Cita-cita Kami PIMPIN Bandung

PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan) Bandung

Ikhtiar Mencetak Ulama-Ilmuwan Muslim

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan.

Suatu hari, seorang pemuda cerdas berkelana. Hanya ilmu yang ia inginkan. Dengan penuh semangat, ia belajar kepada puluhan guru. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi peneliti bidang astronomi. Dengan fasih ia menerangkan garis bujur dan Lintang kepada masyrakat. Tak lama berselang, usia 22 tahunia membuat sebuah proyeksi peta, kartografi. Sebuah sumbangsih besar untuk peradaban modern. Usia 27 tahun menyempurnakan dalam sebuah buku “Kronologi’. Setelah itu, ia terus berkarya memberikan sumbangih bagi umat. Ialah Al Biruni.

Al Biruni ialah seorang Ilmuwan besar Islam. Tak hanya masalah astronomi ia kuasai. Buku-bukunya tentang matematika, kedokteran, sejarah,sastra, dan lainnya ia kuasai. Orang-orang seperti Al Biruni ini tidak sendiri. Masih ada ratusan ilmuan yang juga ulama pada zamannya. Ada Al Kindi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al Farabi, Ibn Khaldun, dan masih banyak lainnya.

Berabad-abad kemudian di Bandung, tahun 2009, lahirlah Institut Pemikiran dan Pembinaan Insan (PIMPIN), sebuah wadah komunitas yang bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan Peradaban Islam di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Prof. Wahn Mohd Daud, seorang intelektual muslim abad ini, turut hadir mendeklarasikan PIMPIN, selain para Pembina: Dr. Khalif Muammar, Dr. Adian Husaini (Ketua Program Studi Pemikiran Islam UIKA, Bogor, Adnin Armas, MA (Direktur Eksekutif INSIST), dan lainnya.
Selanjutnya, PIMPIN terus bergerak, menggelar megaproyek membentuk embrio-embrio Ilmuwan Muslim. Pelbagai training, dan workshop mulai digalakan dari kampus ke kampus seperti ITB, UI, Unikom, Unpad, ST Telkom, dan kampus-kampus lainnya.

“ Kami ingin menghimpun para ilmuwan untuk mengemban misi nabawi, yaitu misi tahriri-tanwiri-islahi (pembebasan-pencerahan-perbaikan). Kami berhasrat menggabungkan kekuatan para ilmuwan, dari berbagai bidang kepakaran, yang memiliki kerangka pemikiran dan worldview Islami yang jelas dan kukuh. Dengan harapan dapat memberi sumbangsih serta mewarnai pembinaan bangsa agar tampil sebagai bangsa mandiri, dan unggul yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Usep Mohamad Ishaq, aktivis Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) kepada Alhikmah medio Desember 2012 lalu.

