Bujangan yg tidak biasa

Melewati Masa Bujangan dengan Penuh Makna 

Hidup Membujang antara pilihan dan keterpaksaan. Ada orang yang membujang karena belum dapat pasangan. Sebenarnya hati sudah sangat ingin menikah, mental OK, materi ada, tapi apalah daya jika jodoh tak kunjung tiba. Ada juga yang memang belum siap secara mental. Materi ada, calon di depan mata, namun belum berani menikah, ya tidak bisa dipaksa. Ada yang memang belum siap secara materi, lalu bertekad untuk mengejar karir terlebih dahulu. Ada juga yang memang belum ingin menikah, tanpa alasan yang jelasa dan pasti.

Apapun alasan membujang, that’s OK. Namun perlu orientasi yang jelas dari keputusan untuk tidak menikah dulu. Agar masa tersebut penuh makna. Tidak sia-sia begitu saja.

Bagiamana cara mengoptimalkan waktu bujangan? Mari belajar kepada orang yang berpengalaman dan berhasil dalam pengalamannya. Siapa lagi jika bukan pada ulama’kita?

Tentu mereka pernah melewati masa bujangan. Bahkan tak sedikit dari ulama’ kita yang memutuskan untuk membujang, baik sementara maupun selamanya. Bukan karena mereka tidak mengetahui hukum menikah, bahkan mereka menulis masalah anjuran menikah dalam kitab-kitab mereka. Mereka juga tidak menyampaikan pendapat bahwa membujang lebih utama daripada menikah. Atau ungkapan-ungkapan pembenaran tentang sikap yang mereka pilih, membujang. Dalam pandangan mereka, menikah tetap menjadi ajaran dan syari’at Rosulullah.

Di antara mereka ada yang memang tidak menikah seumur hidup. Ibnu Jarir ath Thabari (224-310 H) contohnya. Beliau yang menulis kitab klasik petama (Tafshir ath-Thabari).Beliau ulama’ dengan multi keilmuan. Seorang ahli tafsir, ahli hadist, ahli fiqih, ahli ushul fiqih, ahli qiro’ah, ahli sejarah, ahli bahasa, ahli sastra, ahli sy’ir, ahli matematika, ahli kedokteran, dengan karya yang melimpah ruah.

Lihatlah, BUJANGAN tapi hasil KARYANYA JELAS.

Ada juga ulama’ yang hanya menunda untuk menikah, emilih membujang dengan batasan waktu untuk membekali diri dengan ilmu. Imam Ahmad bin Hambal menunda menikah sampai usainya 40 tahun untuk konsentrasi mencari ilmu. Begitu usianya genap empat puluh tahun, ilmunya mendalam, karya yang dihasilkan jelas, baru menikah.

BUJANGAN, TAPI BERPRESTASI.

Umar bin Khattab pernah menyampaikan, “Pelajarilah Fiqih sebelum kalian menikah dan menjadi tuan di rumah kalian, lantaran (menikah) akan menyibukkan kalian dari ilmu.”

Beginilah langkah yang harus ditempuh saat meretas masa bujangan. Full power untuk membekali diri dengan ilmu. Banyak mengkaji ilmu, baik sendiri ataupun dengan menghadiri majelis-majelis ilmu, serta melahirkan karya-karya besar. Bukan malah sebaliknya, bersenang-senang saja, merasa bebas tanpa tanggungjawab di masa depan, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting bahkan sia-sia.

Mumpung masih bujangan, belajarlah sedalam-dalamnya. Mumpung masih sendiri, berkaryalah sebanyak-banyaknya. Kualitaskan diri Anda sehingga Allah mengkaruniakan istri yang juga berkualitas. Dengan begitu, akan lahir dari keluarga Anda kelak generasi-generasi yang berkualitas.

 

tulisan ini diambil dari sini, baiknya, pedulinya orang terhadap bujangan seperti saya ini