg menampakkan wajah senyum.

Muhasabah Maghrib

@Ruang Makan `~ Garut

 

 

 

Pintu itu tinggal #1 lagi

Bismillahirrohmaanirrohiim

Pintu itu tinggal 1 lagi

             Pintu yang terbuka tinggal satu, dan itupun sudah redup-redup menuju menutup karena usia renta terus menghampirinya! Suatu ketika saya mendengar, bahwa jalan pintu menuju syurga bagi seorang laki-laki adalah kedua orang tuanya. Maka baru saya Sedari sejak itu, bahwa peluang pintu jalan menuju Syurga Allah hanya tinggal satu!

            Pada Zaman 1400tahun silam, ada seorang sahabat yang ditinggal oleh salah satu dari kedua orang tuanya. Ia menangis tersedu-sedu, mengapa?. Ketika ditanya alasan mengapa ia menangis, ia menjawab bahwa ia menangis bukan menangisi atas kepergian orang tuanya, melainkan menangisi karena pintu Syurga telah Allah cabut dari hadapannya. . Kesempatan meraih Syurga sebenarnya dekat. namun untuk meraihnya susah sekali….>.<

         Saya memang orang yang tak mudah bisa menyatakan langsung kecintaanya kepada orang-orang yang saya cintai. Ketika Cinta datang merundung. Saya hanya menunjukkan rasa cinta ini dgn tingkah laku saya yg lebih baik, atau sekedar mendo’akan kebaikan untuk orang-orang yang dicintai!

Ya memang begitu!

          Jangan mengharapkan ungkapan cinta dari saya! Karena Cinta saya hanya datang sementara….. Selintas datang, selebihnya mudah sekali untuk pergi!. Saya hnya berharap Semoga Cinta dan Rahmat Allah senantiasa menaungi saya beserta orang-orang yg saya cintai!

Wahai kaum jejaka, ayuuh sedari! bahwa kesempatan menuai pahala dari orang tua kita itu terbatas banget! Semoga Allah memudahkan niat baik kita untuk berbakti kepada Pintu-pintu syurga Allah..

Beda dengan kaum hawa, Pintu mereka banyak. Ada kedua orang tuanya, kalau udah nikah ada suaminya yang menjadi pintu kemaslahatan baginya..

      Tapi tetap yang lebih beruntung adalah Mereka (baik kaum Adam maupun Hawa) yang menyadari akan peluang ini, dan menyegerakannya!!

            Bismillah, Ya Allah mudahkanlah. . Kapan lagi? mumpung masih jejaka. . Fokus perhatian beban belum begitu banyak Lim,,,