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan. “Belajar dari sejarah peradaban besar dunia, khususnya peradaban Islam yang gemilang, maka dalam pandangan kami gerakan pencerahan dan keilmuan yang intensif merupakan kunci terjadinya perubahan dan kebangkitan (nahdah) sebuah masyarakat.”
Oleh karena itu, Usep menambahkan, berbekal bimbingan Alquran dan penelitian yang mendalam terhadap sejarah peradaban manusia, kami menyadari bahwa menyelamatkan dan membangun kembali bangsa ini perlu dimulai dengan gerakan keilmuan yang intensif, dipelopori oleh golongan ilmuwan otoritatif dan kompeten. Tujuannya tentu untuk mengkaji dan memberikan solusi bagaimana dan pada bagian mana perbaikan (islah) hakiki dan komprehensif dalam tubuh umat dapat dilakukan.
“Kurikulum yang digunakan dikembangkan utamanya dari buku ‘Islam dan Sekularisme’ karya Prof. Al-Attas. Karena bagi kami karya tersebut merupakan karya yang mengandung pokok-pokok penting yang harus ditanamkan untuk membentuk pola pikir seorang muslim,” kata Usep. Menurutnya, pembinaan mencetak ilmuan dimulai dengan membentuk pola pikir Islam yang benar.
Sebut saja, mahasiswa Fisika yang dengan ilmunya suatu saat diharapkan menjadi Ulama besar yang juga faham agama, tak hanya fiskanya saja. Seorang mahasiswa Kimia yang kelak menjadi ilmuan muslim kimia. Juga seorang mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjad ekonom besar. Tak hanya ahli bidang tertentu saja, tetapi ahli dalam hal agama.
“Karena itu bagi kami, hal yang paling penting untuk dilakukan untuk membentuk insan yang baik adalah memperbaiki cara berfikirnya dan cara pandanganya, termasuk masalah cara pandang terhadap ilmu dan pendidikan. Perbaikan ini dilakukan melalui pendidikan dan penanaman konsep-konsep penting tentang ilmu, Tuhan, agama, pendidikan, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain,” tegas Usep.
Walhasil, gerakan PIMPIN ini difokuskan kepada para pendidik. Tak lain ialah guru, mahasiswa, dosen, dan institusi-institusi pendidikan. Dari sanalah, diciptakan ilmuwan-ilmuwan muslim, seperti halnya zaman kegemilangan Islam. Bahwa pernah ada, seorang saintis yang juga Ulama. Seorang ilmuwan besar, tetapi juga ia seorang Ulama. Karena, hubungan Islam dan ilmu-lmu lainnya adalah saling mendukung.
“Dalam Islam, sains, dan ilmu lainnya ditempatkan dalam tempatnya yang wajar sesuai proporsinya, sesuai wilayahnya. Namun alqur’an dan al-Hadith merupakan sumber ilmu tertinggi yang juga diakui,” ugkapnya. Dengan bimbingan wahyu dan juga keahlian masing-masing, para pendidik berkumpul di PIMPIN Bandung.
Mahasiswa-mahasiswa dengang getol mempelajari Islam tetapi juga sains. Mempelajari politik, tetapi mepelajari juga bahasa arab. Semuanya saling mendukung. Kajian-kajian yang dilakukan PIMPIN di Kampus-Kampus agar semata-mata, para mahasiswa yang kelak menjadi pendidik dan praktis mampu membawa nilai Islam dalam setiap aktivitasnya.

“Melalui pendidikan seperti ini, dengan pertolongan Allah subhanahu wa Ta’ala, kita tidak akan terlampau khawatir meninggalkan generasi yang lemah dan ringkih; kita akan berani meninggalkan generasi penerus kita karena telah mewariskan kepada mereka sesuatu yang akan melindungi mereka di dunia dan akhirat,” Pungkas Usep. Aaminn. Kita doakan bersama-sama.
[rizkilesus]

Pimpin Bandung on Media :)

PIMPIN  (Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan) Bandung

Ikhtiar Mencetak Ulama-Ilmuwan Muslim 

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan.

Suatu hari, seorang pemuda cerdas berkelana. Hanya ilmu yang ia inginkan. Dengan penuh semangat, ia belajar kepada puluhan guru. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi peneliti bidang astronomi. Dengan fasih ia menerangkan garis bujur dan Lintang kepada masyrakat. Tak lama berselang, usia 22 tahunia membuat sebuah proyeksi peta, kartografi. Sebuah sumbangsih besar untuk peradaban modern. Usia 27 tahun menyempurnakan dalam sebuah buku “Kronologi’. Setelah itu, ia terus berkarya memberikan sumbangih bagi umat. Ialah Al Biruni.

Al Biruni ialah seorang Ilmuwan besar Islam. Tak hanya masalah astronomi ia kuasai. Buku-bukunya tentang matematika, kedokteran, sejarah,sastra, dan lainnya ia kuasai. Orang-orang seperti Al Biruni ini tidak sendiri. Masih ada ratusan ilmuan yang juga ulama pada zamannya. Ada Al Kindi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al Farabi, Ibn Khaldun, dan masih banyak lainnya. 

Berabad-abad kemudian di Bandung, tahun 2009, lahirlah Institut Pemikiran dan Pembinaan Insan (PIMPIN), sebuah wadah komunitas yang bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan Peradaban Islam di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Prof. Wahn Mohd Daud, seorang intelektual muslim  abad ini, turut hadir mendeklarasikan PIMPIN, selain para Pembina: Dr. Khalif Muammar, Dr. Adian Husaini (Ketua Program Studi Pemikiran Islam UIKA, Bogor,  Adnin Armas, MA (Direktur Eksekutif INSIST), dan lainnya. 
Selanjutnya, PIMPIN terus bergerak, menggelar megaproyek membentuk embrio-embrio  Ilmuwan Muslim. Pelbagai training, dan workshop mulai digalakan dari kampus ke kampus seperti ITB, UI, Unikom, Unpad, ST Telkom, dan kampus-kampus lainnya. 

“ Kami ingin menghimpun para ilmuwan untuk mengemban misi nabawi, yaitu misi tahriri-tanwiri-islahi (pembebasan-pencerahan-perbaikan). Kami berhasrat menggabungkan kekuatan para ilmuwan, dari berbagai bidang kepakaran, yang memiliki kerangka pemikiran dan worldview Islami yang jelas dan kukuh. Dengan harapan dapat memberi sumbangsih serta mewarnai pembinaan bangsa agar tampil sebagai bangsa mandiri, dan unggul yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Usep Mohamad Ishaq, aktivis Institut Pemikiran Islam dan Pembinaan Insan (PIMPIN) kepada Alhikmah medio Desember 2012 lalu.

PIMPIN berusaha membangkitkan kembali para Ilmuan muslim yang tangguh, siap menghadapi tantangan zaman melalui gerakan keilmuan. “Belajar dari sejarah peradaban besar dunia, khususnya peradaban Islam yang gemilang, maka dalam pandangan kami gerakan pencerahan dan keilmuan yang intensif merupakan kunci terjadinya perubahan dan kebangkitan (nahdah) sebuah masyarakat.” 
Oleh karena itu, Usep menambahkan, berbekal bimbingan Alquran dan penelitian yang mendalam terhadap sejarah peradaban manusia, kami menyadari bahwa menyelamatkan dan membangun kembali bangsa ini perlu dimulai dengan gerakan keilmuan yang intensif, dipelopori oleh golongan ilmuwan otoritatif dan kompeten. Tujuannya tentu untuk mengkaji dan memberikan solusi bagaimana dan pada bagian mana perbaikan (islah) hakiki dan komprehensif dalam tubuh umat dapat dilakukan. 
“Kurikulum yang digunakan dikembangkan utamanya dari buku ‘Islam dan Sekularisme’ karya Prof. Al-Attas. Karena bagi kami karya tersebut merupakan karya yang mengandung pokok-pokok penting yang harus ditanamkan untuk membentuk pola pikir seorang muslim,” kata Usep. Menurutnya, pembinaan mencetak ilmuan dimulai dengan membentuk pola pikir Islam yang benar. 
Sebut saja, mahasiswa Fisika yang dengan ilmunya suatu saat diharapkan menjadi Ulama besar yang juga faham agama, tak hanya fiskanya saja. Seorang mahasiswa Kimia yang kelak menjadi ilmuan muslim kimia. Juga seorang mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjad ekonom besar. Tak hanya ahli bidang tertentu saja, tetapi ahli dalam hal agama.
“Karena itu bagi kami, hal yang paling penting untuk dilakukan untuk membentuk insan yang baik adalah memperbaiki cara berfikirnya dan cara pandanganya, termasuk masalah cara pandang terhadap ilmu dan pendidikan. Perbaikan ini dilakukan melalui pendidikan dan penanaman konsep-konsep penting tentang ilmu, Tuhan, agama, pendidikan, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain,” tegas Usep.
Walhasil, gerakan PIMPIN ini difokuskan kepada para pendidik. Tak lain ialah guru, mahasiswa, dosen, dan institusi-institusi pendidikan. Dari sanalah, diciptakan ilmuwan-ilmuwan muslim, seperti halnya zaman kegemilangan Islam. Bahwa pernah ada, seorang saintis yang juga Ulama. Seorang ilmuwan besar, tetapi juga ia seorang Ulama. Karena, hubungan Islam dan ilmu-lmu lainnya adalah saling mendukung.
“Dalam Islam, sains, dan ilmu lainnya ditempatkan dalam tempatnya yang wajar sesuai proporsinya, sesuai wilayahnya. Namun alqur’an dan al-Hadith merupakan sumber ilmu tertinggi yang juga diakui,” ugkapnya. Dengan bimbingan wahyu dan juga keahlian masing-masing, para pendidik berkumpul di PIMPIN Bandung.
Mahasiswa-mahasiswa dengang getol mempelajari Islam tetapi juga sains. Mempelajari politik, tetapi mepelajari juga bahasa arab. Semuanya saling mendukung. Kajian-kajian yang dilakukan PIMPIN di Kampus-Kampus agar semata-mata, para mahasiswa yang kelak menjadi pendidik dan praktis mampu membawa nilai Islam dalam setiap aktivitasnya.

“Melalui pendidikan seperti ini, dengan pertolongan Allah subhanahu wa Ta’ala, kita tidak akan terlampau khawatir meninggalkan generasi yang lemah dan ringkih; kita akan berani meninggalkan generasi penerus kita karena telah mewariskan kepada mereka sesuatu yang akan melindungi mereka di dunia dan akhirat,” Pungkas Usep. Aaminn. Kita doakan bersama-sama.
[rizkilesus]
Advertisements

Kehadiran “Kembali” Figur seorang Abi

13/09/2012

Kehadiran “kembali” sesosok Abi (Ayah), setiap kali saya menggali informasi mengenai beliau, sifat, pikiran dan perilaku beliau seringkali membuat saya terkagum .. Semuanya mencerminkan bahwa beliau merupakan orang yang shalih, tidak pernah saya bayangkan bagaimana dan seperti apa beliau di zaman “muda”nya dulu. Sejauh ini saya ti8dak pernah jemu untuk belajar “membersamainya”, secara fisik mungkin majelis belajar kita sudah selesai, dan ilmu ini juga belum matang untuk saya kuasai, namun saya seringkali belajar dari beliau tanpa harus kontak fisik. Seperti hal umumnya saat ini, media internet saya jadikan media pembalajaran.

Sekali-kali saya pelajari tulisan-tulisan yang sempat beliau catet di note atau catatan ilmu elektronik, seringkali membuat hati ini tergetar. Lumaya sering pula getaran hati ini diiringi tetesan air mata karena isinya telah mengingatkan kembali diri ini untuk lebih membuka mata dan hati. Sesaat di sela di serbu kesibukan aktifitas kuliah dan tugas2 yg super numpuk di kampus ganesha, tidak mengurangi porsi konsentrasi saya untuk mengambil hikmah ilmu dari beliau. Teringat di saat dikejar deadline tugas, saya lihat email ada notifikasi bahwa blog beliau meluncurkan tulisan hikmah yang baru, dengan hitungan waktu beberapa detik saja saya langsung klik untuk melihatnya, kadang haru, bahagai, senyum, semangat menyelimuti jiwa ini. Mungkin inikah yang dinamakan sentuhan jiwa itu? Allah mengarahkan pesan-pesan hikmah itu hanya dikemas dengan tulisan. Entahlah. . Sampai saat ini taujih beliau di komunitas online senantiasa saya nantikan, hmm bahagia rasanya!!

                Bersyukur kepada Allah yang telah menghadirkan kembali sesosok Abi yang bisa saya jadikan figur untuk bergerak di dunia ini. Orang-orang seringkali memanggil beliau dengan panggilan Ustadz, karena beliau memang guru kami. Tapi saya lebih nyaman memanggil beliau dgn sebutan Bapak , pernah juga manggil Abi. Karena memang saya sudah jauh lama sekali tidak menjumpai sesosok Abi. Tepatnya sudah 13tahun saya hidup tanpa didampingi seorang Abi. Ketika Allah menakdirkan menjumpakan saya dengan beliau serasa menemukan sosok seorang Ayah kembali. Guruku à Abiku !!

Abi, Uhibbukum fillah

Semoga Allah menambahkan keberkahan dalam kehidupan keluarga kita, amiin

Abiiiii, doakan, semoga saya bisa menjadi Kakak yang baik bagi adik-adik nanti!

Dalam Hening Malam

Menjelang Sahur bersama rekan2 kost! 

Bayang Cita-Ku

CitaKu!

Tepat pada 09092012, bayangan citaKu hadir menghampiri diri ini, ia datang tanpa dugaan sebelumnya. Lepas shalat maghrib bayangan itu hadir, mengalir begitu indah menandingi indahnya aliran mata air yang mengaliri aliran kehidupan di danau embun. Dalam benak hati ini, saya masih menganggap ia sebagai sahabat yg senantiasa saya rindukan kehadirannya! CitaKu bukan cita-cita biasa, Cita yg semua orang targetkan semasa kehidupannya. Hal yg membuat berbeda kehadirannya kali ini ia semakin menampakkan diri dalam bentuk bayangan cinta bayangan cita yang indah, paparannya begitu jelas. Menyejukkan pandangan hati terlebih pandangan mata secara dzahir.

Dalam citraannya,citaKu bercerita. Dia akan menghampiri ketika diri saya ini benar-benar sudah mafhum dalam penguasaan ilmu. Posisi saya disana adalah sebagai seorang guru, mentor dan sahabat murid-murid di sebuah pesantren/ sekolah madani. Yg tergambarkan pada lintasan tubuh citaku, dipaparkan keadaan lingkungan sekitar yang dipenuhi dengan rasa cinta. Murid-murid taat dan cinta pada guru. Terlebih guru-guru sangat mencintai murid-murid, mereka para guru sangat mengingini keselamatan akhlak bagi murid-murid. Tanda-tanda keikhlasan tampak jelas dari setiap sikap dan tingkah mereka dalam berinteraksi. Disana saya sangat menikmati suasana. Segerombol anak-anak hanyut dalam canda, riang belajar di tajug di pipir pondok, tepatnya di sebuah Taman yang biasa saya gunakan untuk menyendiri membersamau sahabat saya si ganteng Al Qur’anul Kariim. Tidak ada lagi rasa canggung dari anak-anak kepada saya, begitu pun saya. Hubungan kami tak ubahnya seperti hubungan serang ayah dengan puluhan anak yg ada di belakang taman itu. Tanpa menghilangkan adab tatakrama antara guru dan murid, kami berintearksi untuk mendiskusikan materi yang masih belum anak-anak mengerti.

Majelis Ilmu

Hari-hari yang menyertai masa ajal pun saya lalui dengan warna-warna sejuta pelangi yang dihiasi kasih sayang diantara semua civitas. Sepanjang tinggal di Pondok madani itu, tidak pernah ditemukan cerita-cerita yang memperkeruh suasana. Anak-anak menikmati masa belajarnya dengan penuh Khidmat. Siswa yang paling besar bertingkah layaknya seperti kakak, murid baru yang baru masuk mereka asuh dan diaping dengan ketulusan. Semua ini berlangsung secara alami, regulasi tak menjadi hambatan. Ikatan kasih sayang tidak hanya dilepaskan semasa tinggal di pondok saja, siswa alumni pun memiliki jadwal khusus untuk bersilaturahim, saling berbagi pengalaman, berbagi hikmah kepada adik-adiknya. Begitupun adik-adik, mereka menerima kedatangan kakak-kakaknya dengan legowo. Mereka dipersilakan untuk masuk dan bermain-main di sepanjang lingkungan pondok, dijamunya mereka dengan bungkusan makanan-makanan, kado, hadiah yang mereka miliki. Atmosfir saling berbagi dan memberi sangat dirasakan hati ini.

Guru-guru? Bagaimana dengan kondisi keilmuan para guru? .. para guru yang mengajar anak-anak adalah sekolompok pejuang  Allah (Jundullah), mereka senantiasa kompakan untuk mendidik dan membentuk akhlak anak-anak menjadi lebih mulia di hadapan Allah. Cinta kasih para guru akan ilmu sangatlah tinggi, walau sudah memiliki gelar doktor, mereka masih saja mensibukkan dirinya untuk memperdalam ilmu, mengajarkannya dengan ikhlas, dan mentransfer ilmu diantara sesama guru. Kulihat banyak guru-guru yang sedang dalam keadaan luang mengisi luang waktunya untuk bercengkrama dengan Al Qur’an, dengan kitab-kitab tulisan Ulama shalih, mereka mengisi juga tempat duduk-duduk majelis ilmu membersamai anak-anak. Tidak ada rasa gengsi untuk belajar “kembali” bersama anak-anak. Justru dgn membersamai mereka para guru belajar dan sangat memehami apa yang perlu ditekankan selama mengajar anak-anak di kelas Aaaah semuanya berjalan mengalir seperti aliran mata air embun dari gunung Jannahnya Allah. Sangaat indah, merasa bersyukur ketika di temukan dengan citaKu yang indah ini. Entah kapan ia hadir menghampiriku?

Bayangannya memang bertambah semain jelas, apa mungkin karena saya terlalu merindukannya?.. entahlah .. dengan ini, ku Azzamkan kembali di balik hati ini untuk memantaskan diri berada di lingkungan seperti yang citaKu paparkan di sepanjang bayang maghrib itu.

                Semakin tersanjung hati ini, ketika bayangan itu memperlihatkan “guru hati” saya berkunjung ke gubuk saya di samping pondok. Bahagia tak terkira mengisi kekosongan relung hati. Kehadirannya disertai dengan tangis bahagia, karena pun Guru bersedia untuk menziarahi muridnya ini. Kehadiran beliau saya terima apa adanya, sama halnya ketika saya menerima orang tua murid yang akan menitipkan anak-anaknya menjadi anak Saya. Ya,memang saya perlakukan sama, hal ini saya lakukan karena saya ingin menghormati beliau. Beliau selalu bahagia disaat kehadirannya diperlakukan seperti orang biasa. Dalam ingatan mungin pernah suatu waktu kehadiran beliau saya terima dengan istimewa. Di akhir pertemuan, beliau memberikan pepatahnya untuk menerimanya dengan apa adanya. Ya memang ada penggalan kata hikmah yg pernah saya terima, lupa apakah itu hadits atau ucapan sahabat/ Ulama shalih, dimana isinya “Barang siapa merasa bangga dan senang ketika kahidarannya disambut dengan berdiri, maka tempat duduk/ istirahatnya adalah neraka” .. Ya, pepatah ini senantiasa melekat dalam ingatanku. Hingga pada akhirnya pun Guru ziarah ke pondok kami. Rasa bahagia benar-benar tak tertahankan! Ku cium tangan beliau dengan khidmat ku peluk dengan rasa cinta, sepanjang waktu kunjungan itu saya benar-benar menginvest waktu saya untuk pun Guru, hingga akhirnya beliau pamt untuk pulang. Lagi-lagi di sampingnya saya tak ubahnya seperti anak kecil, seperti murid-murid saya yg saya ajar di pondok, benar-benar tak jauh beda. Anak-anak saya menyaksikan tingkah saya itu mungkin ikut haru, ikut bahagia .. ini kulihat dari isyarat wajah mereka yg menampakkan wajah senyum.

Muhasabah Maghrib

@Ruang Makan `~ Garut

 

 

 

Beasiswa Al-Azhar Mesir 2012

SELEKSI BEASISWA DAN NON BEASISWA PROGRAM S1
UNIV. AFRIKA INTERNASIONAL SUDAN DAN UNIV. AL-AZHAR MESIR
TAHUN AKADEMIK 2012-2013

A. Latar Belakang

  1. Sebagai tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Sudan, Universitas Afrika Internasional Khartoum akan memberikan beasiswa kepada putera-puteri Indonesia untuk bidang studi pada Fak. Syari’ah, Fak. Tarbiyah dan Adab, Fak. Ekonomi, Dipl. Tarbiyah, Fakultas Teknik dan Fak. Kedokteran.
  2. Untuk mengantisipasi meningkatnya minat calon mahasiswa Indonesia ke Mesir yang tidak dibarengi dengan kualitas memadai, Kemenag akan melakukan penyeleksian dengan menguji kemampuan akademik, hafalan/bacaan Al-Qur’an dan bahasa Arab, baik untuk program beasiswa maupun non beasiswa sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan oleh Universitas Al-Azhar Mesir.

B. Tujuan

  1. Menyaring para lulusan Madrasah Aliyah/sederajat yang potensial dan mempunyai bakat dan minat yang kuat dalam pengembangan keilmuan dan penguasaan bahasa Arab untuk mengikuti studi lanjut di negara-negara Arab atau Timur Tengah.
  2. Mempersiapkan generasi terbaik dalam bidang ilmu ke-Islaman dan bahasa Arab dalam rangka melahirkan calon ilmuwan yang mumpuni dan memilih kapasitas keilmuan memadai.

C. Persyaratan dan Ketentuan Mengikuti Seleksi

  1. Warga Negara RI yang beragama Islam.
  2. Mengisi formulir pendaftaran online melalui website : klik
  3. Pas photo berwarna ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar
  4. Melampirkan foto copy ijazah madrasah aliyah/pondok pesantren/sederajat yang telah dilegalisir Kementerian Agama setempat dengan ketentuan sebagai berikut:
    1. Usia ijazah tidak lebih dari 2 (dua) tahun.
    2. Bagi yang belum memiliki ijazah (STTB), harus melampirkan surat keterangan lulus dari sekolah.
  5. Bagi pendaftar beasiswa ke Sudan harus menyerahkan ijazah dan akte kelahiran yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
  6. Semua persyaratan diserahkan dalam 2 rangkap.
  7. Pendaftar diperbolehkan mendaftar ke Sudan maupun Mesir.
  8. Semua persyaratan di atas diserahkan sehari sebelum seleksi ke lokasi ujian yang dipilih.

D. Waktu Pendaftaran dan Tempat Pelaksanaan Ujian

1. Sudan

  1. Pendaftaran online melalui website : www(dot)ditpertais(dot)net, tanggal 17 April 2012 s.d. 4 Mei2012
  2. Waktu Pelaksanaan seleksi Sabtu, 12 Mei 2012 diatur sebagai berikut:
    1. Tulis: 09.00 – 11.00 WIB | 10.00 – 12.00 WITA
    2. Lisan: 12.00 WIB – selesai | 13.00 WITA – selesai
  3. Lokasi Ujian
    1. Kementerian Agama RI Jakarta (Jl. Lapangan Banteng Barat No.3-4 Jakarta)
    2. UIN Sulthan Syarif Kasim Riau Pekanbaru (Jl. H.R.Soebrantas No.155 KM 18 Simpang Baru Panam,Pekanbaru)
    3. IAIN Sunan Ampel Surabaya (Jl. Jend. A. Yani No.117 Tromol Surabaya)
    4. UIN Ala’uddin Makassar (Jl. Sultan Alauddin No. 36, Samata Gowa Sulsel)

2. Mesir

  1. Pendaftaran online melalui website : www(dot)ditpertais(dot)net, tanggal 30 April 2012 s.d. 23 Mei 2012
  2. Waktu Pelaksanaan seleksi Kamis, 31 Mei 2012 diatur sebagai berikut :
    1. Tulis: 09.00 – 11.00 WIB | 10.00 – 12.00 WITA
    2. Lisan: 12.00 WIB – selesai | 13.00 WITA – selesai
  3. Lokasi Ujian
    1. Kementerian Agama RI Jakarta (Jl. Lapangan Banteng Barat No.3-4 Jakarta)
    2. IAIN Sumatera Utara Medan (Jl. Willieem Iskandar Pasar V Medan Estate Medan)
    3. Kantor Wilayah Kementerian Agama Jambi (Jl. Jend. A. Yani No. 13 Telanaipura Jambi)
    4. IAIN Sunan Ampel Surabaya (Jl. Jend. A. Yani No.117 Tromol Surabaya)
    5. UIN Ala’uddin Makassar (Jl. Sultan Alauddin No. 36, Samata Gowa Sulsel)
    6. IAIN Antasari Banjarmasin (Jl. A. Yani Km.4,5 Banjarmasin)

E. Materi Ujian

  1. Ujian Tulis (menggunakan bahasa Arab) meliputi : bahasa Arab (memahami teks, tata bahasa dan insya’) dan Pengetahuan Agama Islam.
  2. Ujian Lisan (menggunakan bahasa Arab) meliputi : bahasa Arab (percakapan, terjemah dan pemahaman teks) dan hafalan/bacaan Al-Qur’an minimal 2 juz;
  3. Bagi pendaftar yang memilih bidang studi umum ke Sudan akan mengikuti materi ujian berbahasa Inggris.

F. Hasil Seleksi

  1. Hasil seleksi beasiswa dan non beasiswa ke Mesir akan diumumkan oleh Kementerian Agama tanggal 7 Juni 2012 melalui website : www(dot)ditpertais(dot)net, sedangkan hasil seleksi untuk beasiswa ke Sudan diumumkan satu atau dua bulan setelah diadakannya seleksi karena kelulusannya ditentukan langsung oleh pihak Univ. Afrika Internasional Khartoum Sudan.
  2. Peserta seleksi beasiswa dan non beasiswa ke Mesir yang dinyatakan lulus akan mengikuti seleksi tahap kedua di Jakarta. Pengujinya langsung dari Universitas Al-Azhar Mesir. Adapun waktu dan tempat ujian akan diumumkan lebih lanjut.

G. Tim Pelaksana Seleksi

  1. Tim pelaksana Pusat dibentuk dan ditunjuk oleh Dirjen Pendidikan Islam.
  2. Tim pelaksana Daerah dibentuk dan ditunjuk oleh Rektor UIN/IAIN/Ketua STAIN bersangkutan.
  3. Tim Penguji beasiswa ke Sudan ditunjuk langsung oleh Kedutaan Besar Sudan Jakarta.
  4. Tim Penguji baik tulis maupun lisan non beasiswa ke Mesir ditunjuk oleh Dirjen Pendidikan Islam dan keputusan tim penguji tidak dapat diganggu gugat.
  5. Tim Penguji tahap kedua ke Mesir ditunjuk langsung oleh Rektor Universitas Al-Azhar Mesir.

For more information, please visit official website: klik

sumber : klik

juga http://hamzanmusthofa.wordpress.com/2012/04/19/beasiswa-al-azha/